Edi Siswadi Bantah Pernah Menginstruksikan Penlok Lahan RTH

Edi Siswadi Bantah Pernah Menginstruksikan Penlok Lahan RTH
Foto: Bambang Prasethyo

INILAH, Bandung - Mantan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi mengakui ditemui Dadang Suganda. Namun, dia mengaku tak pernah menginstruksikan agar tanah milik Dadang dimasukan dalam penetapan lokasi (Penlok). 

Hal itu diungkapkannya saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa, Herry Nurhayat, Tomtom Dabulqomar dan Kadar Slamet, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (27//2020). 

Empat orang saksi dihadirkan di ruang sidang 1, mereka yakni Kadisdik Jabar Dedi Sopandi, mantan Sekda Edi Siswadi, Imam Bukhori, dan Aat Safaat. 

Ditanya soal sosok Dadang, Edi mengaku sudah mengenalnya sejak dia menjabat Sekda Kota Bandung. Saat itu dia ingin bersilaturahmi dan bertemu dengan Agus Slamet dan Hermawan selaku Panitia Pelaksana Kegiatan (PPK) pengadaan lahan ruang terbuka hijau (RTH). 

"Benar dia menghadap ingin membantu pengadaan lahan," tanya JPU KPK Haerudin.

"Benar karena dia banyak lahanya, makanya saya pertemukan dengam Agus dan Hermawan," kata Edisis.

Namun Edi membantah jika dirinya sampai memerintahkan Agus dan Hermawan untuk memasukan lahan milik Dadang Suganda alias Demang ke dalam Penlok yang akan dibebabaskan Pemkot Bandung. 

"Peristiwanya (pertemuan) ada saya tidak menyangkal. Namun sampai sekekstreem itu menyuruh membantu, saya tidak seperti itu. Itu bukan tipikal saya," ujarnya. 

Selama ditanya proses pembebasan lahan dan pembayaran, Edi mengaku tidak mengetahui secara detail, karena itu tekhnis di lapangan. Dirinya hanya menerima laporan setelah semua proses dianggap beres. 

Edi pun sangat menyayangkan karena setiap ada permasalahan selalu yang namanya pimpinan menjadi tumbal. Seperti masalah proses pengadaan tanah yang tidak sesuai penlok hingga berubahnya anggaran. Padahal Edi sudah meminta agar itu diselesaikan.

"Tapi kan Penlok itu keluar setelah ada pertemuan," Haerudin kembali bertanya.

"Hanya karena ada tamu, ada masalah, lantas minta diselesaikam, dianggap itu permintaan. Alkhirnya kata istilah Sunda neumbleukeun (melimpahkan) semua pada pimpinan. Ini seoalah-olah jadi kesempatan, adanya SK ini karena perintah saya," katanya.

"Saya lakukan pertemuan hanya sekali, tapi semua kesalahan dilimpahkan ke saya. Yang saya lakukan, saya akui, dan yang tidak akan saya luruskan," tegasnya.

Sidang yang dipimpin T Benny Eko Supriadi ditunda untuk istirahat dan makan siang selama 45 menit. Sidang akan kembali digelar setelah azan Ashar. (Ahmad Sayuti)