Petugas Damkar Kerap Terima Telepon Iseng

Petugas Damkar Kerap Terima Telepon Iseng
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Berbagai kejadian kerap mewarnai ragam tugas dilaksanakan petugas pemadam kebakaran (Damkar) Dinas Damkar Kabupaten Garut. 

Terlebih kini cakupan tugas mereka semakin luas, tidak hanya sebatas penanggulangan kebakaran melainkan juga penanganan kebencanaan atau kasus kedaruratan non kebakaran, semisal menangani orang tenggelam di sungai dan sumur, operasi tangkap tawon atau hewan lain yang membahayakan. Tak jarang, mereka juga diminta bantuan menyiram taman, mengirimkan bantuan air bersih, dan melakukan penyemprotan desinfektan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Sayangnya, di tengah pekerjaan kian bertambah dengan jumlah petugas dan sarana kendaraan masih terbatas, ada saja orang-orang yang senang mencandai petugas, terutama yang sedang melaksanakan piket. 

Orang-orang tak bertanggung jawab itu dengan sengaja menghubungi petugas melalui pesawat telepon hanya sekadar untuk bercanda. Ada yang berpura-pura mengabari terjadi kebakaran. Ada pula yang sekadar memastikan telepon mereka diangkat petugas piket tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. 

"Kebanyakan yang telepon iseng itu usia-usia remaja. Kalau yang dewasa, jarang. Ada saja keisengan mereka. Ada yang mengabarkan seolah ada kebakaran, tapi begitu ditanya jelasnya, mereka malah cekikikan. Ada yang nelpon sekadar tanya kalau mobil damkar lewat daerahnya enggak," cerita petugas piket Dinas Damkar Garut Supriatna, Selasa (11/8/2020).

Bukan hanya itu, lanjutnya, bahkan ada penelpon yang hanya memperdengarkan decakan mulut yang sedang makan sesuatu. 

Menurut Supriatna, para penelpon iseng itu kerap menelpon menggunakan nomor berbeda atau dihilangkan nomornya hingga tak bisa dilacak. Selain masih berusia remaja, kebanyakan penelpon iseng itu juga tak sendirian saat menelpon.

"Disebut mengganggu, ya, enggak terlalu. Sedikitlah. Kita pun sering menasihati mereka kalau isengnya berlebihan. Kita maklumi aja, mereka masih remaja. Usia-usia masih serba penasaran akan sesuatu," kata Supriatna.

Menyikapi telepon iseng yang memberitahukan adanya sesuatu kejadian kebakaran misalnya, sambung Dani, pihaknya sudah berpengalaman bagaimana membedakannya dengan penelpon yang serius. Baik dari etika cara menelpon hingga detail kejadian.

Selain berharap para penelpon iseng menghentikan kebiasaannya, Supriatna juga menghimbau warga yang hendak meminta bantuan Damkar atas sesuatu kejadian agar menelpon secepatnya begitu peristiwa terjadi. Hal itu agar petugas Damkar bisa merespon secepatnya. Pihak Damkar pun tak menjadi obyek yang selalu dituding datang terlambat ke lokasi.

"Jangan sampai ada kejadian seperti kebakaran di Cisanca dulu. Kejadian pukul sepuluh malam, tapi warga baru menghubungi kita pukul sepuluh siang. Kalau seperti itu kan, bisa apa kita?" ucapnya.

Dia menambahkan, selain menghungi nomor kontak Dinas Damkar langsung, warga juga bisa memberitahukan pihak aparat pemerintahan desa/kelurahan, kecamatan, atau unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan setempat jika terjadi peristiwa yang mesti segera mendapatkan bantuan pihak Damkar.

"Pernah ada kejadian, seorang warga ibu-ibu dari Leuwigoong datang ke kantor dengan naik sepeda motor memberitahukan ada kebakaran di daerahnya. Sedangkan jarak dari kantor kita ke Leuwigoong itu jauh, sekitar 21 kilometer. Nah, itu kan enggak efektif. Padahal cukup memberitahukannya ke Polsek atau Koramil setempat yang tentu akan langsung ditindaklanjutinya ke kita," imbuhnya. (Zainulmukhtar)