Sebaran Kasus HIV/AIDS di Garut Meluas ke 40 Kecamatan

Sebaran Kasus HIV/AIDS di Garut Meluas ke 40 Kecamatan
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Garut- Kerugian ekonomi ditanggung negara dalam penanggulangan sebanyak 760 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Garut selama enam bulan, mulai Januari hingga Juni 2020, mencapai tak kurang Rp912 juta. 

Kerugian ekonomi digelontorkan negara tersebut hanya untuk biaya pemenuhan kebutuhan menjalani terapi obat Antiretroviral (ARV) mereka yang terinfeksi HIV agar virus menjadi ngumpet atau tidur.

Kerugian negara lebih besar lagi jika dihitung dengan pembiayaan dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. 

Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Garut Denden Supresiana, anggaran bersumber APBN itu tak termasuk pemenuhan penanganan yang terinfeksi HIV TB Paru, hepatitis C, dan AIDS.

"Kalau itu masuk maka kebutuhan pembiayaannya lebih besar lagi," kata Denden, Kamis (23/7/2020).

Dia memperkirakan kerugian ekonomi ditanggung negara jauh lebih besar lagi bila dihitung dengan pembiayaan untuk kebutuhan yang sama di kabupaten/kota lainnya. 

"Jika setiap provinsi di Indonesia ada 10 kabupaten/kota penduduknya terinsfeksi HIV/AIDS maka dari 340 kabupaten/kota, kerugian ekonominya bisa mencapai sedikitnya Rp1,7 triliun. Padahal dana sebesar itu bisa digunakan membiayai sektor pembangunan lain yang lebih menyentuh kepentingan masyarakat," ujarnya.

Selain kerugian secara ekonomi, merebaknya kasus HIV/AIDS juga dipastikan menimbulkan kerugian pada bonus demografi. Hal itu karena sebagian besar terinfeksi HIV/AIDS justeru mereka yang berusia produktif.

Data PKBI Kabupaten Garut menunjukkan, hingga saat ini, total jumlah penduduk Garut terinfeksi HIV/AIDS mencapai sebanyak 760 jiwa, terdiri atas 435 kasus AIDS, dan 325 kasus HIV. Sebanyak 181 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) itu di antaranya meninggal dunia.

Terdapat penambahan lima kasus baru HIV/AIDS dalam rentang dua bulan terakhir dari sebelumnya total kasus HIV/AIDS pada Mei 2020 di Garut mencapai sebanyak 755 kasus.
Tren peningkatan temuan kasus penularan HIV/AIDS di Garut didominasi populasi kunci/faktor kalangan pelaku Seks Laki Seks (LSL) mencapai 213 kasus. Sebanyak 133 kasus di antaranya HIV dan 80 AIDS.

Dua faktor dominan lainnya berupa 188 IDU’s/Penasun maupun jarum suntik narkoba meliputi 135 terinfeksi AIDS dan 53 HIV, serta 165 pasangan resiko tinggi (resti) perempuan (97 AIDS, dan 68 HIV). 

Disusul faktor resiko HRM (pria Resti) terinsfeksi 113 (72 AIDS dan 41 HIV), pasangan resti laki-laki 34 (18 AIDS dan 16 HIV), waria terinsfeksi 24 (15 AIDS dan sembilan HIV), 16 prinatal/anak (11 AIDS dan lima HIV), tak terindentifikasi lima terinsfeksi AIDS, dan dua wanita pekerja seks (WPS) terinsfeksi AIDS.

Sebanyak 760 ODHA di Garut itu terdiri atas sebanyak 513 laki-laki (288 AIDS dan 225 HIV) dan 247 perempuan (147 AIDS dan 100 HIV). Usia mereka mulai kurang satu tahun hingga 60 tahun lebih. .

Selain terdapat penambahan jumlah kasus HIV/AIDS, sebarannya juga kini bertambah menjadi di 40 dari 42 kecamatan yang ada di Garut dari sebelumnya di 39 kecamatan pada Mei 2020. 
Kecamatan terbanyak memiliki kasus HIV/AIS yakni Kecamatan Garut Kota mencapai 223 kasus (147 AIDS dan 76 HIV), disusul di Kecamatan Tarogong Kidul mencapai 103 kasus (66 AIDS dan 37 HIV), dan Kecamatan Tarogong Kaler mencapai 52 kasus (31 AIDS dan 21 HIV).
Terus bertambahnya kasus HIV/AIDS di Garut dengan penularan didominasi faktor perilaku orientasi LSL di tengah wabah Covid-10 yang tak kunjung berakhir membuat beragam kalangan prihatin. Terlebih Kabupaten Garut dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya agamis.

Visi dan Misi Kabupaten Garut periode kedua kepemimpinan Bupati Rudy Gunawan dan Wabup Helmi Budiman 2019-2024 yakni "Mewujudkan Garut yang Bertakwa, Maju, dan Sejahtera". 
"Sepertinya, orientasi Laki Seks Laki di Garut sekarang terkesan cenderung menjadi gaya hidup. Hasil penelisikan, mereka yang berorientasi LSL ini dalam kesehariannya tampak normal. Di antara mereka juga biasa menikah, punya isteri. Ini yang memprihatinkan. Harus diwaspadai, dan semestinya menjadi perhatian semua pihak," kata D Hidayat (60) warga Kecamatan Samarang.(zainulmukhtar)