Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 2)

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 2)
ilustrasi

HUJAN deras mengguyur Jakarta. Kilatan cahaya dan petir menggelegar mewarnai keheningan malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang sudah mengumumkan di media massa bahwa saat ini di seantero wilayah Indonesia memasuki musim hujan. Selamat datang, kawan! Ini adalah berkah dari Allah SWT.

Perumahan elit di kota Metropolitan ini tampak semakin sunyi. Di salah satu rumah mewah, sejumlah pejaga mulai mengantuk. Tapi di dalam rumah, masih ada aktivitas seseorang, meski waktu telah larut malam. Ia mengendap-endap dan berupaya agar langkahnya tidak terdengar. Tiba di sebuah kamar, ia mengetuk pintu dengan perlahan.

Di dalam kamar, dengan tubuh limbung karena terbangun dari tidur, Pelangi, segera membuka pintu dan kaget ketika melihat wajah yang ada di hadapannya. Tangan kanan orang itu sangat cepat menutup mulut Pelangi dan mendorongnya ke dalam. Pelangi dijatuhkan di tempat tidur dan sekuat tenaga berontak dari dekapan seseorang yang bertubuh kekar.

"Mas, jangan, Mas. Saya, saya, saya," suara Pelangi lirih disela-sela jemari orang tersebut yang masih menutup mulut perempuan muda ini.

"Awas kalo berteriak, gue cekik lo!"

Lelaki itu lantas melampiaskan nafsu bejatnya, di tengah rontaan Pelangi yang sudah kehabisan tenaga. Dan semua telah terjadi. Kemudian lelaki itu bergegas ke luar kamar sambil mengancam, "Kalo lo buka rahasia ini, gue habisi,lo. Jadi, jangan ngomong sama yang lain. Tutup mulut lo, cukup kita aja yang tau!"

Kilatan cahaya dan menggelegarnya suara petir di luar rumah, mengiringi isak tangis Pelangi. Malam pun semakin pekat dan pucat. Sepi menyelinap, masuk ke relung kalbu gadis manis yang masih polos dan tak berdaya ini. Pelangi menjatuhkan deritanya di peraduan.

Keesokan harinya, seperti biasa kesibukan di rumah pengusaha Wacana Pradipta tidak ada yang berbeda. Rumah yang ditempati keluarga ini, sebelum menjalani tugas rutin, hampir setiap pagi selalu sarapan bersama istri dan anaknya yang semata wayang alias anak tunggal.

"Bagaimana dengan persiapan ujian akhir kamu," ujar Wacana Pradipta sambil menyeruput teh manis dari cangkir buatan Italia itu. Matanya masih memandangi anaknya.

"Nggak ada masalah, Pi. Its okey," jawab Gomma. Mulutnya terus mengunyah roti.

"Oke, ya, Mi, Pi, aku ke sekolah. Ntar telat, nih," ujarnya dan mengambil tas serta kunci mobil.

"Langsung pulang ke rumah. Jangan hangout terus," kata Nyonya Wacana Pradipta, Melati Warni, maminya Gomma.

Tanpa menoleh lagi kepada orangtuanya, Gomma langsung ke garasi, masuk ke mobil sport-nya. Sekuriti dan sejumlah pengawal tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanda hormat kepada anak majikannya itu.

Di jalan, Gomma menekan gas mobil dan menyalib Metromini yang sarat penumpang. Blas mobil mewah warna merah itu membelah Jakarta.

Tak lama, Wacana Pradipta juga bergegas meninggalkan ruang makan dan keluar menuju mobil yang sudah ditunggu sopir, asisten pribadi, dan bebarapa pengawalnya sudah siap di mobil lain. Pagi terus merangkak ditingkahi sinar mentari yang cerah.

Nyonya Wacana Pradipta juga bersiap menuju kantornya. Wanita pengusaha ini sangat aktif diberbagai kegiatan sosialita. Pergi pagi pulang malam, bersaing dengan suaminya yang super sibuk.

Rumah kembali senyap. Hanya Pelangi bersama ibunya dan beberapa asisten rumah tangga lain sudah bekerja sejak pagi. Aktivitas seperti biasa, tak ada yang aneh di dalam rumah pejabat penting ini. Hanya perasaan dan hati Pelangi yang luluh-lantak. Hancur lebur. Berantakan, berserakan, dan tercecer menderita di relung hatinya yang paling dalam.

Usai mengerjakan tugasnya mengepel lantai, membersihkan taman dan halaman rumah, Pelangi langsung masuk kamarnya dan melaksanakan sholat Dhuha sebanyak delapan rakaat. Ia tenggelamkankan dukanya dan berdoa mohon ampun kepada Allah SWT yang maha segala-galanya atas peristiwa semalam yang dialaminya.

Pelangi menyadari dirinya hanya anak dari seorang asisten rumah tangga alias pembantu yang mencari nafkah di rumah seorang konglomerat. Pikirannya kalut, harus bagaimana menyikapi nasibnya yang tragis ini. Semakin kecil perasaannya, sehingga tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya berdoa lagi kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk untuk mengatasi masalah berat ini. Derai tangisan terus membasahi wajahnya.

Di sudut kamar, seakan ia melihat wajah ayahnya yang telah tiada lima tahun lalu. Bayangan itu memperlihatkan kesedihan yang teramat pilu. Pelangi semakin menangis dalam diam, setelah wajah ayahnya menghilang begitu saja dalam benaknya. [Bersambung]