Sikap Kami: Satgas 'Tahu Bulat'

Sikap Kami: Satgas 'Tahu Bulat'

ENTAH kenapa, pemerintah selalu dan selalu saja membuat keputusan-keputusan mengejutkan. Apakah karena situasinya darurat? Kalaupun darurat, bukankah keputusan apapun harus disinyalkan kepada daerah karena semuanya berkaitan dengan daerah.

Tiba-tiba, misalnya, Senin (20/7) lalu keluar Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Gugus Tugas Penanganan Covid-19, kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, tak dibubarkan. Tapi, faktanya dalam struktur, berada di bawah Komite, yang ketua hariannya ditempati Erick Tohir.

Banyak kilah dari pemerintah terkait hal ini. Tapi, kita memandang bahwa keputusan pemerintah ini seolah-olah penanganan sektor kesehatan tertandingi. Padahal, inilah inti persoalan yang saat ini kita hadapi yang kemudian juga menyeret persoalan ekonomi dan sosial lainnya.

Tengok pulalah, mulai kemarin, karena namanya berubah, sebagian orang terlibat teknis penanganan Covid-19 pun berubah. Misalnya, yang berbicara di depan publik bukan lagi Achmad Yurianto, juru bicara Gugus Tugas. Tapi, Wiku Adisasmito, juru bicara Satgas.

Perubahan-perubahan ini, kita tangkap kesannya, seakan-akan kita “sudah berdamai” dengan virus. Kita yang mau berdamai, virus tidak. Begitu faktanya. Lihatlah, angka penambahan pasien positif kini selalu saja di atas angka 1.000 setiap harinya.

Tidak hanya itu, keputusan ini juga memunculkan kebingungan di sejumlah daerah. Ketika mereka sedang berjibaku melawan corona, tiba-tiba ada saja kerikil yang mengganjal. Sebab, sebelum keputusan itu keluar, rasanya sangat miskin –kalau tak mau dikatakan nol sama sekali—sosialisasi dari pemerintah.

Bagaimana mungkin kita bisa konsentrasi penuh melawan corona jika keputusan-keputusan yang diambil membuat pelaksana di bawah terantuk-antuk langkahnya. Tak mungkin kita bertarung dengan kekuatan 100% melawan, setidaknya saat keputusan baru itu muncul.

Kita menyesalkan langkah-langkah yang diambil tiba-tiba ini. Dadakan, seperti tahu bulat yang dijual murah di atas mobil bak terbuka itu. Datang, berteriak, pergi, begitu setiap hari. Selalu berganti. Padahal, persoalan yang kita hadapi terhadap virus corona ini, tidaklah senyaman tahu bulat. Dia persoalan yang telah merenggut 4.320 saudara kita, memapar 89.869 orang kerabat dan keluarga kita, dan baru 48.466 yang berhasil disembuhkan. (*)