(Sikap Kami) Sekali Lagi, Tatap Muka

(Sikap Kami) Sekali Lagi, Tatap Muka

JIKA saja imbauan ini tak bermanfaat bagi Gugus Tugas Covid-19 Jawa Barat, Gedung Sate, Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan Jawa Barat, maka kali ini kita arahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. Sebab, mereka juga yang memiliki otoritas, menilai layak tidaknya kegiatan belajar-mengajar tatap muka di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini.

Kita, tentu saja, tidak dalam rangka merintangi pendidikan atau sekolah-sekolah menggelar KBM tatap muka. Bukan pula hendak merintangi peningkatan kecerdasan anak bangsa. Kita sangat peduli pada hal-hal tersebut.

Tapi, kita juga peduli pada keselamatan tunas-tunas muda itu di tengah pandemi Covid-19 ini. Karena itu, kita bersikap, KBM tatap muka belum saatnya dilaksanakan di Jawa Barat, bahkan hampir di seluruh negeri ini.

Kita tetap pada sikap bahwa terlalu dini untuk menggiring anak-anak ke ruang kelas, betapapun regulasi sudah kita siapkan sehati-hati mungkin. Sebab, pandemi dan virus corona adalah sesuatu yang sangat sulit kita antisipasi. Terlebih, saat ini, trennya justru banyak menular dan ditularkan dari orang-orang tanpa gejala.

Pada beberapa kesempatan lalu, kita contohkan apa yang terjadi di Secapa AD dan Pusdikpom TNI. Tersebar virus corona di dua lembaga pendidikan dinas TNI itu. Covid-19 adalah salah satunya soal kedisiplinan. Kurang apa coba tingkat kedisiplinan Secapa dan Pusdikpom.

Kini, pelajaran teranyar kita adalah terpaparnya 40 orang pegawai di Gedung Sate, pusat pemerintahan Jawa Barat. Sama saja, sulit kita membayangkan kalau soal Covid-19 ini, pegawai Gedung Sate kalah peduli dan disiplin ketimbang siswa-siswa di sekolahan kita.

Lalu, bagaimana kita bisa percaya dan yakin, sekolah-sekolah tempat tunas bangsa kita dididik, aman dari virus, meski itu di kecamatan-kecamatan zona hijau sekalipun. Pertama, soal disiplin di kalangan pelajar yang kita ragukan. Kedua, perubahan zona, bahkan tingkat kecamatan, tak ada yang statis. Selalu berubah setiap waktu.

Kita tentu tidak dalam ketakutan. Tapi, kita khawatir. Kita perlu memasang sikap waspada. Menjauhi segala sesuatu yang potensial menjadi lokasi penyebaran virus. Kita tak ingin kebijakan ini justru bisa memunculkan klaster-klaster baru di lembaga pendidikan kita.

Maka, kepada bupati dan wali kota, kita menyarankan untuk memikirkan sangat matang, kalau perlu berulang-ulang, untuk memutuskan apakah ada kecamatan yang boleh sekolah tatap muka. Kita sarankan, dalam kondisi yang belum menentu ini, tak usah dululah membuka sekolahan.

Bukan karena kita tak ingin tunas-tunas bangsa kita pintar. Tapi, karena kita sayang kepada mereka. (*)