Kecamatan Bogor Timur Mulai Aktivasi Kelompok Tani

Kecamatan Bogor Timur Mulai Aktivasi Kelompok Tani
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Camat Bogor Timur Wawan Sanwani mulai mengaktivasi kelompok tani yang ada di wilayahnya. Hal ini guna membangun ketahanan dan kemandirian pangan warga di tengah pandemi Covid-19 Kota Bogor.

"Aktivasi kelompok tani pada masa pandemi Covid-19 ini selain sebagai ketahanan pangan warga untuk kebutuhan konsumsi sendiri, juga hasil pertaniannya memiliki nilai ekonomis, artinya bisa dijual ke konsumen. Hasil dari perjualannya, bisa kemudian untuk pengadaan bibit, pupuk termasuk operasional kelompok tani juga," ungkap Wawan kepada wartawan pada Minggu (26/7/2020).

Wawan melanjutkan, pihaknya mencoba membangkitkan kembali semangat ketahanan pangan di lingkungan warga dengan manfaatkan lahan-lahan tidur menjadi produktif untuk pertanian. 

"Memang tidak dipungkiri ada keterbatasan lahan, tapi kami bisa dorong bertani dengan sistem hidroponik. Sistem ini tidak harus mahal bisa memanfaatkan barang-barang bekas untuk medianya seperti botol air mineral. Dan bibit serta lainnya bisa dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)," tambahnya.

Wawan mencontohkan, seperti di wilayah Kelurahan Sukasari. Kelompok tani telah membuka lahan untuk pertanian memanfaatkan lahan milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Penggunaan lahan tersebut setelah adanya persetujuan dari pihak terkait.

"Kami sudah meminta izin dengan bersurat dan diperbolehkan menggunakan lahan oleh warga sekitar sebagai lahan pertanian. Di lahan tersebut kami menanam sayur sayuran yang memiliki masa panen singkat. Seperti kangkung, bayam, buncis, kacang panjang," terangnya.

Wawan juga berharap, betul dengan adanya pertanian itu warga akan lebih peduli atau back to nature menggunakan potensi alam yang ada di wilayahnya. Di lahan tersebut, Wawan juga berencana mengembangkan ke sektor perikanan. 

"Direncanakan juga di Sukasari, ada pengembangan budidaya lele seperti di MBR yang sudah cukup bagus terintegrasi dari mulai sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Maggot untuk pakan lele dan hasilnya dijual. Jadi selain bisa mengurangi sampah organik juga bisa memaksimalkan lahan yang ada dengan budidaya lele dan sayuran. Jadi cukup luar biasa, ini bisa jadi referensi untuk kelurahan lainnya di Bogor Timur," terangnya.

Wawan juga membeberkan, untuk mewujudkan semua itu harus dilakukan secara bertahap dan berproses. Namun, intinya ia ingin mencoba mengangkat semangat warga untuk berkebun dengan memanfaatkan lahan yang ada di masing-masing wilayahnya. 

"Setiap kelurahan itu 2 sampai 3 kelompok tani. Tapi diantara itu ada yang aktif dan tidak. Untuk itu, akan kita coba aktivasi semua yang ada, dimotivasi lagi dan digarap lagi," bebernya.

Wawan memaparkan, permasalahan yang ada sekarang ini salah satunya lahan yang digarap rata-rata bukan milik kelompok tani. Keterbatasan lahan ini tentunya berpengaruh juga terhadap produktivitas dan keberlangsungan kelompok tani itu sendiri. 

"Lahannya bisa milik perorangan atau yayasan yang dipinjamkan. Jadi ketika dipakai otomatis kelompok tani ini tidak aktif. Itu mungkin permasalahan yang sekarang menjadi kajian kita bagaimana kedepannya untuk keberlangsungan mereka," pungkasnya. (Rizki Mauludi)