Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 5)

Di 1/3 Akhir Malam (Bagian 5)
istimewa

KEESOKAN harinya, Wacana Pradipta memimpin rapat bersama para direksi dan komisars, staf ahli, dan para manager, membahas acara program Peduli Rakyat untuk membangun sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus), merehabilitasi jembatan yang rusak, dan membagikan sembako di pelosok desa terpencil.

Di tengah rapat, ajudan menyodorkan HP kepada Wacana Pradipta. Terhenyak juga begitu melihat nama yang muncul di monitor HP. Wacana Pradipta menghentikan sementara rapatnya, kemudian bergegas pindah ke ruang kerja utama.

"Hah, ada apa, Mi!" ujarnya dengan suara bergetar. Kaget.

"Iya, Pi. Mami juga nggak menyangka si Pelangi dan ibunya masih berkeliaran di Jakarta. Jadi mereka nggak pulang kampung," sambil menarik nafas istrinya kembali bicara, "Apa yang harus kita lakukan, Pi," kata Melati.

"Mami dari mana infonya," tegas Wacana Pradipta.

"Mami sendiri yang lihat mereka di Jalan Diponegoro tadi. Si Pelangi lagi ngemis sama ibunya di parkiran gedung bioskop Metropole," ungkap Melati sambil memainkan jemari lentiknya di HP. Metropole adalah gedung bioskop kondang di Jakarta Pusat, tepatnya dipertigaan Jalan Diponegoro, Cikini, Proklamasi, yang sudah berganti nama beberapakali dan akhirnya kembali menggunakan nama Metropole. Gedung tersebut pernah bernama Megaria.

"Ya, sudahlah. Nanti malam kita bahasnya, ya. Sekarang Papi lagi pimpin rapat, Mi. Mami masih di jalan, ya?"

"Iya, Pi, mau rapat juga sama teman-teman dari para pengusaha Jakarta dan daerah membahas rencana pameran di London," jelas Melati.

"Oke, Mi, hati-hati. Papi hari ini mau pulang cepat ke rumah, besok kan mau ke Pontianak," Wacana Pradipta menutup Hp-nya.

Pagi beranjak siang. Suara adzan untuk sholat Dzuhur dari masjid di kantor Wacana Pradipta sudah berkumandang. Namun, rapat yang dipimpinnya masih berlangsung dan dilanjutkan makan siang bersama.

Malam harinya, sebelum tidur, Wacana Pradipta berbisik dengan istrinya sambil selonjorkan kedua kaki.

"Mi, soal si Pelangi dan ibunya sudah ada solusinya. Mami tenang saja, besok beres itu masalah," ujar Wacana Pradipta.

Ia menjelaskan rencana itu secara detail. Istrinya manggut-manggut tanda setuju.

Malam semakin kelam. Cahaya rembulan tidak muncul.

Di tempat terpisah, sekelebat dengan cepat mobil warna hitam berputar-putar di sepajang Jalan Diponegoro, Imam Bonjol, Cikini, dan sekitarnya. Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, itu sepi. Sesekali saja motor dan mobil seliweran.

"Itu kali target kita!" tiba-tiba pria 40 tahunan yang duduk di sebelah sopir menunjuk ke suatu obyek bergerak di tengah keheningan malam. Sopir mengurangi kecepatan mobil dan menghampiri dua sosok perempuan di pinggir jalan sedang tertatih-tatih.

"Iya, benar," kata pria yang duduk di bangku belakang mobil setelah mengamati foto yang dipegangnya berganbar wajah kedua perempuan tersebut.

Mereka saling bertanya dalam diri masing-masing ketika melihat wajah dua perempuan itu, mengingat targetnya mengenakan baju lusuh danberpenampilankumel. Tak ubahnya seperti tunawisma yang menjadi pengemis jalanan. Aneh, karena mereka tidak habis pikir, si bos yang memesan order kepada mereka, targetnya adalah gelandangan. Sementara si bos (pengorder) merupakan orang terpandang dan terkenal.

"Sikat aja, Bro," hampir serempak mereka berucap. Mereka sudah mengetahui secara detail target yang bakal dieksekusi, hasil dari info si pemesan untuk aksi ini.

