Sikap Kami: Lampu (Sangat) Kuning Ekonomi

Sikap Kami: Lampu (Sangat) Kuning Ekonomi

EKONOMI kita sedang bahaya. Katakanlah belum sampai resesi, tapi kontraksi pertumbuhan ekonomi sungguh sebuah keadaan yang tak diinginkan. Pemerintah ikut berperan menghadirkan situasi sulit ini.

Secara teknikal, kita memang belum mengalami resesi. Resesi adalah situasi di mana pertumbuhan ekonomi perkuartal mengalami pertumbuhan minus dua kali berturut-turut. Jerman, misalnya, mengumumkan resesi setelah pertumbuhan ekonomi mereka minus 2,2% pada kuartal pertama dan minus 10,1% di kuartal kedua. Berbasis year on year (YoY), pertumbuhan ekonomi Jerman minus 11,7%.

Meski belum resesi, tapi peluang ke arah itu bukan tak ada. Nyaris besar malah. Kuartal II ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi. Cukup tinggi, 5,32%. Kuartal sebelumnya masih tumbuh 2,7%. Jika kuartal III pertumbuhan juga minus, maka kita akan menyusul Jerman, juga sejumlah negara lainnya.

Ini memang situasi yang berat. Berharap pertumbuhan ekonomi tumbuh positif dari kegiatan rakyat, rasa-rasanya berat. Kecuali kita menormalkan kembali kehidupan. Tentu, ancaman tak kalah besarnya adalah virus corona akan meruyak.

Maka, dalam konteks ini, pemerintah sejatinya yang sangat berperan. Sayangnya, di era wabah corona ini, pemerintah pada titik tertentu, seperti makan buah simalakama. Tetapi, ada sebenarnya pilihan yang cukup baik: menggerakkan ekonomi berbasiskan pemerintah.

Faktanya, itu pun tersendat. Beragam strategi sudah disusun, tapi jalan tertatih-tatih. Serapan anggaran pemerintah, sebagai senjata jitu menghindari resesi, tersendat-sendat. Baru 20% anggaran penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang terserap. Padahal, angkanya luar biasa: Rp695,2 triliun.

Beragam bantuan dan stimulus diwacanakan pemerintah. Tapi ada kecenderungan kurang serius dalam implementasinya. Jangankan stimulus, belanja konsumsi pemerintah pun terkontraksi hingga 6,9%. Stimulus UMKM, salah satu pilar ekonomi kemasyarakatan yang terbukti tangguh saat resesi 1998 lalu, pun tak berjalan sebagaimana mestinya.

Maka, tepat jika DPR akan segera memanggil Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk mempertanyakan kondisi ini dalam sidang selepas 17 Agustus mendatang. Pemerintah harus dipecut agar konsep-konsep penyelamatan ekonomi yang mereka susun di tengah pandemi ini tidak jalan di tempat, apalagi mundur.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian ini, langkah terbaik untuk menghindari resesi, adalah mendorong aksi pemerintah. Tapi, tentu dengan penerapan protokol kesehatan di setiap aksinya. Agar ekonomi selamat, virus corona tak meruyak. (*)