Kota Bogor Zona Oranye, Perayaan 17 Agustus Harus Sederhana

Kota Bogor Zona Oranye, Perayaan 17 Agustus Harus Sederhana
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Bogor, Dedie A Rachim (kanan). (Rizki Mauludi)

INILAH, Bogor - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Bogor, Dedie A Rachim mengimbau perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) berlangsung sederhana.

Hal itu disampaikan Dedie A Rachim saat menggelar konferensi pers di Sekretariat GTPP Covid-19 Kota Bogor pada Senin (10/8/2020) sore.

"Perayaan hari kemerdekaan harus dilakukan sederhana dan menghindari kegiatan yang menimbulkan kerumunan. Saya ingin memberikan gambaran kepada masyarakat Kota Bogor, kegiatan yang mengundang massa besar sangat beresiko. Perlombaan dan lain-lain dikurangi atau dihindari karena mengigatkan akan ada sejumlah masyarakat yang berkerumun," ungkap Dedie.

Dedie menuturkan, dalam tiga hari terakhir terjadi lonjakan kasus Covid-19. Rinciannya, mulai 8 Agustus 2020 hingga 10 Agustu 2020 setiap harinya bertambah 12 kasus. Dengan demikian kondisi kota Bogor dikategorikan beresiko sedang.

"Ini bisa jadi resiko tinggi, apalagi PSBB disandingkan dengan pra AKB, karena kami sudah melakukan berbagai kelonggaran," tambah Dedie.

Dedie juga kembali mengingatkan Peraturan Gubernur (Pergub) Jabar Nomor 60 tahun 2020 dan Peraturan Walikota (Perwali) Kota Bogor Nomor 64 tahun 2020, tentang penegakan penerapan sanksi tidak menggunakan masker di tempat umum mulai diterapkan pada Jum'at (7/8/2020) lalu.

"Perwali nomor 64 tahun 2020 agar masyarakat menerapkan protokol Covid-19, beberapa waktu lalu dilakukan sosialisasi yang masif dan Jum'at lalu diterapkan sanksi kepada masyarakat yang melanggar. Terdata ada 53 kasus pelanggaran di lapangan, karena itu TNI dan Polri akan melakukan penerapan sanksi yang ketat. Saat ini total kasus positif Covid-19 ada 350 orang, angka kesembuhan 61,1 persen serta angka kematian enam persen. Kemudian dirawat rumah sakit 54 persen dan 46 persen isolasi mandiri," paparnya.

Dedie menambahkan, kasus positif Covid-19 yang masih aktif ada 115 orang, dirawat rumah sakit ada 48 orang dan sisanya isolasi mandiri. Khusus isolasi mandiri, tim survelian bersama tim deteksi aktif Covid-19 melakukan pengecekan langsung ke rumah masing-masing pasien. Kalau tidak memadai akan dirujuk ke rumah sakit dengan ambulance PSC 119 dan protokol itu sudah dilakukan selama ini.

"Kami lakukan swab masif sasaran Tenaga Kesehatan (Nakes) seperti di rumah sakit Azra, spesimen ke laboratorium yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan dinyatakan 10 orang dinyatakan positif," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno mengatakan, terkait penemuan kasus disebabkan kegiatan aktif swab masif Kota Bogor. Pertama deteksi aktif Covid-19 ada tim lacak dan pantau di kecamatan, kedua swab masif pencarian kepada kelompok beresiko ada beberapa sasaran yaitu lokasi tempat kerumunan misal stasiun, terminal, fasilitas kesehatan (faskes) dan pasar. Termasuk semua yang kontak erat dengan terkonfirmasi positif harus dilakukan swab 100 persen.

"Ya, Nakes dan non Nakes dengan kelompoknya resiko tinggi, kemudian ASN dan tokoh agama.BJadi kami memang mencari secara aktif pada populasi resiko yang tertular rentan sehingga seminggu terakhir kami masih tetep mencari. Lebih baik mencari aktif, ketika kasus ditemukan kontak tracing dan swab kemudian karantina mandiri. Selanjutnya lakukan langkah desinfeksi. Kita hitung degan kasus ini positif rate 3,8 dengan standar adalah lima. Jadi kasusnya positif dibawah angka standar.Tertinggi kasus di Kota Bogor dikarenakan import case yaitu 63 persen, kemudian, 23 persen kasus penularan rumah tangga dan ketiga faskes 14 persen," bebernya.

Retno menegaskan, pihaknya memasang target satu persen dari populasi atau target 11 ribu saat ini sudah 8.500 swab. Akan dilaksanakan masif lebih baik menemukan bentuk kewaspadaan dini kemudian melakukan langkah antisipasi. 

"Ketimbang tidak melakukan surveilance aktif, tiba-tiba ada lonjakan.seminggu kedepan akan edukasi juga kampanye masif protokol kesehatan ketat," pungkasnya. (Rizki Mauludi)