Begini Kisah Makelar Tanah Bentukan Kadar Slamet di Kasus RTH

Begini Kisah Makelar Tanah Bentukan Kadar Slamet di Kasus RTH
Adang Iskandar (INILAH/Bambang Prasethyo)

NILAH, Bandung - Tim makelar tanah bentukan terdakwa Kadar Slamet menyebutkan lahan yang dibebaskan bukan saja yang jadi target ruang terbuka hijau (RTH). Tapi yang berdampingan pun ikut dibebaskan. 

Hal itu diungkapkan Adang Iskandar saat dihadirkan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan RTH Kota Bandung, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (12/8/2020). 

Adang dihadrikan sebagai saksi untuk tiga terdakwa sekaligus, yakni Herry Nurhayat, Kadar Slamet, dan Tomtom Dabul Qomar. Adang merupakan tim makelar yang ditugaskan Kadar Slamet untuk mencari lahan yang akan dibebaskan untuk kepentingan RTH. 

Dalam kesaksiannya, Adang menyebutkan, diperintahkan oleh Kadar untuk mencari lahan untuk pengadaan RTH. Sistemnya dipanjar dulu dan ditalangin oleh Kadar, setelah diajukan ke Pemkot baru oleh Kadar dibayarkan ke pemilik tanah. 

"Para pemilik tanah kebanyakan para petani. Saat akan dibeli, mereka minta tanda jadi. Kami dipinjami dulu oleh Pak Kadar untuk bayar panjar kepada mereka," katanya di persidangan. 

Ia mengungkapkan, tim yang dikoordinirnya hanya bertugas mencari tanah dan melengkapi semua persyaratan administrasinya. Setelah semua lengkap kemudian disetorkan ke Dedi orang kepercayaan Kadar Slamet. 

Sementara untuk pencairan, lanjutnya, itu dilakukam oleh tim kuasa jual atau pemilik tanah. Tapi saat itu dirinya tidak jadi kuasa jual, tapi dari timnya ada juga yang ikut seperti saksi Karmana. 

Kendati begitu, Adang mengakui ada beberapa pencairan yang diketahuinya, dan jumlahnya lebih besar masuk ke Kadar daripada ke pemilik tanah. Karena saat musyarawah harga yang dikeluarkan Pemkot sebesar 175 persen, atau 100 persen sesuai NJOP plus 75. 

Selain membeli tanah sesuai kebutuhan RTH, lanjutnya, ada juga tanah milik warga yang terpaksa dibeli lantaran lokasinya bersebelahan dengan lahan yang akan dibebaskan untuk lahan RTH. 

"Saat itu saya kedatangan pemilik tanah. Dia menanyakan nasib lahannya, kenapa gak dibeli. Kan posisinya bersebelahan dengan yang akan diuat RTH. Makanya saya lapor ke Pak Kadar, dan dia akhirnya memerintahkan untuk membeli lahan itu," ujarnya.