Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 3)

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 3)
ilustrasi

SEBULAN berlalu dari peristiwa tragis tersebut, Pelangi merasakan ada perubahan di tubuhnya. Nafsu makannya menjadi-jadi dan tanpa disadari berat badannya mulai tambah. Sesekali kepalanya pusing dan mual. Yang jelas, Pelangi makin ketakutan ketika dirinya sudah tidak lagi kedatangan "tamu istimewa" setiap bulannya. Ini petanda apa, ya, begitu pikiran Pelangi bertanya-tanya.

Perubahan sikap dan badan Pelangi ternyata dilihat oleh Bumiyati, ibunya Pelangi. Selepas sholat Isya, ibunya bertanya, "Ada apa, Nduk. Ibu perhatikan kamu bingung belakangan ini. Apa yang kamu pikirkan. Badan kamu juga tambah gemuk."

Pelangi diam. Tersentak, kaget dengan pertanyaan itu.

"Ayo cerita saja. Ada apa? Mau pulang ke kampung? Kita sudah ndak punya kampung lagi, setelah bapakmu meninggal. Kita ndak punya saudara lagi. Kita hanya berdua saja," ujar Bumiyati. Matanya menatap wajah Pelangi penuh kasih sayang.

Pelangi tertunduk.

"Ya, sudah kalo kamu ndak mau cerita. Sudah sholat belum?"

Pelangi tetap diam, makin menundukkan kepalanya. Namun, di sudut matanya mulai berkaca-kaca.

"Lho, kok, kamu nangis, ya," selidik ibunya.

Isak tangis Pelangi akhirnya pecah mewarnai kamar. Akhirnya, Pelangi memeluk ibunya dengan kencang. Akhirnya, tangisan Pelangi semakin menjadi-jadi. Akhirnya, Pelangi menceritakan peristiwa paling buruk yang dialaminya. Akhirnya, ibu dan anak ini menangis bersama. Akhirnya, hanya pelukan mereka saja yang setia mendengar suara hati kedukaan.

Malam pun turun.

Di sepertiga akhir malam, ibu dan anak melaporkan penderitaannya kepada Allah SWT. Di akhir sholat Tahajjud dan sholat Witir, mereka berdoa dengan khusyuk. Mohon ampunan dan petunjuk agar memperoleh solusi terbaik. Mereka meyakini doa adalah jembatan komunkasi terbaik kepada Maha Pencipta, Allah SWT.

Sejak peristiwa malam yang menimpa Pelangi, memang ibunya meminta anaknya tidur di kamarnya. Sebelumnya, majikannya menyediakan dua kamar masing-masing untuk Pelangi dan ibunya. Dengan alasan yang masuk akal, akhirnya majikannya menyetujui dua asisten rumah tangga itu tidur dalam satu kamar.

"Nduk, kejadian ini harus kita bicarakan dengan Nyonya Besar," ujar ibunya. Pelangi diam. Hanya menunduk. Tak berani menatap wajah ibunya .

Sesekali Pelangi merasakan mual, ingin muntah, tapi ditahannya agar tidak terdengar keluar kamar. Ibunya kembali mendesak agar masalah ini dibicarakan kepada majikannya. Pelangi memandangi ibunya dengan iba, dan menangguk kecil tanpa ekspresi.

Mencari waktu paling tepat, Pelangi dan ibunya menghadap majikannya. Mereka mengungkapkan isi hati mulai dari kejadian hingga saat ini dengan kondisi Pelangi yang diperkirakan hamil.

Sudah pasti si Nyonya Besar tidak percaya begitu saja mendengar info tersebut. Malahan, Pelangi dan ibunya mendapat caci-maki dengan kata-kata yang pedas menampar wajah.

"Kalian buat fitnah seenaknya saja, ya. Anak saya tidak mungkin berbuat bodoh seperti itu. Anak saya berpendidikan dan dari keluarga terhormat, masak suka sama pembantu. Kalian bisa saya laporkan ke polisi sudah mencoreng keluarga kami," Nyonya Besar marah besar.

Pelangi dan ibunya diam. Gemetar, wajah pucat, takut bukan main menari-nari di wajah mereka. Isak tangis mulai terdengar lirih, menahan perih teramat sangat, melingkari jiwa.

"Besok kalian boleh pulang. Jangan kerja di rumah ini lagi. Saya tidak mau aib yang kalian buat sendiri ditimpakan kepada keluarga kami. Apa kalian tidak tau apa, Tuan Besar orang penting dan terkenal," nyerocos lagi suara Melati Warni, si Nyonya Besar yang bersuara besar.

"Siapkan dan kemas pakaian kalian. Besok Pak Ujang yang mengurus semua keperluan kalian untuk pulang kampung," tegasnya lagi.

Pelangi dan ibunya diam saja. Menunduk, menunduk, dan menunduk lagi.

"Mengertikan! Jawab, jangan diam saja!"

"Iya, iya, Nonya Besar," lirih jawab ibunya Pelangi sambil terisak.

"Maafkan kami kalo selama ini sudah menyusahkan Nonya Besar dan keluarga. Kami juga terimakasih dengan kebaikan Nyonya Besar dan keluarga yang telah menerima kami bekerja di sini selama lima tahunan," ibunya Pelangi bicara tanpa menatap Nonya Besar.

"Ya, sudah sana kalian kembali ke kamar. Ingat, ya, kalian jangan bicara apa-apa dengan aib yang kalian buat sendiri. Bukan nanti ditolong orang lain, malahan kalian malu dengan perbuatan kalian ini," cetus Nyonya Besar.

Malam semakin jatuh. Pelangi dan ibunya beranjak ke kamarnya.

