Ridwan Kamil: Pandemi Jadi Ujian Jati Diri Bangsa

Ridwan Kamil: Pandemi Jadi Ujian Jati Diri Bangsa
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Istimewa)

INILAH, Bandung-Jati diri bangsa Indonesia sedang diuji pada massa pandemi Covid-19 ini. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjadi pemimpin upacara pengibaran bendera yang dilaksanakan di Gedung Sate, Senin (17/8/2020).

Dalam upacara yang digelar dengan tidak melibatkan terlalu banyak peserta ini, Ridwan Kamil mengatakan, ujian tersebut menitikberatkan pada  semangat gotong royong bangsa. Artinya, apakah dapat bersatu padu kemudian membawa bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan ataukah tidak. 

"Di masa pandemi ini, sebagai bangsa yang besar kita diuji jati diri kita, apakah kita dapat bersatu padu membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukan, kesehatan, ekonomi yang menghantam kita semua. Jangan biarkan pudar, modal sosial bangsa kita berupa semangat persaudaraan, semangat gotong royong dan semangat solidaritas," ujar Ridwan Kamil. 

Menurut dia, pandemi COVID-19 memang berdampak negatif bagi masyarakat khususnya dari segi ekonomi. Butuh kerja keras seluruh elemen masyarakat untuk bisa membangkitkan kembali perekonomian secara menyeluruh.

"Kita optimis dapat bangkit dari keterpurukan ekonomi. Pasti ada secercah cahaya di masa uram. Di balik kesulitan pasti ada jalan keluar. Jika ada masa terbenam akan ada masa terbit matahari," kata dia.

Kehadiran pandemi juga, menurut Emil -sapaan Ridwan Kamil- memunculka  berbagai persoalan multi dimensi di bidang kesehatan  hingga ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di Jabar bahkan tercatat terkoreksi hingga minus 5,9 persen. Meskipun kondisi ini terbilang lebih baik dibanding wilayah dan negara lain yang mengalami kontraksi contohnya Uni Eropa di bawah 14 persen.

Karena itu, bangsa Indonesia sepatutnya saling peduli dan menolong sebab marak sebangsanya yang masuk ke dalam kategori miskin akibat menurunnya pendapatan bahkan dirumahkan karena di-PHK. Intinya, setiap warga harus memberi yang terbaik bagi negerinya.

"Banyak saudara kita yang masuk kategori miskin, berkurang drastis pendapatannya, dirumahkan bahkan hilang pendapatan karena pemutusan hubungan kerja dalam situasi seperti ini, ibu pertiwi memanggil kita untuk bisa memberikan yang terbaik, apa yang ada pada kita dan dari apa yang kita miliki," tutur dia.

Lebih lanjut, Pemprov Jabar sendiri saat ini telah melakukan tes swab dengan metode PCR mencapai 180 ribu pengetesan. Angka itu merupakan yang terbanyak dibanding provinsi lain di Jabar kecuali DKI Jakarta.

Dia menambahkan, dari laporan level kewaspadaan atau zona risiko tanggal 3 Agustus hingga 9 Agustus, tidak ada wilayah di Jabar yang masuk ke dalam zona merah. Sementara itu, angka reproduksi kasus di Jabar dalam dua pekan terakhir ada di angka 0,86 dan dinilai masih terkendali.

"Ini mengartikan bahwa kasus masih bisa dalam kategori terkendali dan terus kita tingkatkan kewaspadaan dengan memperhatikan tiga aspek yakni epidemiologi, surveilans dan pelayanan kesehatan," ucap dia.

Dia memastikan, pemerintah serius dalam menangani pandemi dan menyelamatkan seluruh warga Jabar dengan menekan angka kematian, meningkatkan angka kesembuhan, dan memasifkan pelacakan ataupun layanan bagi pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi corona.

"Dalam pengendalian penyebaran COVID-19, pemerintah serta pemangku kepentingan bekerja secara serius, ilmiah, penanganan untuk menyelamatkan seluruh masyarakat, gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 Jabar bergerak cepat untuk mengendalikan 50 juta jiwa di Jabar," kata Emil. (riantonurdiansyah)