Kemenperin Maksimalkan Penyerapan Anggaran di Tengah Pandemi

Kemenperin Maksimalkan Penyerapan Anggaran di Tengah Pandemi

INILAH, Jakarta- Kementerian Perindustrian berupaya memaksimalkan penyerapan anggaran di tengah pandemi COVID-19 hingga tercapai di atas 95 persen, mengingat sederet program siap diimplementasikan setelah adanya realokasi anggaran akibat pandemi COVID-19 sebesar 35 persen.

“Anggaran Kemenperin dipotong 35 persen dari Rp2,9 triliun dipotong sekitar Rp800 juta. Jadi, sekarang tinggal sekitar Rp2,1 triliun sekian. Kami yakin penyerapan anggaran akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono kepada Antara, Kamis (30/7/2020).

Sigit memaparkan, penyerapan anggaran Kemenperin pada semester I/2020 mencapai 39 persen, di bawah angka penyerapan anggaran rata-rata nasional yakni 44 persen.

Hal tersebut terjadi karena terpengaruh datangnya pandemi COVID-19, sehingga kegiatan dan program yang telah disusun, perlu direvisi untuk menyesuaikan situasi normal baru.

“Kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengumpulkan orang banyak, seperti rapat kerja yang lebih dari 30 orang itu harus kita revisi. Sehingga kegiayannya bisa berjalan,” ujar Sigit.

Saat ini, lanjut dia, revisi untuk program-program tersebut telah selesai dilakukan, sehingga dalam waktu dekat dapat berjalan sesuai rencana.

“Akhir tahun kami yakin bisa terserap semua,” tukas Sigit.

Menurut Sigit, prioritas Kemenperin dalam penyerapan anggaran tahun ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, yakni dibidang Sumber Daya Manusia.

Selain itu, Kemenperin juga menggenjot lima sektor industri unggulan, yakni industri tekstil dan pakaian jadi, otomotif, makanan dan minuman, elektronika, kimia.

Selain itu, terkait implementasi Making Indonesia 4.0, Sigit menyebut bahwa di masa pandemi, justru penerapannya lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Hampir semua sektor industri sekarang sudah mengaplikasikan, meskipun dengan derajat yang rendah. Tapi dengan COVID-19, implementasinya meningkat pesat,” tukas Sigit.

Dengan demikian, data-data yang dibutuhkan industri didapat dengan lebih cepat, efektif, dan efisien.