DPRD Jabar Dihantam Covid-19, Ketua Komisi V: Tetap Semangat!

DPRD Jabar Dihantam Covid-19, Ketua Komisi V: Tetap Semangat!
net

INILAH, Bandung - Total 38 orang di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat terpapar Covid-19, berdasarkan hasil tes swab yang digelar Rabu pekan lalu. Tujuh di antaranya para anggota dewan, sembilan ASN dan 22 non-ASN.

Ketua Komisi V DPRD Jabar Dadang Kurniawan mengaku prihatin atas apa yang menimpa koleganya tersebut. Dia berharap, para korban yang terpapar, tidak hanya yang ada di kantor legislatif tetapi juga kepada seluruh masyarakat untuk tetap semangat dan akan terus memberikan dukungan untuk menghadapi musibah tersebut.

“Saya pribadi dan mewakili Komisi V, akan selalu memberikan dukungan kepada teman-teman, serta kepada semua warga yang kena musibah ini untuk tetap semangat. Kita harus bisa bersama-sama menghadapi dan mengatasi persoalan ini,” ujar Dadang kepada INILAH, Selasa (18/8/2020).

Selain itu, pihaknya juga bakal mengevaluasi kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat berdasarkan catatan tersebut. Mengingat kata Dadang, hasil tes swab yang dilakukan di Gedung DPRD, Jalan Diponegoro pekan lalu, terbukti masih belum akurat ketika dilakukannya uji pemeriksaan ulang secara individu oleh beberapa anggota dewan di fasilitas kesehatan lain.

“Ada beberapa catatan dari kami, di Komisi V terhadap hasil swab Rabu lalu di DPRD. Ada salah satu kasus, teman kami di dewan. Ketika hasil tes swab di  kantor, hasilnya negatif. Tetapi ketika tes ulang di Kimia Farma, hasilnya positif. Nah ini akan menjadi catatan, akan pentingnya akurasi dalam pemeriksaan. Rencananya kami akan memanggil Kepala Dinas Kesehatan, untuk evaluasi kembali,” ucapnya.

“Ada beberapa saran dari teman-teman, agar ada tes bandingan yang netral. Sehingga kebenarannya bisa dipercaya. Kami juga meminta kepada teman-teman kami yang 38 orang itu untuk diperiksa ulang dengan lab yang berbeda, untuk memastikan kembali apakah mereka betul-betul terkena atau tidak. Ini juga akan jadi barometer untuk kasus lain. Jika nanti ternyata hasilnya kembali bertolak belakang, ini jadi bahan evaluasi lagi untuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain dalam uji swab,” sambungnya.  

Dadang berharap, Dinkes Jabar nantinya memiliki solusi treatment jitu dalam melakukan pemeriksaan, yang dapat memastikan jika tingkat akurasinya bisa mencapai 100%. Sebab menurutnya, akan sangat berbahaya andai dalam pemeriksaan ternyata hasilnya salah, karena akan dapat menambah jumlah korban.

“Saya berharap, di kemudian hari dalam pemeriksaan nanti hasilnya betul-betul bisa terpercaya. Jangan seperti kemarin, karena akan berbahaya sekali jika pada tes awal negatif tetapi pada kenyataannya positif. Sebab nantinya bisa menambah jumlah korban. Nah hal ini harus bisa kita hindari,” tandasnya. (Yuliantono)