Ini Bahaya Covid-19 pada Pasien Penyakit Penyerta

Ini Bahaya Covid-19 pada Pasien Penyakit Penyerta
ilustrasi

INILAH, Jakarta - Pandemi covid-19 sedang berada di antara kita saat ini. Dinyatakan oleh WHO (World Health Organitation), covid-19 ada sejak awal maret 2020.

VIrus covid-19 bisa menyerang dengan cepat kepada pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Lantas bagaimana hal tersbeut bisa terjadi infeksi begitu cepat?

Virus yang dikenal dengan nama Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini ada di Indonesia dengan tingkat kematiannya di Indonesia cukup tinggi dibandingkan di Wuhan, China. Bisa dilihat di Indonesia mencapai tingkat kematian 8,9 persen.

Virus covid-19 menjadi sangat cepat menjalar ke pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid karena bisa menginfeksi lebih dasyat.

Perlu diketahui, penyakit penyerta atau komorbid adalah kondisi gangguan medis kronis yang sudah ada sejak lama di dalam diri seseorang, bukan penyakit yang tiba - tiba muncul.

Penyakit tersebut antara lain, diabetes, hypertension, penyakit saluran pernafasan atau penyakit paru - paru obstruktif kronis, penyakit kardiovaskulr, penyakit ginjal, keganasan, serta obesitas.

"Penyakit yang pelan - pelan ngikut terus, dia akan ngintil terus kemana kita pergi," kata DR med. Dr. Maya Surjadjaja M Gizi, SpGK, International Anti Aging Fellowship Clinical Nutrition Specialist, saat webinar bersama Kalbe Hydrococo, Jakarta, Selasa, (12/08/2020).

 

 

Masih menurut Maya, penyakit penyerta tersebut memang tidak menular, tetapi penyakit kronis. Tetapi meski tidak menular, penyakit ini bisa membuat penderitanya cepat terinfeksi covid-19.

"Kita liat di Wuhan yang pertama kali terkena dampak covid-19,, 20 - 51 persen mempunyai satu penyakit penyerta, yang paling sering ditemui ada dua, adalah diabetes ada sekitar 10 - 20 persen, dan penyakit kardiovaskular mencapai 7 - 40 persen," tambahnya.

Bagaimana kondisi pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid? Maya menjelaskan, seseorang yang memiliki penyakit komorbid keadaan tubuhnya menjadi low-grade chronic systemic inflammation. Artinya, jadi peradangannya tidak meradang, seperti merah, bengkak, panas, nyeri, tidak seperti itu. Jadi dia silent inflammation. Menjadi stroke itu butuh waktu lama.

"Tetapi, reaksi terhadap respon peradangan lebih kuat. Jadi ketika virusnya (covid-19) masuk dia cepat sekali reaksinya. Istilahnya dia sensi banget. Akhirnya menjadi badai, sindrom badai sitokin, badai badai sitokin. Itulah mengapa diperlukan masuk ICU, menggunakan ventilator dan dapat berujung kepada kematian," tegas Maya.

Mengapa orangtua perlu kita jaga?

Karena pada orangtua, imunitasnya lebih rentan. Orangtua menjadi sosok yang rentan dan kronik inflamasi. Fungsi metabolismenya menurut.

"Jangankan covid-19, misalnya demam berdarah, chikungunya, typhus, yang sering menjadi bingung kita mirip mirip dengan covid-19 gejalanya sama. Angka kematian sangat tinggi mencapai 48,1 persen untuk penyakit penyerta yang terserang covid-19, banyak studi lain angka kematian lebih tinggi sampai 80 persen," tambah Maya.

Air minum kelapa menjadi salah satu yang membantu. Menurut beberapa studi, terbukti air kelapa sangat baik untuk penyakit hipertensi, diare, anti oksidan, dan bisa rehidrasi.

"Untuk orang yang mengalami darah tinggi, bisa mengkonsumsi 300 ml, dua kali per Hari. Kemudian untuk yang suka olahraga, penelitian mengatakan cairan tubuh diganti 120 persen dari cairan yang hilang ketika olahraga, dan satu jam setelah olahraga," ungkapnya.

Bagaimana keamanan air kelapa sebagai minuman? Sangat aman jika  dibuat sebagai minuman. Kalau untuk anak - anak, kemungkinan aman sebagai minuman dengan dosis yang wajar. Untuk kehamilan dan menyusui, belum ada data penelitian yang cukup menjelaskan hal tersebut.

Namun, mengkonsumsi air kelapa harus hati - hati karena memiliki kadar kalium yang tinggi. Untuk pasien yang minum obat darah tinggi, harus kira - kira juga. Kemudian para orang yang memiliki gangguan ginjal, arena kandungan kalium pada air kelapa cukup tinggi. (inilah.com)