GAS Yakin Iryanto Bisa Bebas dari Dakwaan, Ini Alasannya

GAS Yakin Iryanto Bisa Bebas dari Dakwaan, Ini Alasannya
Ketua umum LSM Gerakan Amanat Sejahtera (GAS) Iqbal. (reza zurifwan)

INILAH, Bogor - Setelah mengikuti sidang pertama kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) terdakwa Iryanto, mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor di Pengadilan Tipikor, Bandung. Ketua umum LSM Gerakan Amanat Sejahtera (GAS) Iqbal menyayangkan tidak adanya bukti percakapan antara Iryanto dan pemberi suap.

"Dalam tuntutan dakwaan jaksa penuntut umum, tidak ada bukti percakapan antara Iryanto dengan pemberi suap, tetapi yang ada percakapan antara tersangka Faisal, dengan salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan pemberi suap hingga kami menganggap tuntutan jaksa terbilang lemah," kata Iqbal kepada wartawan, Kamis (30/7).

Ia menambahkan dalam pembacaan tuntutan dakwaan, percakapan yang banyak dibacakan adalah keterangan tersangka Faisal dengan ASN selaku saksi serta pemberi suap.

Dalam tuntutan dakwaan dibacakan bahwa pemberi suap sudah memberikan uang sebesar Rp250 juta dalam tiga tahap. Tahap pertama dan kedua tidak ada bukti bahwa Iryanto menerima suap izin Pengesahan Dokumen Rencana Teknis (PDRT) bangunan vila di Kecamatan Cisarua dan rumah sakit di Kecamatan Cibungbulang.

Dalam pembacaan tuntutan itu malah dijelaskan bahwa uang suap sebesar Rp200 juta itu diterima oleh terdakwa Faisal dan ASN, sementara amplop warna cokelat berisi uang Rp50 juta yang ada di bawah meja tamu di ruangan Iryanto tidak ia kuasai karena uang tersebut dilempar oleh pemberi suap dan pemberi suap saat itu menyatakan bahwa isi amplop tersebut adalah kekurangan berkas dalam hal ini gambar rencana teknis.

‘Oleh karena itu, kami optimis tim pengacara kami dalam sidang eksepsi pekan depan maupun sidang-sidang selanjutnya bisa membebaskan Iryanto dari segala tuntutan dakwaan karena yang terbukti menerima uang adalah terdakwa Faisal dan ASN tersebut," tambahnya.

Dengan pertimbangan atau Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di atas, Iqbal pun meminta hukum bisa seadil-adilnya dan ASN yang saat ini sebagai saksi diminta dinaikkan statusnya menjadi tersangka.

Kalau berdasarkan BAP, yang sebenarnya menerima uang sebesar Rp200 juta tersebut ialah terdakwa Faisal yang merupakan staf Iryanto dengan ASN tersebut dan bukannya Iryanto.

“Kalaupun misalnya nanti ada bukti bahwa Iryanto menerima suap berarti ini bukan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) seperti yang diklaim oleh Polres Bogor dan merupakan perkembangan kasus hingga ini ada dugaan rekayasa dalam proses penangkapan, penggeledahan, penyitaan, dan penetapan tersangka Iryanto," tutur Iqbal. (reza zurifwan)