Sampurasun Atep, Ini 11 Pemain yang Jadi Pejabat Politik, dari Menteri Sampai Presiden

Sampurasun Atep, Ini 11 Pemain yang Jadi Pejabat Politik, dari Menteri Sampai Presiden

INILAH, Bandung - Legenda Persib, Atep Rizal, resmi diusung koalisi PDIP-PAN maju di Pilkada Kabupaten Bandung. Dia maju sebagai bakal calon wakil bupati, mendampingi Yena Iskandar Ma'soem.

Atep bukan pemain pertama yang ikut kontestasi demokrasi. Banyak pemain yang pensiun, lalu jadi anggota parlemen, menteri, atau bahkan presiden. Siapa saja mereka?

Romario

Bintang Brasil ketika memenangkan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat ii terpilih jadi anggota Dewan Perwakilan di Brasil pada 2010. Empat tahun kemudian, mantan striker Barcelona ini jadi senator. Dua tahun berikutnya, dia ikut pemilihan gubernur Rio de Janeiro. Sayangnya, Romario hanya menduduki urutan keempat.

Sejak jadi politisi, Romario fokus pada persoalan korupsi di sepak bola. Tak heran, dia paling keras bersuara menantang Piala Dunia 2014 di Brasil.

Pele

Pele pernah menjadi Menteri Olahraga Khusus Brasil. Anehnya, pada saat yang sama, dia juga menjadi pencari bakat bagi klub Inggris, Fulham.

Sebagai Menteri Olahraga, dia bahkan menciptakan Undang-Undang Pele, dimaksudkan untuk mengurangi korupsi di sepak bola Brasil. Tapi, Pele meninggalkan kursi politik itu pada 2001. Ironisnya, itu karena namanya dikait-kaitkan dengan skandar korupsi. Sejak itu, dia bekerja untuk Unesco dan PBB.

Sol Campbell

Saat terus berupaya mencari pekerjaan sebagai pelatih, Sol Campbell juga bergabung sebagai anggota Partai Konservatif di Inggris. Sol Campbell adalah mantan pemain nasional Inggris, pernah membela Tottenham Hotspur dan bersinar di Manchester United.

Dia sempat berpikir menjadi anggota parlemen pada 2014 sebelum namanya masuk kandidat calon Wali Kota London. Sayangnya, saat itu, dia justru gagal meraih tiket dari partainya sendiri.

Hakan Sukur

Dikenal dengan julukan Banteng Bosphorus, Hakan Sukur adalah pemain terbaik Turki. Dia menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah bagi Galatasaray dan tim nasional Turki sebelum kini tersingkir ke Amerika Serikat dan tak bisa pulang karena aktivitas politiknya.

Memilih masuk dunia politik saat kariernya hendak berakhir, Hakan Sukur menjadi anggota parlemen dari partai penguasa. Dia memiliki hubungan dekat dengan pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan dan ulama Fethullah Gulen. Ketiganya bahkan pernah foto bersama saat Hakan Sukur pertama kali menikah.

Hakan Sukur kemudian memilih meninggalkan partai dan tetap menjadi anggota independen di parlemen pada 2013. Saat itu, ketegangan mulai terjadi antara pengikut Gulen yang ingin Turki jadi negara lebih Islami dan Erdogan.

Tahun 2016, Gulen dipersalahkan atas kudeta yang gagal. Buntutnya, para pendukung atau pihak yang memiliki koneksi dengan dirinya ditangkap. Hakan Sukur, salah satu pendukung Gulen, langsung terbang ke Amerika.

Hakan Sukur dituduh menyerang presiden melalui Twitter dan jika saja tuduhan itu terbukti, dia bisa menghadapi ancaman hukuman mati kalau pulang ke Turki.

Roman Pavlyuchenko

Pernah disebut-sebut sebagai pemain hebat Ukraina setelah Andriy Shevchenko, Roman Pavlyuchenko berhasil merebut satu kursi di Dewan Kota. Pavlyuchenko adalah pemain nasional Ukraina yang pernah memperkuat Tottenham Hotspur.

