Mata Kering Tak Biasa Pertanda Sjogren's Syndrome, Apa Itu?

Mata Kering Tak Biasa Pertanda Sjogren's Syndrome, Apa Itu?
Antara Foto

INILAH, Jakarta- Mata Anda kering namun tak kunjung sembuh sehingga harus terus menerus ditetesi obat tetes, bisa menjadi salah satu tanda seseorang terkena penyakit autoimun Sjogren’s syndrome.

Dokter dari Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM/RSUI, Alvina Widhani mengatakan Sjogren’s syndrome bisa mengenai kelenjar air mata, air liur sehingga membuatnya tak berfungsi baik.

"Sifatnya kronik, bisa terjadi jangka panjang, sistemik seperti lupus, bisa mengenai kelenjar air liur atau kelenjar air mata sehingga tidak berfungsi dengan baik, akibanya keluhan mata kering, mulut kering," kata dia dalam webinar "Kenali Sjogren’s Syndrome: Penyakit Autoimmune Yang Sering Tidak Terdiagnosis", Kamis.

Penyakit autoimun yang juga bisa mengenai luar kelenjar seperti saraf, paru, ginjal dan berbagai organ lain ini kebanyakan dialami para perempuan berusia di atas 40 tahun. Walau tak menutup kemungkinan perempuan di bawah atau di atas usia itu bisa juga terkena.

Hanya saja, mata kering memang tak selalu merujuk pada masalah kesehatan lain semisal alergi atau bahkan faktor usia bertambah sehingga seringkali diagnosis jika memang itu karena Sjogren’s syndrome terlambat.

Lalu bagaimana mengenali mata kering karena Sjogren’s syndrome?

Penderita bisa merasakan matanya perih, seperti terbakar, gatal terutama usai menatap layar komputer sehingga harus meneteskan obat tetes mata. Penggunaan obat ini salah satunya berarti mata kering.

Tak hanya mata kering, ada juga penderita yang mengalami mulut kering, sulit menelan makanan kering atau sulit menelan makanan tanpa air, perubahan pengecap, ada jamur di mulut, batuk kering, vagina kering, mudah lelah, nyeri sendi hingga gangguan kognitif.

Yennel S. Suzia asal Bekasi, Jawa Barat yang kini penyintas Sjogren’s syndrome mengungkapkan, sempat mengalami sulit menelan. Dia harus menyendokkan makanan sedikit demi sedikit ke mulutnya, atau menyambinya dengan meminum air.

Dia juga mudah merasa lelah, nyeri bahkan pernah pingsan dan lumpuh sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan selama sekitar 50 hari.

"Sampai terdiagnosis membutuhkan waktu dua tahun. Kalau makan harus hati-hati, tidak bisa banyak-banyak, setengah sendok disambi air minum," ungkap dia yang mengalami gejala pada tahun 2012, saat usianya 57 tahun itu.

Mengenai hal ini, Alvina menuturkan, gejala yang dialami Yennel termasuk lengkap dan berada di luar kelenjar dengan keluhan sistemik termasuk lelah.

"Tidak hanya mata kering, gangguan saraf bisa ditemui pada orang yang sama, tetapi tidak ada penyakit penyerta lain semisal diabetes, usia (perempuan) belum berusia terlalu tua, bisa dipikirkan jangan-jangan ada penyakit Sjogren’s syndrome," tutur Alvina.

Menurut Alvina, ada interaksi berbagai faktor berperan mencetuskan Sjogren’s syndrome antara lain genetika, lingkungan dan hormon. Dengan kata lain, Sjogren’s syndrome tak akan serta merta muncul tanpa ada faktor pencetus.

Faktor lingkungan bisa berupa infeksi virus, penggunaan bahan seperti silikon, polusi hingga ketidakseimbangan mikrobiota di saluran cerna sehingga menyebabkan gangguan kekebalan tubuh.

"(Faktor lainnya) stres cukup berat dan lama lalu hormon. Peran estrogen menurun di usia di atas 40 tahun, lalu defiensi vitamin D, kalau rendah perlu diperbaiki dengan asupan makanan, paparan matahari atau suplementasi (jika tak cukup dari makanan dan sinar matahari))," kata Alvina.

Bagaimana diagnosisnya?

Alvina mengatakan, dokter akan berpegang pada identifikasi sesuai gejala, lalu melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dari gejala yang ditemukan.

Dokter juga akan mengonfirmasi benar tidaknya ada mata kering melalui tes Schirmer, lalu tes produksi saliva untuk mengetahui produksi air liur berkurang sehingga mulut penderita menjadi kering.

Lalu pemeriksaan darah untuk melihat adanya kelainan sel darah merah dan putih dan untuk spesifik Sjogren’s syndrome umumnya dilakukan pemeriksaan antinuclear antibody (ANA).