Ingat! Riset Harus Bermanfaat bagi Masyarakat

Ingat! Riset Harus Bermanfaat bagi Masyarakat
Menristekdikti Prof Nasir

INILAH, Jakarta - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong agar riset harus bermanfaat bagi masyarakat dan mampu dikomersialisasikan kalangan industri. 

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan riset dan inovasi tidak boleh berhenti di kalangan ilmuwan saja. Sebab berdasarkan Rencana Induk Riset Nasional tahun 2017-2045 disebutkan riset harus diterapkan di seluruh bidang yaitu mulai dari pangan, kesehatan dan obat-obatan, teknologi informasi, transportasi, maritim, dan humaniora. 

Menurutnya, pemerintah telah melakukan pengelompokan terkait tingkat kesiapan teknologi mulai dari dasar sampai inovasi. Riset harus berdasarkan pasar atau permintaan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

"Pengembangan riset dan inovasi di Indonesia masih sangat rendah. Tahun 2014 akhir ada 5.250 yang masuk publikasi internasional. (Indonesia masih kalah dari) Thailand 9.500 yang sudah publikasi internasional, begitu juga dengan Singapura (18.000), dan Malaysia (28.000)," kata Nasir usai melantik Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang baru di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Menurut Nasir, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi negara maju berdasarkan riset jika setiap lembaga terkait dan pemangku kepentingan bekerja sama dengan baik demi meningkatkan kapasitas riset. 

Keberhasilan Indonesia menjadi negara nomor dua di Asia Tenggara yang mampu menerbitkan jurnal ilmiah berdasarkan indeks Scopus dengan jumlah sebanyak 30.900 per bulan Desember 2018 menjadi salah satu tolok ukur. 

Kita masih kalah sedikit dari Malaysia yang sudah menerbitkan 31.950 jurnal ilmiah. Padahal selama 20 tahun lamanya Indonesia tidak pernah bisa masuk ke dalam tiga besar. Selain itu, hak paten ilmuwan Indonesia pun menduduki peringkat atas di Asia Tenggara. 

Namun Nasir beretorika apakah dengan jumlah riset yang begitu besar yang dilakukan pemerintah sudah bermanfaat bagi masyarakat umum dan dunia industri. 

Dia yakin dengan kerja sama yang semakin baik di seluruh lini terkait, Indonesia akan semakin maju di bidang riset dan pemanfaatannya bagi masyarakat umum. 

Hal ini terbukti dalam kurun waktu lima tahun Indonesia berhasil menciptakan 956 startup yang jika dibandingkan dengan Iran justru membutuhkan waktu selama 10 tahun. 

"Tahun 2015 Iran punya 1.000 startup, kita waktu itu hanya tujuh, kemudian menjadi 52 pada dua tahun kemudian, dan tahun 2018 total 956 startup. Masa lima tahun Indonesia setara dengan 10 tahun Iran. Kerja keras dengan riset," kata Nasir.