Erick Ingin Indonesia Jadi "Market" Mandiri dan Miliki Keunggulan

Erick Ingin Indonesia Jadi "Market" Mandiri dan Miliki Keunggulan
Menteri BUMN Erick Thohir. (antara)

INILAH, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir mendorong agar Indonesia bisa menjadi pasar yang mandiri dan memiliki keunggulan, baik dari segi nilai seni dan budaya, serta keunikan suku bangsa dari masing-masing daerah.

Menurut Erick, pembenahan ini penting karena pandemi Covid-19 yang masih melanda sejumlah negara, termasuk Indonesia, telah memberikan pelajaran agar tidak terlena dan segera membangun pasar perdagangan yang mandiri.

"Dari COVID ini kita diajarkan, negara yang mempunyai market besar, adalah negara yang memiliki keunggulan. Kita punya market yang besar, tetapi kita terlena, akhirnya market kita digerogoti. Kita tidak membangun agar market kita mandiri," kata Erick dalam sambutan pada Pencanangan Perdana Transformasi Sarinah di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan salah satu hal yang bisa diupayakan adalah memperbaiki rantai pasok dalam negeri, dengan tidak menutup peluang kerja sama dengan negara lain. Kerja sama tersebut, kata Erick, harus menguntungkan bagi kedua pihak (win-win)

Menurut dia, perbaikan rantai pasok dapat dilakukan dengan langkah transformasi dan kolaborasi antar-BUMN di Indonesia, tanpa merusak ekosistem yang sudah ada.

"Kita menggabungkan kekuatan BUMN sebagai supply chain yang luar biasa, tanpa memusuhi atau merusak ekosistem. Kerja sama kita dengan swasta, UMKM, BUMN, BUMDes dan lain-lain," tambah Erick.

Dalam kesempatan ini, ia juga menampik anggapan sejumlah negara yang memproyeksikan Indonesia menjadi salah satu negara yang runtuh perekonomiannya ketika Covid-19 mewabah.

Perkiraan itu tidak terbukti karena pandemi Covid-19 tidak berdampak pada neraca perdagangan Indonesia, yang masih mencatatkan surplus pada Juli 2020, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Erick pun mengapresiasi surplus neraca perdagangan Indonesia yang tercatat 3,26 miliar dolar AS pada Juli 2020, dengan total nilai ekspor 13,73 miliar dolar dan nilai impor 10,47 miliar dolar AS.

"Kalau dilihat dari hasil BPS, positif kita, bukan ekonomi, tapi antara ekspor dan impor malah membaik. Yang selama ini di benak kita harus impor terus karena Covid, ternyata defisit anggaran kita yang menjadi bagus. Nggak bubar juga ini negara dan nggak kelaparan juga," kata dia. (antara)