(Sikap Kami) ‘Salut’ Erick Thohir

(Sikap Kami) ‘Salut’ Erick Thohir
Menteri BUMN Erick Thohir. (Net)

JIKA tak ada perubahan, besok uji klinis vaksin Sinovac dimulai. Tapi, 3-4 hari sebelumnya, masyarakat sempat heboh karena pernyataan Erick Thohir.

Agar tak salah tangkap, kita tuliskan kutipan utuhnya dalam wawancara virtual dengan sebuah media soal kesediannya jadi relawan. “Kayaknya nggak etis kalau saya, lebih baik yang relawan-relawan yang memang sesuai dengan tadi prototipe yang sedang dicari,” ungkapnya.

Kita salut pada Erick Thohir. Salut atas kejujurannya. Pertama, dia tak takut disuntik. Kedua, soal disuntik vaksin lebih baik masyarakat dulu. Karena yang disuntikkan vaksin uji coba, mungkin bisa kita pahami yang diuji coba masyarakat dulu, bukan Menteri BUMN.

Erick Thohir itu bukan murni politisi. Karena itu, pernyataannya lempeng-lempeng saja. Termasuk soal uji klinis vaksin.

Tapi, pernyataannya sungguh kita sesalkan. Pertama, prototipe apa yang dibutuhkan untuk uji klinis? Semua orang bisa, kecuali mereka yang terdeteksi suspek atau positif Covid-19. Jadi, sejatinya, Erick Thohir sebenarnya juga memenuhi syarat sebagai prototype relawan uji klinis.

Sebenarnya persoalannya sederhana. Secara klinis, besar kemungkinan dia layak jadi relawan. Tapi jadi sulit karena dia berdomisili di Jakarta. Sebab, Tim Uji Klinis Universitas Padjadjaran menyaratkan syarat relawan adalah berdomisili di Bandung. Agar perkembangannya bisa dipantau.

Karena jawaban-jawaban yang kurang tepat, sepanjang akhir pekan kemarin sang menteri jadi gunjingan banyak orang. Tak apa, begitulah risiko jawaban kurang tepat atas sebuah pertanyaan, apalagi menyangkut masyarakat banyak.

Dalam konteks ini, sebagai warga Jawa Barat, kita patut berbangga. Para pemimpin kita tak lari dari tanggung jawab, bahkan ketika harus menjadi relawan uji klinis sekalipun. Setidaknya, Gubernur Ridwan Kamil, Wali Kota Oded M Danial dan wakilnya Yana Mulyana menyatakan kesiapannya.

Persoalan bahwa kemudian hari mereka tak ikut uji klinis karena tak memenuhi syarat, misalnya, mari kita maklumi juga. Buat kita, yang terpenting adalah pemimpin itu memberi teladan. Mereka berada di garda terdepan ketika masyarakat menghadapi kesulitan.

Sebab, untuk itulah pemimpin itu harus ada. Menguatkan yang mereka pimpin saat warga dalam keadaan galau. Terutama dalam perang menghadapi Covid-19 yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini.

Erick Thohir, Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu, setidaknya, belum seperti itu. Tapi tetap, kita “salut” atas kejujurannya. (*)