Coklat Kita Suguhkan Pojok NJP Ngubaran, Sebagai Solusi Bagi Seniman Ditengah Pandemi Covid-19

Coklat Kita Suguhkan Pojok NJP Ngubaran, Sebagai Solusi Bagi Seniman Ditengah Pandemi Covid-19
Foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air berdampak pada semua jenis profesi, tidak terkecuali seniman. Mereka terpaksa gagal manggung akibat adanya pembatasan kegiatan yang mengundang banyak massa.

Menyiasati hal tersebut, Coklat Kita Napak Jagat Pasundan (NJP) yang selama ini fokus pada pelestarian seni dan budaya tatar pasundan sejak tahun 2003, membuat sebuah program digital baru melalui media sosial IGTV, Youtube Channel.

Program digital yang dinamai "Coklat Kita Pojok NJP Ngubaran (ngaguar budaya urang)" ini ditunjukan untuk menjadi panggung kreatifitas bagi para seniman budaya sunda agar tetap bisa tampil melalui pentas secara daring atau virtual. Selain, pentas virtual, program tersebut juga menyisipkan acara talk show yang mendatangkan narasumber ternama, khusunya dalam bidang seni dan budaya.

Perwakilan Coklat Kita Tries Pondang mengatakan, program digital Pojok NJP Ngubaran merupakan sebuah upaya dari pihaknya dalam menciptakan ruang kreativitas bagi seniman di tengah pandemi Covid-19.

"Coklat kita itu merupakan suatu wadah offline dan online para seniman, dan inilah salah satu contoh online yang kita jalankan di tahun ini dalam kondisi pandemi Covid-19. Artinya coklat kita tidak pernah habis kreatifitasnya," ucap Tries di studio Coklat Kita NJP Ngubaran, Bojongkoneng, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Rabu (22/7/2020).

Rencananya, lanjut Tries, program tersebut akan terus berjalan hingga akhir Desember 2020. Program Coklat Kita NJP Ngubaran dapat dinikmati di platform media sosial seperti IGTV dan Youtube Channel Napak Jagat Pasundan.

"Kegiatan ini sebenernya sudah berjalan dari bulan mei, rencananya ini akan terus berlangsung hingga bulan desember. Jadi kita berbicara budaya bukan berarti hanya stop di offline saja, kita bisa memanfaatkan media sosial ada IG, Youtube dan juga Facebook," ungkap Tries.

Rencananya, dalam setiap episode Coklat Kita NJP Ngubaran, Tries menyebutkan, akan ada penampilan kesenian dari satu sanggar di Jawa Barat. Selain itu, program tersebut juga menggelar talk show dari narasumber ternama untuk membahas sebuah tema budaya.

"Arah dari coklat kita tidak ingin punya eksklusif yang kita akan tetap bersilaturahmi dengan sanggar-sanggar baru. Artinya, NJP ini bukan hanya milik sanggar-sanggar tertentu. Dan ini bukan hanya pagelaran aja tapi ada edukasinya, karena setiap episode ada talkshow nya juga," tutur Tries.

Ditemui ditempat yang sama, satu diantara Duta NJP, Ega Robot mengungkapkan, program digital Pojok NJP Ngubaran berupaya untuk memutus mata rantai kesulitan bagi para seniman di Jawa Barat. Pasalnya, dalam program tersebut, para seniman diberikan ruang untuk beraktifitas meski dilakukan secara virtual.

"Kita tau kesulitan di masa pandemi ini, banyak seniman yang drop, makannya ini yang harus kita jaga, mudah-mudahan ini bisa terus memperpanjang semangat para seniman untuk terus berkegiatan yang berhubungan dengan budaya," ujar Ega.

Saat disinggung perbedaan konser virtual dengan langsung. Ega yang juga seorang seniman, mengungkapkan, tidak ada perbedaan yang signifikan sebentulnya dalam bermain seni. Namun, cara menonton dan menikmati pertunjukannya saja yang berbeda.

"Ga ada perbedaan sebenernya, karena namanya seni itu harus jujur, jadi meskipun pentas virtual tidak akan mengurangi makna dan keaslian pertunjukan seni tersebut," ungkap Ega.

Sementara itu, salah satu pengisi, Pupung Supena, menuturkan, dengan adanya program konser virtual seperti Pojok NJP Ngubaran sangat membantu para seniman yang sempat vakum akibat pandemi Covid-19.

"Alhamdulilah, bapak bisa berkreasi tahun ini kan ada Covid-19, ahli-ahli budaya jadi sulit, tapi alhamdulilah adanya njp bapak selaku orang kampung tradisi bisa manggung melalui alat media zaman sekarang," ujar Pupung dari Sanggar Seni Lugina asal Sumedang.

Pupung mengharapkan, dengan adanya pentas virtual tersebut, kesenian yang dibawakannya, yaitu kesenian Tarawangsa dapat dikenal banyak orang. Pasalnya, pentas virtual sangat memungkinkan untuk ditonton oleh banyak masyarakat dari berbagai daerah.

"Pertama kali ini, terus terang persiapan ada, khususnya gimana nih menghadapi zaman modern seperti konser virtual, sekaligus mengenalkan kesenian tarawangsa, supaya kesenian ini jangan sampai punah," Kata Pupung.

"Apalagi pakai virtual gini pasti lebih nyebar, jangankan satu desa, tapi virtual ini bisa mendunia," pungkasnya. (Ridwan Abdul Malik)