BPN Baru Bayar 62 Bidang Lahan Tol Cisundawu

BPN Baru Bayar 62 Bidang Lahan Tol Cisundawu
INILAH, Soreang - Perlahan namun pasti, pembangunan Tol Cisumdawu terus mengalami pergerakan. Salah satunya pembebasan lahan di wilayah Kabupaten Bandung yang sudah terselesaikan hingga mencapai 62 bidang dari total 162 bidang.
 
Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bandung terus memproses pembebasan lahan untuk proyek pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisundawu). Dari total 162 bidang yang harus dibebaskan di Kabupaten Bandung, baru 62 bidang lahan yang telah dibayar kepada para pemiliknya.
 
"Untuk Cisundawu yang masuk wilayah Kabupaten Bandung ada 162 bidang lahan. Dari jumlah itu yang sudah dibayar 62 bidang. Selain itu ada 41 class action dan sisanya masih proses," kata Kepala BPN Kabupaten Bandung Atet Gandjar Muslihat di Soreang, Selasa (29/1/2019).
 
Menurut Atet, sebanyak 41 bidang tanah yang digugat warga ditolak pengadilan, dan tengah menunggu proses kasasi. Saat ini, pihak BPN tengah menunggu hasil gugatan tersebut. "Sekarang lagi kasasi, kita sedang menunggu itu. Apabila itu sudah selesai semua, kita akan bayar atau mungkin kalau masih proses hukum kita konsinyasi," ujarnya.
 
Proyek pembangunan Tol Cisumdawu di Kabupaten Bandung, kata Atet, hanya 40 persen saja. Yakni berada di Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi. Meski hanya 40 persen, harga tanah di Kabupaten Bandung lumayan mahal. Sementara sisa proyek pembangunan Tol Cisumdawu ini berada di Sumedang dan Cirebon (Dawuan). 
 
"Target kami secepatnya, karena ini sudah masuk Program Strategis Nasional (PSN) yang wajib hukumnya untuk dilaksanakan. Proyek ini untuk menghubungkan antara Sumedang dan Kabupaten Bandung," ujarnya.
 
Atet melanjutkan, alasan warga mengajukan class action karena tidak adanya kesepakatan harga ganti rugi tanah. Namun, untuk menentukan harga ganti rugi tanah ini, BPN telah melibatkan tim apraisal. "Karena masyarakat sudah mengajukan kasasi, kita tunggu saja kalau sudah inkrah baru kita laksanakan. Masalah harga yang menurut mereka terlalu kecil, tapi kita kan melibatkan tim apraisal. Jadi kita nunggu saja," ujarnya.
 
Kepala Desa Cileunyi Wetan, Zaki Salman Ralibi mengatakan, masyarakat menganggap harga yang diajukan tersebut tidak wajar dan di bawah harga rata-rata. Ada perbandingan harga yang jauh dengan harga yang diinginkan masyarakat setempat. 
 
"Rata-rata di situ (Cileunyi) harga pasaran itu di atas Rp 4 juta per meter. Tapi kemarin masyarakat mendapatkan ganti rugi kurang lebih Rp 1.400.000 per meter. Makanya masyarakat mengajukan class action atau gugatan baru ke pengadilan," ujarnya.
 
Menurut Zaki, masyarakat menginginkan adanya keadilan dari tim aprasial yang menilai harga tanah tersebut. Terlebih dengan percepatan pembangunan program nasional ini, warga Cileunyi Wetan berharap harga yang diajukan masyarakat bisa dikabulkan oleh pemerintah.
 
Tol Cisumdawu merupakan akses jalan bebas hambatan sepanjang 61,6 kilometer dengan terowongan sepanjang 472 meter dengan diameter 14 meter. Tol Cisumdawu diharapkan dapat menjadi solusi jarak tempuh Cileunyi-Cirebon yang lebih cepat.
 
Pembangunan Tol Cisumdawu terdiri dari enam seksi, antara lain Seksi I Cileunyi-Rancakalong, Seksi II Rancakalong-Sumedang, Seksi III Sumedang-Cimalaka, Seksi IV Cimalaka-Legok, Seksi V Legok-Ujung Jaya, dan Seksi VI Ujung Jaya-Dawuan.
 
Pembangunan Cisumdawu, dikerjakan Pemerintah yang bekerja sama dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Adapun Seksi I dan II dikerjakan oleh pemerintah, sedangkan Seksi III-VI diambil oleh BUJT.

Loading...