Masih Rugi, Pengusaha Hotel Dan Restoran Butuh Pinjaman Lunak

Masih Rugi, Pengusaha Hotel Dan Restoran Butuh Pinjaman Lunak
istimewa

INILAH,Bandung- Meski hotel dan restoran sudah kembali dibuka pada Masa Kebiasaan Baru (AKB), tetapi okupansi hotel dan restoran tersebut masih jauh dari normal. Para pengusaha hotel dan restoran berharap ada dorongan dari pemerintah kepada perbankan, agar bisa memberikan pinjaman lunak.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung, Use Juhaya mengatakan, meskipun pada saat pembukaaan kembali hotel dan restoran terjadi peningkatan okupansi, tetapi jumlahnya masih jauh dari kondisi normal. Pada saat awal pandemi Covid 19, okupansi hotel hanya mencapai angka 0 sampai  5 persen. Sedangkan saat ini, okupansi hotel yang berdiri dilingkungan objek wisata hanya mencapai  50 persen. Sedangkan, okupansi restoran bermacam macam, ada restoran yang okupansinya 35 persen sampai  75 persen. Misalnya, restoran yang berada diwilayah lintasan, seperti Nagreg, yang okupansinya sudah bagus.

“Okupansi hotel masih menurun dikarenakan corporate belum berkegiatan di hotel. Sedangkan, okupansi restoran di objek wisata masih belum pulih karena belum diperbolehkannya wisata grup,” kata Use, Jumat (14/8/2020).

Use mengatakan, untuk bantuan permodalan hingga saat  masih belum ada. Pihaknya berencana mengajukan bantuan permodalan dalam rangka pemulihan. Saat ini, bantuan yang diberikan oleh pemerintah hanya pemotongan pajak hotel dan restoran sebesar 30 persen. Tapi, pemotongan pajak tersebut belum terasa manfaatnya, karena memang omzet dari hotel dan restoran masih sedikit. Bahkan, untuk hotel dan restoran yang masih tutup, mereka sama sekali tidak memiliki pendapatan.

“Kami berharapnya untuk pajak jangan dilakukan penarikan dulu,” ujarnya.

Pihaknya juga berharap, pemerintah bisa mendorong perbankan untuk bisa memberikan pinjaman lunak kepada para pelaku usaha hotel dan restoran. Termasuk dilibatkan oleh pemerintah dalam proses pemulihan. 

“Terus terang saja sampai saat ini pemilik usaha belum mendapatkan untung. Tapi, kita tetap bersyukur bisa mempekerjakan kembali karyawan,” katanya.

Use melanjutkan, saat ini sebanyak 75 persen pegawai sudah kembali bekerja sedangkan sisanya masih dirumahkan. Di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), seluruh hotel dan restoran telah membuat surat pernyataan terkait kewajiban menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid 19. Tentunya, PHRI Kabupaten Bandung bertugas sebagai pengawas penerapan protokol kesehatan itu.

“Kalau hotel-hotel berbintang pasti menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Tetapi, kalau penginapan berskala kecil masih kurang perhatian dalam menerapkan protokol kesehatan. Karena, mungkin kendalanya adalah anggaran dan wawasan. Guna meningkatkan okupansi baik hotel dan restoran, kami selalu menggelar sosialisasi yang bekerja sama dengan Dinas Parwisata dan Budaya Kabupaten Bandung,” katanya.(rd dani r nugraha).