Tanpa buang waktu, dua perempuan pejalan kaki tersebut ditabrak dari belakang. Dua pejalan kaki langsung tersungkur. Menggelepar di aspal malam. Jalan Cikini Raya menjadi saksi bisu terhadap kebrutalan sejumlah pria di mobil hitam tersebut. Sopir lansung tancap gas mengarah ke kawasan Monumen Nasional (Monas). Mobil jenis Jeep tersebut menghilang dari pandangan ketika menikung di ujung jalan bersiram malam yang mendung.

Hujan mengguyur malam. Kilatan gledek menari-nari di tubuh dua korban tabrak lari. Di balik cahaya petir, seorang lelaki paruh baya muncul dari gang sempit berlari menuju korban kecelakaan. Dengan sigap tangannya meraih dan mengangkat seorang wanita muda, ketika sampai di tempat kejadian. Di trotar pinggir jalan, satu korban itu diletakkan.

"Bang Ucin, itu korban masih hidup apa nggak," teriak lima anak muda menghampiri pria yang dipanggil Bang Ucin.

"Belom tau," ujarnya singkat. "Lo tolongin pinggirin korban yang satunye lagi aje sono."

Lima anak muda langsung mengangkat korban satunya lagi, seorang nenek dengan tubuh berlumur darah. Sebelum diangkat, anak muda berambut pirang, meneliti denyut nadi nenek tua ini.

"Udeh lewat. Meninggal, nih, si nenek," ujarnya kepada kawan-kawannya. Mayat tersebut dipinggirkan dan diletakkan di samping korban perempuan muda tadi.

Bang Ucin dan lima pemuda itu memeriksa tas yang dibawa kedua korban tabrak lari. Ternyata tidak memiliki identitas diri. KTP atau surat keterangan lainnya sama sekali tidak ada, baik di dalam tas maupun saku baju para korban.

"Cepet lo cari bajaj. Kalo nggak ade, bangunin si Mamat suruh keluarin bajajnye. Yang satu masih hidup, tapi lukanye berat, nih," kata Bang Ucin kepada lima anak muda itu. Tak butuh waktu lama, kedua korban dibawa ke rumah sakit terdekat.

Detik terus bergulir. Kedua korban sudah di ruang IGD RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) langsung mendapat penanganan petugas medis. Korban meninggal dibawa ke ruang mayat. Korban yang masih hidup dengan sigap dokter dan asistennya memberikan pertolongan.

"Ada keluarga korban?" tanya perawat setelah membuka pintu IGD.

"Aye," kata Bang Ucin spontan dengan aksen Betawi yang kental. Lantas saja kelima anak muda yang mendapingi Bang Ucin melongo. Mereka saling pandang. Mereka tidak menyangka Bang Ucin mengambilalih tanggung jawab tanpa pikir panjang. Entah apa yang ada dalam benak Bang Ucin.

"Sebaiknya bapak ke dalam, dokter mau menjelaskan kondisi korban," ujar perawat.

Bang Ucin masuk sambil mengibaskan rambutnya yang panjang sebahu. Rambut ikal gondrongnya dibiarkan begitu saja berkibar. Jeans belel-nya yang dikombinasikan kemeja kotak-kotak dengan lengan baju digulung, membuat wajahnya awet muda. Bahkan dirinya terlihat gagah, meski menyiratkan wajah preman.

"Bapak keluarga korban?" tanya dokter ketika Bang Ucin duduk di kursi.

"Iye, dokter."

"Begini, ya. Korban yang satu sudah meninggal. Yang seorang lagi sudah tertolong. Hanya paha kanannya patah. Jadi harus dioperasi dan dipasang pen. Dia juga sedang hamil," jelas dokter.

Bang Ucin tersengat, wajahnya berkerut. Namun, bukan Bang Ucin namanya kalau tidak mampu mengatasi situasi dan kondisi seperti ini. Ia berupaya tenang.

"Iye, aye udeh tau, dokter."

"Pasien punya kartu BPJS Kesehatan?" tanya dokter.

"Kayaknya nggak ade," kata Bang Ucin cepat sambil sedikit berpikir soal biaya pengobatan.

Tapi wajah Koh Ationg, pengusaha kuliner di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, membersit di mata Bang Ucin. "Bisague minta tolong Koh Ationg untuk pinjem duit buat biaya pengobatan ini korban," batin Bang Ucin berbisik dalam hati.

"Bagaimana, Pak?" suara dokter membuyarkan lamunan Bang Ucin.

"Baek, dokter. Tapi besok pagi, ye, aye ngurus biaya rumah sakitnye. Kan sekarang nggak bawa duit, apelagi ini kan masih malem," jawab Bang Ucin.