Salah seorang komentator menyindir aktivitas politik Pavlyuchenko. Katanya, Pavlyuchenko menjadi anggota Dewan Kota hanya karena saat itu dia lagi mengalami krisis finansial.

Tapi, Pavlyuchenko membantahnya. "Saya siap membantu dengan nasihat dan dengan kontribusi konkret terhadap peluang pengembangan pelatihan dan olahraga," katanya.


Gianni Rivera

Hanya tiga pemain yang tampil lebih sering untuk AC Milan ketimbang Gianni Rivera. Setelah gantung sepatu, mantan bintang tim nasional Italia ini pun didapuk menjadi wakil presiden klub.

Dia kemudian masuk ke panggung politik, menjadi anggota parlemen. Dia bertugas di bawah Menteri Pertahanan dan menjadi anggota Parlemen Eropa pada 2005-2009.

Kakha Kaladze

Gantung sepatu pada 2012, mantan bek AC Milan Kaka Kaladze langsung menjadi anggota parlemen di Georgia. Dia menjadi Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Energi di bawah kabinet Bidzina Ivanishvili.

Dia meninggalkan parlemen pada 2017 dalam upaya maju pada pemilihan Wali Kota Tbilisi. Hebatnya, Kaka Kaladze memenangkan pemilihan tersebut dan menjadi Wali Kota Tbilisi, ibu kota Georgia itu, sampai sekarang.

George Weah

Banyak yang kaget ketika George Weah jadi Presiden Liberia. Tapi, dia sudah melakukan kerja-kerja politik bertahun-tahun.

Mantan bintang AC Milan ini maju pada Pemilihan Presiden Liberia tahun 2005. Saat itu, dia gagal. Ada yang bilang, dia tak cukup terdidik. Itu sebabnya, dia pergi ke Amerika Serikat menempuh pendidikan.

Tahun 2014, setelah kandidasinya untuk Pilpres gagal lagi, dia terpilih sebagai anggota Senat. Dan pada kesempatan ketiga, Weah akhirnya terpilih menjadi Presiden Liberia dan diambil sumpahnya pada 2018.


Grzegorz Lato

Dia top skor Piala Dunia 1974. Bersama Michel Platini, dia adalah pemain kunci yang membawa Juventus ke puncak kejayaan di eranya.

Selepas jadi pemain, Lato beralih jadi pelatih. Hanya 11 tahun dia betah sebagai pelatih, politik kemudian menjadi titik baru perhatiannya.

Dia adalah anggota Aliansi Partai Sayap Kiri Polandia. Empat ahun dia jadi senator sebelum terpilih sebagai Ketua Asosiasi Sepak Bola Polandia.

Titi Camara

Setelah gantung sepatu, mantan pemain Liverpool dan West Ham ini pulang ke negara asalnya, Guinea. Sempat menjadi pelatih tim nasional pada 2009, dia kemudian menjadi mantan atlet pertama yang memegang pos pemerintahan di negaranya.

Camara terpilih sebagai Menteri Olahraga pada kabinet Presiden Alpha Conde. Meski Conde tetap bertahan sebagai presiden, tapi Camara hanya bertahan dua tahun sebagai menteri. Dia terkena reshuffle.

Victor Orban

Nah, nama ini memang tak akrab di panggung sepak bola. Tapi, Victor Orban adalah pemain profesional yang membela klub Hungaria, FC Felcsut. Setelah gantung sepatu, dia menjadi pendana Felcsut FC, mendirikan Ferenc Puskas Academy. Salah seorang putranya, Gaspar, keluaran Akademi Puskas itu.

Orban memang sudah lama tertarik politik. Di usia 14 tahun, dia sudah jadi Sekretaris KISZ, organisasi komunis muda di Hungaria. Setelah mengikuti wajib militer, dia mengakui jadi pendukung rezim komunis adalah kesalahan.

Orban menjadi Perdana Menteri Hungaria sejak 2010. Sebelumnya, dia juga anggota kabinet sepanjang 1998-2002.