Sejuta Upaya sang Pengacara untuk Bebaskan Iriyanto dari Dakwaan

Sejuta Upaya sang Pengacara untuk Bebaskan Iriyanto dari Dakwaan
Dinalara Butar-Butar. (Reza Zurifwan)

INILAH, Bogor- Dinalara Butar-Butar selaku pengacara terdakwa Iriyanto mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor bersiap diri dalam menghadapi sidang lanjutan keputusan sela pada Senin pekan depan.

Pasalnya, sidang lanjutan keputusan sela yang harusnya berlangsung kemarin di Pengadilan Tindak pidana korupsi (Tipikor) Bandung ditunda karena libur HUT Republik Indonesia ke 75 Tahun.

"Harusnya Senin kemarin sidang lanjutan keputusan sela majelis hakim di Pengadilan Tipikor Bandung, namun karena libur maka akan dilaksanakan pada Senin, (24/8) mendatang. Kami akan bersiap diri akan keputusan majelis hakim nantinya," ucap Dinalara kepada wartawan, Selasa, (18/8).

Advokat yang tergabung dalam Lembaga Bantuan Hukum Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) ini menerangkan berbagai upaya akan dilakukan pihaknya untuk membebaskan terdakwa Iriyanto dari jeratan Undang-Undang (UU) nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Juncto UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No.31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman hukuman penjara minimal selama 3 tahun dan maksimal 15 tahun dan denda minimal Rp 150 juta dan maksimal Rp 750 juta.

"Iriyanto ini kan terkena OTT Tipikor oleh Polres Bogor, hal ini yang nantinya akan kami bantah di Pengadilan Tipikor Bandung karena kami menduga ada unsur jebakan dalam kasus klien kami karena hingga saat ini tidak jelas siapa pemberinya sementara Iryanto diOTT karena dianggap penerima hingga kami anggap pasal tersebut tidak tepat karena jangankan membuka amplop berisi uang, menyentuh saja tidak," terangnya.

Selain itu, tutur Dinalara selama dua atau tiga kali pemberian uang suap atau gratifikasi izin Pengesahan Dokumen Rencana Teknis (PDRT) bangunan vila di Kecamatan Cisarua dan rumah sakit di Kecamatan Cibungbulang kliennya tidak pernah menerima uang ratusan juta rupiah tersebut.

"Klien saya yang tidak pernah berkomunikasi dengan pemohon izin tidak menerima uang suap sebelumnya baik yang Rp 95 juta  dan Rp 100 juta, sedangkan uang Rp 50 juta yang diamankan polisi di ruangannya itu ia tidak kuasai dan ada keanehan dimana pemberi uang  merupakan terdakwa kasus pemalsuan surat yang dibebaskan sementara beberapa hari sebelumnya dari titip tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pondok Rajeg, Cibinong," tutur Dinalara.

Atas dalih diatas, dosen di Fakuktas Hukum di Universitas Pakuan, Kota Bogor ini menjelaskan bahwa keluarga Iriyanto sudah melaporkan dugaan rekayasa OTT ini ke Propam Polda Jawa Barat.

"Saya beberapa hari lalu sudah mendampingi keluarga untuk melaporkan 
dugaan rekayasa OTT iji ke Propam Polda Jawa Barat, katanya mereka sudah memulai melakukan pemeriksaan baik saksi-saksi atau lainnya," jelasnya.

Dinalara melanjutkan selain akan meminta keterangan saksi-saksi dari jaksa penuntut umum, pihaknya juga akan menyiapkam saksi-saksi yang meringankan baik itu saksi peristiwa maupun saksi ahli.

"Kalau keputusan sela hakim tidak mengabulkan eksepsi kami, maka kami siap melanjutkan tahapan sidang selanjutnta dengan meminta keterangan saksi-saksi yang memberatkan ataupun menghadirkan saksi-saksi yang bisa meringankan atau membebaskan terdakwa Iriyanto," lanjut Dinalara. (Reza Zurifwan)