Pagi harinya, Pelangi dan ibunya meninggalkan rumah pengusaha kaya raya tersebut. Hanya sekali mereka menoleh ke belakang memandangi rumah yang besar itu. Pak Ujang sudah menunggu di mobil untuk membawa ke Stasiun Kereta Api Gambir, Jakarta Pusat. Mentari menyembulkan wajah dan memainkan sinarnya hingga menyentuh wajah Pelangi dan ibunya.

Di tengah perjalanan, ibunya Pelangi memohon kepada Pak Ujang agar diturunkan saja di jalanan. Lantas saja Pak Ujang menepikan mobil dan menoleh ke belakang sambil mengernyitkan alis mata.

"Jangan, Bu Yati. Nanti saya kena marah Nyonya Besar," ujar Pak Ujang.

"Biarkan kami turun di sini saja, Pak," pinta Pelangi.

"Bilang saja ke Nyonya, kalo Pak Ujang sudah mengantar kami ke stasiun," ibunya Pelangi menimpali.

"Jadi kalian mau ke mana. Nggak mau pulang kampung?"

"Iya, Pak. Kami mau ke rumah saudara dulu yang tinggal di sekitar sini," ungkap ibunya pelangi. Ia terpaksa berbohong, karena di Jakarta tidak satu pun memiliki kerabat.

"Ya, sudah. Asal kalian jangan balik lagi ke rumah Nyonya Besar. Nanti malahan saya yang dipecat," kata Pak Ujang sambil membuka pintu samping mobil. Pelangi dan ibunya berjanji dan menganggukkan kepala. Kemudian Pak Ujang meninggalkan mereka di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

"Nduk, kita istirahat dulu, yuk. Cari tempat yang bisa berteduh. Di sana," kata ibunya Pelangi menunjuk suatu tempat.

Pelangi mengikuti keinginan ibunya sambil menenteng tas. Pohon di kawasan Taman Menteng menjadi pilihan mereka untuk rehat sejenak. Sambil menarik nafas, Pelangi menengadahkan wajahnya ke langit, sepertinya berdoa meminta petunjuk Allah SWT dengan kondisi yang dialaminya ini.

Sementara lalu-lintas di kawasan tersebut sudah hingar-bingar. Para pengemudi motor serta pengendara mobil tidak menghiraukan nasib yang sedang dilakoni Pelangi dan ibunya. Masyarakat di Jakarta sibuk mencari nafkah, bergegas ke kantor masing-masing.

Siang mulai merangkak naik. Hawa panas dari matahari dan debu jalan mulai menyapa tubuh Pelangi dan ibunya. Alhamdulillah, di tengah musim hujan, hari ini ada selingan munculnya sinar mentari yang berpendar.

"Bu, kita mau ke mana sekarang?" suara Pelangi membangunkan ibunya yang beberapa menit lalu terlelap tidur di bawah pohon rindang.

"Ibu juga belum tau kita mau ke mana," ujarnya.

Tak terasa senja berlalu, adzan Magrib berkumandang dari masjid terdekat Taman Menteng itu. Pelangi dan ibunya beranjak menuju suara panggilan sholat dari Allah SWT. Penat, lelah, capek, dan entah apalagi, tak dihiraukannya.

Usai sholat Magrib, mereka masih di masjid. Sholat Isya pun datang. Pelangi dan ibunya tetap berada di ujung belakang masjid ini. Hingga marbot alias petugas kebersihan masjid menghampirinya.

"Maap, ye, ini udeh malem, kok, belum pulang. Ape baru dari kampung, ye," tanya marbot masjid dengan aksen Betawi.

"Bukan. Kami mau menumpang beberapa hari di sini, apa boleh, Pak," kata ibunya Pelangi.

"Boleh, sih, tapi di masjid ini nggak ade tempat buat tidur. Pegimane jadinye?"

"Ndak apa-apa, Pak. Kalo boleh kami menginap di emperannya saja. Pagi-pagi sebelum sholat Subuh, kami akan bangun dan membereskan tempat ini lagi. Setelah kami sholat Subuh, kami keluar dari masjid ini," pinta ibunya Pelangi. Dan, Pelangi yang ada disamping ibunya, diam saja. Matanya hanya sesekali menatap wajah marbot masjid.

"Ye, udeh, deh, kalo buat sementare ajeye, ane ijinin," ujar marbot masjid seraya berlalu dan menuju kamarnya untuk istirahat.

Pelangi dan ibunya menguap tanda kantuk datang. Hanya beberapa jam saja mereka tertidur. Pelangi dan ibunya mengambil air wudhu untuk sholat Tahajjud di sepertiga akhir malam. Mereka berdoa, menumpahkan perasaannya, memohon diberikan jalan keluar yang terbaik dari permasalahan yang menimpanya kepada Tuhan yang maha segala-galanya, Allah SWT.

Tak terasa sepertiga akhir malam ini berangsur menuju sholat Subuh. Para jamaah yang bertempat tinggal tidak jauh dari masjid ini mulai memasuki ruangan sholat. Bilal masjid mengumandakan azan Subuh. Jamaah mulai sholat sunnah qobliyah Subuh, kemudian sholat Subuh berjamaah dilaksanakan.

Pelangi dan ibunya ikut sholat Subuh berjamaah di ruang jamaah perempuan di belakang. Selesai sholat, Pelangi dan ibunya segera memasukkan mukena ke tas. Mereka lantas meninggalkan masjid dengan membawa tas masing-masing. Entah ke mana langkah mereka. Tak ada tujuan pasti. Yang pasti mereka membawa perasaan duka mendalam di tengah hiruk-pikuk lalu-lintas pagi di Metropolitan ini. [Bersambung]