Dialog Budaya Nusantara Digelar Secara Virtual

Dialog Budaya Nusantara Digelar Secara Virtual
ilustrasi

INILAH, Jakarta - Keberagaman masyarakat dari segi suku, bahasa, hingga agama membuat Indonesia teridentifikasi sebagai negeri yang kaya akan budaya.

Kekayaan ini tentu perlu dijaga sehingga dapat dilestarikan untuk generasi mendatang, mengingat budaya merupakan identitas bangsa.

Untuk itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bersama Nusantara Institute dan Nusantara Kita Foundation menyatakan komitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya serta mendorong masyarakat untuk memiliki apresiasi dan penghormatan terhadap aspek-aspek kebudayaan lokal di Indonesia.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan kontinu kami terhadap gelaran Dialog Budaya Nusantara serta memberikan penghargaan kepada para pemerhati, pelestari dan pejuang budaya dari berbagai kalangan masyarakat yang turut merawat kebudayaan lokal di Indonesia, baik melalui tulisan maupun aktivitas lainnya.

Tahun 2020, Dialog Budaya Nusantara mengangkat tema "Perempuan dan Budaya Nusantara" yang karena pandemi Covid diadakan secara virtual.

Kendati demikian, acara tetap berjalan lancar dan diikuti secara antusias baik oleh audiens maupun narasumber.

Gelaran ini dilaksanakan pada Selasa (28/07) yang dihadiri, antara lain, Direktur BCA Lianawaty Suwono, Komisaris Independen BCA Cyrillus Harinowo, Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati, Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby, Co-Founder Nusantara Kita Foundation Ida Widyastuti, dan Ketua Dewan Penasehat Nusantara Institute & Presiden Indonesia Global Compact Network Y.W Junardy, Anggota Dewan Penasehat Nusantara KGPH Dipokusumo.

Azaz Rulyaqien Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Timur, Senior Admin Grup Meditasi Spiritual Nusantara Hening Sambung Rasa Murdi Apriyani.

Turut hadir sebagai pembicara, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2019-2024, Ketua Dewan Penasihat PT Mustika Ratu Putri Kuswisnu Wardani, aktris, produser film dan aktivis sosial-budaya Christine Hakim, Anggota Dewan Penasehat United Nations Inter-Agency Task Force on Religion and Development , Sekjen Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid, serta Guru Besar Studi Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada, Mantan Malaysian Chair for Islam in Southeast Asia, Georgetown University, Amerika Serikat, Syafaatun Almirzanah.

Acara ini dipandu oleh Sumanto Al Qurtuby yang juga dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Mineral dan Senior Scholar di National University of Singapore.

"Tema dialog kali ini membahas tentang peranan perempuan dalam menciptakan dan melestarikan kebudayaan Nusantara. Kata "kebudayaan" (kultur atau "culture") tentu memiliki makna dan cakupan yang sangat luas. Perempuan menjadi salah satu "agen budaya" yang memiliki peran sentral dan kontribusi besar dalam menciptakan sekaligus mempertahankan dan melestarikan produk-produk kebudayaan di masyarakat," kata Sumanto Al Qurtuby

"Setiap dari kita adalah agen budaya, tidak terkecuali para perempuan Indonesia. Agen budaya berperan dalam menciptakan, mempertahankan dan melestarikan kebudayaan di masyarakat. Kami percaya bahwa medium untuk melestarikan budaya juga variatif, mulai dari tingkat yang paling sederhana yaitu ibu kepada anaknya, pendidikan di sekolah, hingga institusi-institusi tinggi pengambil kebijakan politik, ekonomi, dan lainnya. Sayangnya, beberapa jalur kebudayaan ini masih didominasi oleh laki-laki dan cenderung mengesampingkan peran perempuan. Melalui kegiatan ini kesetaraan gender di Indonesia mendapat perhatian lebih dari kita," kata Lianawaty Suwono.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP) melalui laporannya bertajuk Human Development Report 2018, Indeks Ketimpangan Gender (Gender Inequality Index/GII) di Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN. Indonesia tercatat di peringkat keempat setelah Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Angka ini menunjukkan bahwa perempuan masih mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan laki-laki dalam memperoleh kesehatan, pendidikan, kesempatan berpolitik hingga memperoleh pekerjaan.

Lianawaty menambahkan, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki peran besar dalam kebudayaan. BCA juga telah berkomitmen untuk menerapkan kesetaraan gender di operasional perusahaan dengan memberikan kesempatan kepada siapapun tidak terkecuali perempuan untuk menempati posisi strategis dalam perusahaan.

Sebagai informasi hingga Desember 2019, sebanyak 27,3% direktur BCA adalah perempuan, 55,3% kepala cabang BCA adalah perempuan, serta 63,8% pegawai yang mendapatkan promosi adalah perempuan.

Selain diskusi, ajang kali ini juga memberikan penghargaan kepada pejuang budaya, baik akademisi maupun non-akademis, yang secara konsisten melestarikan budaya Nusantara. Penghargaan terbagi menjadi dua kategori yakni Nusantara Academic Award dan Waskita Nusantara Award.

Nusantara Academic Award adalah penghargaan untuk karya akademik hasil riset ilmiah seperti disertasi doktor dan tesis master yang membahas aneka ragam kebudayaan Nusantara.

Peraih Nusantara Academic Award 2020 adalah Dhianita Kusuma Pertiwi dari Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dengan tesis berjudul "Transformasi Konsep Kekuasaan dalam Adaptasi Sabha-Parva ke Lakon Wayang Purwa Sesaji Raja Suya Karya Ki Purbo Asmoro" dan Raudhatul Jannah dari Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dengan tesis berjudul "Sakdiah: Negosiasi Gender dalam Musik Pop Gayo.

Adapun Waskita Nusantara Award adalah penghargaan non-akademik untuk para pelestari budaya Nusantara, berhasil diraih oleh Komunitas Kabuyutan Cipaku sebuah wadah yang menghimpun lintas generasi, yang memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap leluhur dan ajaran yang diwariskannya serta merawat (ngamumule) situs peninggalan leluhurnya serta Sanan alias Surya Sindhu Patih seorang pelestari sejarah, budaya, dan cagar budaya, utamanya di Gunung Penanggungan.

"Ke depan, perlu ada semakin banyak kelompok sosial, lembaga swadaya masyarakat, perorangan atau komunitas yang peduli dengan aset-aset kultural, spiritual, dan intelektual warisan para leluhur Nusantara," terang Ida Widyastuti.

"BCA akan terus mendukung upaya pelestarian budaya Indonesia, salah satunya melalui kegiatan edukatif seperti webinar pada hari ini. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan mendalam terhadap kebudayaan Indonesia serta peranan masyarakat, tidak terkecuali kaum perempuan, sebagai agen budaya," tutup Inge Setiawati. (inilah.com)