Soal Klaim RS Azra, Ini Penuturan GTPP Covid-19 dan Dinkes Kota Bogor

Soal Klaim RS Azra, Ini Penuturan GTPP Covid-19 dan Dinkes Kota Bogor
Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim. (rizki mauludi)

INILAH, Bogor - Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyampaikan, meskipun dinyatakan negatif Covid-19 pada tes kedua dengan jarak waktu tak sampai 14 hari. Namun, data enam karyawan RS Azra yang merupakan warga Kota Bogor telah masuk dalam data Covid-19 Kota Bogor dan tidak bisa dihapus atau dianulir.

"Kalau sudah pertama masuk di catatan Covid-19 tentu tetap ada catatannya, tidak mungkin dihapus. Bahwa kemudian setelah beberapa waktu dites ulang, kemudian negatif artinya dianggap sembuh. Kan gitu saja. Alhamdulillah. Tinggal dicatatkan sebagai terkonfirmasi positif Covid-19 yang sembuh," ungkap Dedie pada Minggu (9/8/2020) malam.

Dedie melanjutkan, dirinya tidak mau mempersoalkan adanya perbedaan hasil tes usap antara satu dengan yang lainnya. Ia juga menyatakan, idealnya tes usap memang dilakukan di satu sumber laboratorium. Sayangnya, lantaran waktu tunggu hasil lama memaksa mengubah untuk mengirim sampel spesimen.

"Akhirnya seperti sekarang. Tes awal bisa jadi di Balitbangkes Kementerian kesehatan, tes berikutnya di Labkesda, berikutnya lagi di Lab IPB, itu bisa juga begitu. GTPP Covid-19 mendapatkan data dari Dinas Kesehatan. Tentu kami mengelolanya sebagai data resmi. Kami percaya juga pada lembaga laboratorium yang telah menguji sampel spesimen sebelumnya," tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Kota Bogor Sri Nowo Retno mengakui, RS Azra telah melaporkan kejadian tersebut. Namun, saat dilakukan swab massal sebanyak 50 sampel di RS Azra, hasilnya 10 karyawan yang terdiri dari enam Kota Bogor dan empat warga Kabupaten Bogor positif Covid-19.

"Sudah negatif, tapi kita cek lagi. Jadi saat itu yang positif dari RS Azra itu security, pegawai frontliner," jelasnya.

Retno menambahkan, pada waktu itu Dinkes Kota Bogor tetap melakukan penelusuran kontak erat. "Kemudian yang kontak kami sudah isolasi," ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Direktur Medis RS Azra, Jeffry Rustandi menuturkan, hasil dua kali pemeriksaan swab ulang yang dilakukan di dua laboratorium rujukan pemerintah ini mengonfirmasi sekaligus mengklarifikasi bahwa karyawan RS Azra kota Bogor tidak terpapar oleh Covid-19 dan RS Azra bukanlah kluster Covid seperti telah diberitakan media sebelumnya.

Jeffry juga mengatakan, fakta ini juga membuktikan bahwa selama ini manajemen telah menjalankan operasional rumah sakit dengan prosedur keamanan yang berlaku dan mengacu pada protokol kesehatan yang telah ditentukan pemerintah.

"Pemeriksaan swab ulang terhadap karyawan yang pada tanggal 27 Juli lalu dinyatakan positif Covid-19 ini adalah merupakan bagian evaluasi kami untuk lebih mendapatkan kepastian hasil melalui laboratorium yang ditetapkan pemerintah dan diakui kredibilitasnya secara nasional," ungkapnya.

Ia menambahkan, hal itu yang menjadi alasan mengapa pihak RS Azra yang menjadi rujukan untuk penanganan pasien Covid-19 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini, menggunakan Lembaga Biologi Molekular Eijkman.

Jeffry menambahkan, sebenarnya pada pemeriksaan swab ulang pertama di laboratorium Kalgen Innolab pada tanggal 30 Juli diperoleh hasil yang negatif. "Namun kami merasa perlu evaluasi lebih lanjut atas hasil swab tersebut, sehingga bekerja sama dengan laboratorium pada Lembaga Eijkman dan ternyata hasilnya tetap sama, negatif," tambahnya.

Menurut Jeffry, evaluasi berupa pemeriksaan swab ulang pertama dan kedua yang dilakukan oleh laboratorium yang menjadi rujukan pemerintah dalam penanganan Covid-19 serta memiliki kredibilitas juga reputasi yang baik ini sangat penting karena diharapkan dapat mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap RS Azra sebagai rujukan pasien Covid di Jawa Barat.

Langkah ini juga diharapkan dapat meredam keresahan masyarakat, terutama keluarga karyawan yang sebelumnya dinyatakan positif tersebut.

"Adanya pemberitaan mengenai karyawan yang positif terpapar Covid, selain membuat resah keluarga karyawan, juga membuat mereka dikucilkan oleh lingkungannya. Saya tegaskan apakah 10 karyawan itu sembuh dari Covid-19 atau swab test yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Bogor tidak akurat. Yang pasti, menurut saya RS Azra dalam menegakkan diagnosa harus mengacu pada fakta," tegasnya. (rizki maulud)