Sikap Kami: Emil dan Hadi Pranoto

Sikap Kami: Emil dan Hadi Pranoto

APAKAH Ridwan Kamil jadi ikut sebagai relawan uji klinis vaksin Sinovac, itu soal kedua. Yang penting, kesediaannya jadi relawan, adalah sebuah dorongan. Apakah jamu Hadi Pranoto betul-betul ampuh sebagai antibodi Covid-19, tentu harus lewat uji klinis. Yang penting adalah semangatnya melawan virus.

Dalam suasana pandemi yang membuat sebagian warga masih kalut, kita butuh penerobos. Mereka yang ikut merasakan ketakutan dan kekhawatiran warga. Mereka yang tak hanya bicara, kadang marah, menceracau, di balik podiumnya.

Kita paham, ketika rencana uji coba klinis di Bandung ini pertama kali mencuat, banyak yang bersikap skeptis. Banyak yang mempertanyakan dengan nada ragu. Kenapa uji klinis ketiga di Bandung? Kenapa tidak di China?

Emil, dengan kesediaannya itu, juga Forkopimda Jawa Barat, menunjukkan mereka berada di garda depan, setidaknya dalam semangat menemukan vaksin jikapun dia urung jadi relawan uji klinis. Dia ingin berada bersama-sama relawan untuk menguji vaksin itu.

Semangat itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. Sikap yang menambah semangat warga yang jadi relawan. Itu yang penting. Itu yang dibutuhkan warga –relawan—dari pimpinan.

Akan halnya Hadi Pranoto, lepas dari kontroversi soal gelar profesor, soal vaksin dan obat yang ampuh, dan kegagalannya mengetahui regulasi obat-obatan, tapi semangatnya untuk membantu warga, juga janganlah sampai kita remehkan. Kita caci-maki terus. Apalagi diadukan ke polisi.

Mungkin yang perlu dilakukan adalah mengarahkannya agar ramuan herbal yang dia sebut sebagai antibody itu agar bisa diuji klinis. Siapa tahu juga, ramuannya memang bermanfaat untuk memperkuat imun tubuh. Apakah ramuannya bermanfaat atau tidak, biarlah ditentukan hasil uji klinis.

Apakah hanya karena dia “bukan siapa-siapa” kita otomatis meremehkannya? Harap kita ingat pula, sebulan-dua setelah wabah melanda negeri kita, Tim Satgas Covid-19 DPR RI pun pernah mempromosikan obat herbal “mereka”. Ramuan herbal itu bahkan diimpor dari China. Tak ada juga yang melakukan uji klinis, apalagi melaporkan Satgas ke polisi. Padahal, pengusaha jamu lokal saat itu pun protes habis-habisan.

Semangat-semangat semacam itu, di tengah suasana yang tak menentu itu, masih kita butuhkan. Itu kita perlukan. Tinggal kalau ada yang bengkok, kita luruskan. Kalau ada yang menyimpang, kita kembalikan ke relnya. Ya, daripada kita hanya mendengar ungkapan-ungkapan kekesalan dari podium yang sama sekali tak membantu masalah kita. (*)