Pajak Kendaraan Jabar Kembali Melonjak

Pajak Kendaraan Jabar Kembali Melonjak
net

INILAH, Bandung - Saat ini, pendapatan Jabar dari pajak kendaraan kembali mengalami lonjakan. Hal tersebut dinilai sebagai berkah, mengingat di masa awal pandemi Covid-19 sempat mengalami keterpurukan.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jawa Barat Hening Widiatmoko mengatakan, saat pandemi Covid-19 itu terjadi anomali animo warga membayar pajak kendaraan.

“Laporan Gubernur soal animo kenaikan pendapatan sektor pajak di masa pandemi ke Presiden itu betul. Sekarang ada tren positif, ada lonjakan, ini berkah buat kita,” ujar Hening, Rabu (12/8/2020).

Menurutnya, anomali tersebut terlihat berdasarkan fluktuasi angka realisasi pendapatan. Pada Januari-Maret atau sebelum pandemi itu ada di angka Rp707 miliar kemudian turun menjadi Rp631 miliar. Selama dua bulan pada April-Mei hanya mencapai Rp470 miliar. 

“Naik lagi di bulan Juni Rp643 miliar, kemudian di Juli sudah Rp738 miliar,” katanya.

Hening mengaku, pendapatan dari sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) I dan II terperosok tajam akibat pandemi Covid-19, khususnya pada April dan Mei lalu.

“Triwulan I 2020 itu masih aman tidak tergerus. Tapi mulai PSBB Bodebek di 15 April penurunan tajam terjadi, Bodebek itu kan kantong pendapatan kita yang gede-gede,” paparnya.

Dia mencatat biasanya per hari pendapatan di kawasan itu bisa mencapai 0,25-0,30% dari target limbung menjadi hanya tinggal 0,16%. Ditambah PSBB Bandung Raya, maka pendapatan April-Mei tambah anjlok. 

“Ada lagi faktor eksternal, Gaikindo ikut terpukul karena industri otomotif periode itu berhenti produksi, akibatnya penjualan kendaraan baru turun,” katanya.

Mulai Juni lalu, bertepatan dengan relaksasi PSBB animo wajib pajak mulai bergerak naik. Terlebih dengan adanya kemudahan pembayaran pajak lewat e-Samsat dan aplikasi Samsat Jebret menjadi salah satu faktor pendukung.

"Ditambah program triple untung bebas denda, instruksi Kapolri ada perpanjangan sampai akhir Juli. Program itu awalnya hanya sampai April kami perpanjang,” ujarnya.

Sejak Juni, pendapatan kembali pulih per harinya ke angka 0,30% dari target. Diskon pajak dan denda pajak pun kini diperpanjang hingga akhir tahun 2020. “Kini kondisinya bahkan sudah mencapai 0,40%. Istimewa, masyarakat itu meski terdampak ekonomi, tetap mau membayar pajak,” katanya.

Kondisi yang mulai pulih ini menurut Hening juga selaras dengan instruksi Menteri Dalam Negeri agar daerah memberikan relaksasi pajak daerah pada masyarakat. Menurutnya program pembebasan denda pajak hingga akhir tahun merupakan bentuk pemenuhan instruksi tersebut.

Bapenda Jabar mencatat semester I 2020 ini pendapatan daerah sudah mencapai 44% dari target dengan realisasi sebesar Rp16,2 triliun. Sementara dari sektor pendapatan asli daerah sudah mencapai 42% dari target dengan realisasi Rp8,9 triliun. 

“Memang jangan dibandingkan secara year on year dengan 2019, tapi di masa pandemi seperti ini realisasi ini membuat kita lega,” pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)