GTPP Dibubarkan, Jabar Tetap Jalankan Skema yang Sama Tangani Penyebaran Covid-19

GTPP Dibubarkan, Jabar Tetap Jalankan Skema yang Sama Tangani Penyebaran Covid-19
net

INILAH, Bandung - Presiden Joko Widodo membubarkan Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan (GTPP) Covid-19. Sebagai gantinya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 berada di bawah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. 

Juru Bicara GTPP Covid-19 Jawa Barat Daud Achmad mengatakan, kendati GTPP nasional dibubarkan namun pihaknya akan tetap berupaya penuh menghentikan penyebaran Covid-19 di Jabar. Artinya, masih akan terus melanjutkan skema yang telah dirancang hingga Satgas Pusat dan Daerah penanganan Corona dibentuk.

"Masih bertugas sampai dengan terbentuknya organisasi dan personalia di Satgas Pusat dan Daerah," kata Daud, Selasa (21/7/2020).

Diketahui, angka reproduksi (Rt) Covid-19 di Jabar memang sempat terjadi lonjakan pada awal Juli 2020, namun saat ini cenderung dapat terkendali. Di mana Rt Covid-19 di Jawa Barat kembali turun ke angka 0,75 dari angka 1,6. Adapun lonjakan itu didapat, setelah ditemukannya klaster baru di sekolah militer di Bandung Raya.

Daud mengatakan, pihaknya saat ini sedang  memastikan mekanisme kerja dari Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. 

"Sesuai dengan amanat Perpres akan dibentuk Satgas Penanganan Covid 19 Daerah, sesuai dengan pertimbangan dan rekomendasi Satgas Penanganan Covid 19 Pusat/Nasional," kata dia.

Sementara itu, Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar Setiawan Wangsaatmaja mengatakan, Jabar berada di peringkat 25 secara nasional untuk indeks kasus terkonfirmasi positif dihitung dari populasi. Dia memaparkan, angka reproduksi kasus COVID-19 terhadap waktu (Rt) Covid-19 per 16 Juli 2020 berada di angka 0,75. 

"Setiap 1 juta populasi penduduk Jawa Barat terdapat kurang lebih 111 kasus positif Covid-19,” kata Setiawan. 

Setiawan menyatakan, tingkat keterisian ruang perawatan COVID-19 di rumah sakit rujukan terus berkurang. Pada 11 Juli 2020, dia mengatakan ada di angka 29,38 persen namun pada 18 Juli 2020 menjadi 27,35 persen. Sedangkan di IGD dan ICU juga relatif rendah yaitu IGD hanya 4,3 persen dari ketersediaan 437 dan ICU terisi hanya 15,7 persen dari ketersediaan 241.

“Dan WHO mengatakan bahwa ketersediaan ruang isolasi ini harus di bawah 60 persen. Jadi, kami di Jawa Barat melihat masih di bawah jauh dari standar WHO tersebut,” tambahnya. (Rianto Nurdiansyah)