AMAN Serukan Tatanan Kehidupan Baru Berkelanjutan dan Berkeadilan

AMAN Serukan Tatanan Kehidupan Baru Berkelanjutan dan Berkeadilan
Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Siti Nurbaya (tengah) menerima peta sebaran wilayah adat yang diserahkan Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi (kanan) di kegiatan perayaan 20 tahun AMAN dan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) tahun 2019 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (9/8/2019). Kegiatan yang digelar 9-11 Agustus 2019 ikut dihadiri ratusan perwakilan anggota AMAN se Indonesia hingga perwakilan organisasi adat dunia. (antara)

INILAH, Jakarta - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyerukan pelaksanaan sebuah tatanan kehidupan baru yang berkelanjutan dan berkeadilan menjawab krisis kesehatan hingga ekonomi pada masa pandemi Covid-19.

Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi dalam pidato peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia secara daring diakses dari Jakarta, Minggu (9/8/2020), mengatakan pandemi Covid-19 menjadi saat membuka mata terhadap berbagai krisis kehidupan yang ditimbulkan.

“Kita tidak ingin lagi mende,gar kalimat ‘bumi ini cukup untuk semua orang tetapi tidak cukup buat satu orang rakus’. Saatnya kita menciptakan kehidupan baru di mana bumi, bahkan lebih dari cukup untuk menjamin kehidupan manusia yang ada saat ini dan generasi yang akan datang,” kata Rukka.

Menurut dia, Covid-19 menunjukkan arah bahwa manusia harus mengubah paradigma pembangunan. Tatanan ekonomi kerakyatan yang berlandaskan gotong-royong, keadilan dan menjamin keberlanjutan kehidupan adalah modal utama dan masa depan.

Oleh karenanya, katanya, harus memperkuat sistem ekonomi di tingkat lokal. Sebuah sistem ekonomi global yang lebih adil dan merata akan dibentuk oleh jutaan sistem ekonomi skala lokal yang kokoh.

“Kita harus menciptakan mekanisme dimana Masyarakat Adat dan masyarakat di pedesaan serta masyarakat urban dapat saling mendukung,” ujar Rukka.

Bagi Masyarakat Adat, semangat gotong-royong dan solidaritas yang dibangun bersama terbukti menjamin kedaulatan pangan di wilayah-wilayah adat. Namun demikian, Masyarakat Adat juga wajib menjamin ketersediaan pangan dan lingkungan yang baik bagi orang lain di sekitar mereka , seperti yang dimandatkan oleh Maklumat Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) Tanjung Gusta.

Untuk itu, kata Rukka, masyarakat adat perlu membuka diri dengan introduksi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat pengetahuan dan teknologi yang diwarisi dari leluhur.

“Kita harus mampu membangun unit-unit produksi yang kokoh di komunitas masyarakat adat serta mengembangkan sistem pasar lokal yang akan menjadi jembatan bagi kita untuk berbagi dengan orang lain di sekitar kita,” kata Rukka.

“Hari ini kita patut memberikan penghargaan kepada 108 Tim Tanggap Darurat AMAN #AMANkanCOVID19, seluruh Pengurus AMAN, seluruh Organisasi Sayap, para pemuda dan perempuan adat yang selama ini bekerja maksimal untuk memastikan resiliensi (daya pulih, daya lenting) di Masyarakat Adat di tengah pandemi. Ingatlah, pekerjaan kita belum selesai, bahkan baru dimulai,” ujarnya. (antara)