Anggota DPR: Perempuan Bisa Jadi Energi Pembangunan Indonesia

Anggota DPR: Perempuan Bisa Jadi Energi Pembangunan Indonesia
Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana. (antara)

INILAH, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana mendorong perempuan untuk terus bersemangat, memberdayakan diri sendiri, mengasah wawasan, berinovasi dan menumbuhkan skill atau keterampilan sebagai energi pembangunan Indonesia.

Apalagi, jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia pada Juni 2020 menurut data Dukcapil, sebanyak 268 juta lebih yang terdiri 135 juta lebih laki-laki dan 132 juta lebih perempuan.

"Berarti hampir sama banyaknya, hampir sama kuat jika dilihat sebagai suatu potensi. Bayangkan Indonesia memiliki 135 juta lebih laki-laki dan ada 132 juta lebih perempuan yang berada di antara laki-laki untuk memperkuat Indonesia saat ini," ujar Sri, saat menjadi narasumber diskusi virtual bertajuk "Refleksi Kemerdekaan Indonesia, Sudah Merdekakah Perempuan Indonesia Hari Ini?", Rabu malam.

Artinya, kata politikus Partai Gerindra itu, perempuan Indonesia memiliki potensi yang sama dengan laki-laki untuk membangun negara ini.

Hadir juga sebagai narasumber pada diskusi yang diinisiasi Srikandi DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) itu, yakni Staf Khusus Bidang Hukum Presiden Dini Purwono, Komisioner Komnas Perempuan Satyawanti Mahsudi, dan anggota DPD RI Jialyka Maharani.

Menurut Sri, sekian banyak jumlah perempuan itu sebaiknya harus dijadikan kekuatan dan energi baru dalam membangun negara yang kaya akan sumber daya alam ini.

Perempuan, kata dia, tidak boleh dikekang, disepelekan, dikerdilkan, dan dimarjinalkan, namun perempuan harus diberdayakan dan diberi ruang untuk berpartisipasi dalam segala hal dalam pembangunan negara ini. "Apabila 132 juta lebih perempuan diberdayakan, maka Indonesia akan menjadi luar biasa," katanya pula.

Lebih lanjut, Sri mengingatkan bahwa kaum perempuan tidak boleh dinomorduakan, sementara laki-laki harus menghargai harkat, martabat, dan peran perempuan, serta memperkuat kerja sama antarkeduanya.

"Perempuan dan laki-laki harus saling mengisi, saling menghargai. Tidak indah dunia ini tanpa perempuan. Begitu juga bagi perempuan tidak indah dunia tanpa laki-laki. Bekerja samalah maka kita akan mencapai puncak dari keindahan, kebahagiaan dan kekuatan. Akan diapakan penduduk perempuan-perempuan hebat sebanyak ini oleh negara," katanya pula.

Ia menjelaskan kesetaraan gender merupakan tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) dan Presiden Jokowi sudah menandatangani Perpres Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Saat ini, kata dia, kesempatan perempuan mengenyam pendidikan sudah setara dengan laki-laki, sebagaimana terlihat dari data Kemenristekdikti tentang kesempatan perempuan mendapatkan hak-hak mengenyam pendidikan.

Jumlah perempuan yang mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) sebanyak 47,86 persen, sementara laki-laki 52,14 persen. Perempuan di tingkat SMP 48,9 persen dan laki-laki 51,10 persen. Pendidikan SMA perempuan 55,50 dan laki-laki 44,50 persen. SMK 42,87 persen perempuan dan 57,13 persen laki-laki, sementara di perguruan tinggi jumlah perempuan mencapai 60 persen dan 40 persen laki-laki.

Namun, kesempatan perempuan dalam bidang pendidikan berbeda dengan kesempatan di lapangan pekerjaan, karena tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja di Indonesia hanya mampu mencapai 54 persen, sementara laki-laki 83 persen.

"Kenapa tempat kerja sangat maskulin karena para perempuan jarang menggunakan kesempatannya," ujar Sri. (antara)