Kisah Pilu Kicau Mania Kediri di Tengah Pandemi

Kisah Pilu Kicau Mania Kediri di Tengah Pandemi
beritajatim

INILAH, Kediri- Libur panjang lomba burung berkicau akibat pandemi Covid-19 semakin dirasakan dampaknya oleh para kicau mania di Kediri. Selain berimbas pada rusaknya gaco (burung lomba), sebagian penghobbi bahkan, sampai rela menjual murah burung atau istilahnya ‘dibakar’.

Hal ini diungkapkan oleh, Diki, penghobbi burung berkicau asal Mojoroto, Kota Kediri. Bagi pria 33 tahun ini, musibah non alam tersebut berdampak buruk terhadap keberlangsungan dunia kicau yang telah ia tekuni sejak masih duduk di bangku SMK.

“Dengan adanya pandemi ini, berdampak pada burung rusak, karena jarang ditrack atau dilombakan. Burung menjadi lupa materi ocehan dan monoton,” keluhnya.

Kurang lebih empat bulan Covid-19 menyerang Kota Tahu Kediri. Sejak virus mematikan dari Wuhan, China itu datang, seluruh gantangan burung ditutup. Pemerintah daerah menerbitkan larangan tempat hiburan, termasuk gantangan burung untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Di Kota Kediri sedikitnya ada sembilan tempat gantangan besar. Untuk wilayah Kecamatan Mojoroto ada Sangsaka, Bok Ijo dan Wirayudha. Kemudian Kecamatan Kota berada di Pasae Setono Betek, NzR, Nirwana, Bayu Jatim. Sedangkan di Kecamatan Pesantren, ada Gantangan Queen dan Zatayu.

“Untuk Kota Kediri sampai saat ini belum ada gantangan yang buka. Entah sampai kapan kondisi seperti ini berlangsung, kita juga belum tahu,” ungkap pria yang kerap naik motor Vespa ini.

Apabila burung gacoan sudah rusak, menurutnya, maka sulit untuk dikembalikan performanya. Sementara teknik pemulihan biasanya hanya berupa latihan bersama dengan sesama penghobbi.

“Kita cari sesama penghobbi burung untuk latber non lomba. Supaya burung yang rusak bisa mengembalikan performanya. Tetapi itupun tergantung karakter burungnya. Bisa kembali normal juga tidak. Yang pasti merubah settingan dari awal,” ucapnya.

Bagi penghobbi yang melihat potensi burung bisa diperbaiki, bakal mengambil inisiatif tersebut. Tetapi tak jarang mereka memilih untuk menjual gaco dengan harga murah alias dibakar, karena tidak ingin bersusah payah.

Hal senada dikatakan Budi, penggobi burung lainnya. Di tengah pandemi ini, dirinya hanya melakukan perawatan rutin untuk tetap menjaga performa gaco.

“Kalau saya perawatan rutin harian. Mandi pagi dan malam. Kemudian saya track sesama burung sebentar. Tujuannya burung tetap terjaga performanya,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini harga burung memang relatif turun. Bahkan, penurunan harga bisa mencapai 50 persen. Tidak adanya gantangan yang buka dan karena faktor ekonomi menjadi penyebab utamanya.

Kendati mayoritas burung kicau turun harga, namun ada dua jenis burung yang kini sedang naik daun di tengah krisis. Ialah jenis burung Cucak Ijo dan Murai Batu.

Harga bahan burung Murai Batu kini masih berkisar antara Rp 2-3 juta. Sedangkan Cucak Ijo Rp 1-2 juta per ekor bahan. Harga ini dibanding lurus dengan kemampuan berkicau burung.

Sebenarnya, bagi kicau mania, perlombaan burung sendiri bukanlah ajang untuk mendapatkan pendapatan semata. Penghobbi mengesampingkan besar dan kecilnya hadiah yang ditawarkan. Mereka lebih pada alasan untuk menyalurkan hobbi dan bersilaturahmi antar sesama.

Untuk diketahui, sebuah ajang latihan bersama biasanya hanya berhadiah ratusan ribu, dengan tiket Rp 20-30 ribu. Sedangkan untuk lomba prestasi, hadiah yang ditawarkan biasanya diatas Rp 1 juta dengan tiket Rp 100-300 ribu. Tetapi rasa kebanggaan, menjadi nilai tersendiri yang tidak dapat diukur dengan sebuah nominal. (beritajatim)