"Bisa, Pak. Nanti bapak jelaskan saja sama bagian administrasi di depan dekat lobi," kata dokter.

Bang Ucin manggut-manggut sambil mulutnya komat-kamit. Di luar, lima anak muda yang sejak tadi mendampingi Bang Ucin menyambutnya. Mereka bertanya apa saja yang dibicarakan di dalam ruang IGD. Bang Ucin menjelaskan persis dengan yang dikatakan dokter jaga di IGD.

Setelah menandatangani berkas administrasi pasien, Bang Ucin bergegas meninggalkan RSCM bersama lima anak muda tadi. Di jalan, suara adzan Subuh berkumandang. Bang Ucin turun dari taksi ketika sampai di mulut gang kediamannya. Tapi buru-buru Bang Ucin mengajak lima anak muda tetangganya itu ke masjid untuk mendirikan sholat Subuh berjamaah.

"Kita aneh liatin sikap Bang Ucin," kata salah anak muda setelah sholat Subuh berjamaah. Anak muda yang lain mengiyakan apa yang disampaikan kawannya itu ke Bang Ucin.

"Apenye yang aneh, Bro," ujar Bang Ucin tersenyum.

"Iya liat Abang sampe segitunya bantu korban tabrak lari. Ambil risiko, Bang. Maaf emang Bank Ucin punya duit buat biayayain perempuan itu," timpal anak muda lainnya sambil nyeruput kopi manis di warung Mpok Indun.

"Belom lagi entar ditanya inilah-itulah sama Polisi soal kejadian tabrak lari," kata anak muda lainnya yang lagi melahap semur jengkol dan nasi uduk bikinan Mpok Indun yang uuueenaakkk bangeeeet. Nasi uduk Mpok Indun memang sudah kondang paling enak di sekitar kawasan Cikago (Cikini, Kalipasir, Gondangdia).

"Gaklah. Aye nggak ngerasa direpotin. Soal risiko, lah, kan setiap hari kite ngadepin resiko jalanin hidup ini. Masalah duit, biar saat iniaye nggak punya duit banyak, kan ade Allah yang pasti ngebantu. Ane yakin Allah pasti kasi pertolongan kepada hamba-Nya yang mau berdoa. Kalo masalah polisi entar interogasi aye, ye, ngomong ape adenye aje. Kan bukan aye atau ente yang nabrak itu perempuan," tutur Bang Ucin serius.

Mata Bang Ucin berbinar kalau menjelaskan mengenai kebesaran yang maha pencipta, Allah SWT. Mantan preman ini sudah insyaf baru-baru ini saja, setelah istri dan kedua anaknya meninggal dalam musibah kebakaran. Ketiga orang yang dicintainya itu tewas karena tidak dapat keluar dari jilatan api yang cepat membara. Peristiwa itu membuat puluhan rumah juga terhitung terdampak ludes akibat kobaran "si jago merah."

"Nah, kite, aye juga ente semua yang nolongin korban tabrak lari, itu karena digerakkin Allah. Pasti ade maksud dan tujuannyeMisalnye, agar kite berbuat nolongin orang. Kite juga bisa buat ngerenungin diri, masihade yang lebih susah daripade kite," Bang Ucin menebar senyum lagi kepada lima anak muda itu yang manggut-manggut seraya menarik napas. Rasa lega menerobos ke bilik hati masing-masing.

"Oke, Bro. Aye mau pulang dulu. Mandi dulu, terus ke rumah sakit lagi.Makasi, ye, atas bantuan lo pade," Bang Ucin bangkit dari kursi warung Mpok Indun. Bang Ucin menepuk pundak kelima anak muda itu.

"Eh, iye, sebelon aye lupa,lo pade semua jangan ngikutin jalan hidupaye yang berantakkan. Inget, ye, lo pade harus berbuat baek sama siape aje. Boleh jadi preman, tapi preman jaman now, yang sopan, ngebantuin emak-emak kalo liat keberatan bawa barang belanjaannye, nyeberangin nenek-nenek, kakek-kakek, dan sama siape aje. Jangan palakin pedagang, ye. Kalo lo pade lapar nggak ade duit, minta ke aye aje. Insya Allah, aye bantuin kalo buat makan sepiring aje, sih," Bang Ucin ketawa ngakak, eh, terbahak-bahak. Ha..ha..ha [Bersambung]