DBD Renggut Nyawa Bocah 7 Tahun di Purwakarta

DBD Renggut Nyawa Bocah 7 Tahun di Purwakarta
Ilustrasi

INILAH, Purwakarta - Awal 2019, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Purwakarta cukup tinggi. Bahkan, merenggut nyawa seorang bocah 7 tahun.

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, membenarkan ada seorang pasien DBD yang meninggal dunia.

Korban meninggal, atas nama Faza Rifatul Hadanah (7), warga Kampung Ciloa RT 22/07, Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis.

Korban yang merupakan anak dari pasangan suami-isteri, Muslih Amrullah dan Nurjanah itu meninggal saat menjalani dirawat di RSUD Bayu Asih.

"Pasien DBD ini meninggal pada Kamis malam (24/1)," ujar Zubaedi kepada INILAH, belum lama ini.

Dengan adanya korban meninggal ini, pihaknya berpesan supaya masyarakat waspada akan penyebaran penyakit mematikan itu.

Apalagi, memasuki musim penghujan seperti ini. Bukan hanya DBD, ancaman dari berbagai penyakit pun mulai bermunculan di Kabupaten Purwakarta.

Terkait kasus DBD, di awal tahun ini kasusnya cukup tinggi. Bahkan, dari laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, sampai hari ini sudah ada sekitar 96 warga yang diduga terjangkit DBD.

Namun, terang dia, untuk saat ini seluruh warga yang diduga terjangkit, statusnya masih sebagai suspect DBD. Persoalannya, pasien tersebut harus diuji di laboratorium untuk mendapatkan kepastian apakah terjangkit DBD atau tidak.

Dia menjelaskan, peningkatan pasien yang terkena penyakit DBD ini dampak dari perubahan cuaca. Pasalnya, musim hujan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya penderita DBD.

Dia menambahkan, dalam mengendalikan dan mencegah penyebaran DBD diperlukan upaya yang efektif. Terlebih, DBD merupakan penyakit serius. Selain itu, termasuk kasus medis besar yang menjadi perhatian utama di negara berkembang.

Jadi, sambung dia, penyebaran penyakit ini bukan hanya akibat faktor perubahan cuaca. Tapi, bisa juga karena pola hidup masyarakat yang kurang sehat. Yang akibatnya, menjadi salah satu penyebab masyarakat mudah terjangkit virus dari nyamuk itu.

Dia berpesan, untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegyti tersebut tidak bisa hanya dengan pengasapan (fogging). Karena, cara itu hanya membunuh nyamuk dewasa, dan  tidak sampai membunuh jentiknya.

Menurutnya, hal yang paling efektif harus bersifat antisipatif. Yakni, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta lebih meingkatkan lagi pola hidup bersih.

Sementara itu, Wakil Direktur RSUD Bayu Asih, Deni Darmawan, mengatakan selama Januari 2019 ini RSUD sudah merawat 42 pasien suspect DBD. Akan tetapi, saat ini pasien yang dirawat sebagiam sudah mulai pulang. Saat ini, yang masih dirawat kurang dari lima warga.

"Tapi, yang kita rawat ini statusnya masih suspect. Belum ada yang terindikasi positif," ujarnya singkat.