(Sikap Kami) Jabar Juara (Penanganan) Covid

(Sikap Kami) Jabar Juara (Penanganan) Covid
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Istimewa)

DALAM dua hari ini, seperti berlomba lembaga survei mengeluarkan hasil telisik mereka. Kita catat, sedikitnya ada tiga lembaga. Rata-rata soal peluang calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang.

Buat kita, itu tidaklah penting. Bahkan rasanya tidak elok. Masa di tengah situasi darurat nonalam seperti pandemi Covid-19, kita masih bicara soal elektabilitas. Terlebih, Presiden Joko Widodo baru akan berakhir masa jabatannya empat tahun lagi. Menghitung elektabilitas tokoh saat ini ibarat mimpi di siang bolong saja.

Tapi, ada yang menarik dari lansiran survei hari ini. Charta Politika melansir survei pimpinan daerah yang dianggap sukses menangani Covid-19. Dan, nama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berada di posisi teratas.

Bukan karena Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat kita sepakat dengan hasil survei itu. Tentu, penempatan Emil di posisi teratas juga bukan karena Charta Politika pernah ditulangpunggungi Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor yang juga kawan Emil.

Sejak awal, kita sudah berpendapat, penanganan Covid-19 di Jawa Barat, lebih baik dibanding daerah lain. Salah satu indikasinya adalah angka terpapar virus corona yang relatif landai. Tiga hari lalu, bahkan ada di angka 27 orang, angka terendah dalam enam pekan terakhir.

Betul, kita sempat terperangah ketika ribuan warga Secapa AD dan Pusdikpom positif Covid-19. Tapi, keduanya berada di lingkup yang eksklusif. Lagi pula, belakangan ternyata sebagian besar dinyatakan sembuh.

Kenapa Jabar bisa berhasil? Salah satunya karena penanganan yang betul-betul terpadu. Seluruh pemangku kepentingan dilibatkan. Tidak hanya Pemprov Jabar, tapi juga TNI, Polri, dan yang tak kalah pentingnya akademisi serta ahli kesehatan.

Tak hanya itu, sepanjang masa wabah, kita melihat harmonisasi yang begitu kuat di antara kepala daerah di Jawa Barat. Mereka berada dalam satu komando. Tak pernah ada ketegangan seperti di daerah-daerah lain.

Seluruh komponen yang terlibat itu, bersatu dalam sebuah “sistem” yang disebut Pikobar. “Sistem” inilah yang menyatukan seluruh langkah penanganan virus. Kuat berada dalam satu alur.

Virus, karena masih dalam tingkatan wabah, tentu dinamis, naik-turun. Kini, tingkat reproduksinya yang sempat mencapai 1,6, berhasil diturunkan kembali menjadi 0,75. Angka penambahan 32 pasien positif pada Rabu, sejalan dengan itu.

Kini, Jabar berada di peringkat kelima kasus terbanyak. Baru di angka 5.741. Sepertiga dibanding Jawa Timur dan DKI. Tidaklah mungkin kasusnya sedikit di tengah jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, jika penanganan Covid-19 tidak jempolan di Jawa Barat. (*)