Amalan 10 Muharram: Puasa Asyura dan Tasu'a

Amalan 10 Muharram: Puasa Asyura dan Tasu'a

DALAM kitab Ianatut Thalibin, salah satu kitab yang banyak digunakan dalam mazhab Asy-Syafiiyyah, pada jilid 2 hal 267, disebutkan bahwa memang banyak amal-amal yang sering dilakukan pada momentum bulan Muharram. Penulis kitab itu, Abu Bakar Al-Bakri (w. 1310 H) mengutip nazham yang disusun anonim (tanpa nama pengarang) berkaitan dengan amalan di bulan Muharram itu yaitu:

Puasalah, Shalatlah, Silaturrahim-lah, mandilah (sunnah) kepala anak yatim usaplah, bersedekahlah dan pakailah celak mata. Luaskan belanja, potonglah kuku, kunjungi ulama, tengoklah orang sakit, bacalah surat Ihklas 1000 kali. Namun penyusun kitab ini mengatakan bahwa hanya dua saja yang memiliki dasar kuat yaitu sunah puasa dan meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya kebanyakan haditsnya dahif dan sebagian lagi mungkar maudhu.

Yang berkaitan dengan puasa adalah puasa sunah yaitu pada hari kesepuluh dan kesembilan di bulan itu. Sering juga disebut dengan Asyuro dan Tasua. Banyak sekali dalil yang menerangkan hal ini, antara lain: Dari Abu Hurairoh radhiallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum di bulan Allah Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam" (HR Muslim 1162)

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu 'anhu berkata: "Wahai penduduk Madinah, di mana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ini hari Assyura, dan Allah tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka." (HR Bukhari 2003)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shaumlah kalian pada hari 'Assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya" (HR Ath-Thahawy dan Al-Baihaqy serta Ibnu Khuzaimah 2095). Sedangkan amal lainnya selain puasa dan meluaskan belanja- sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi, adalah amal yang dasar hukumnya lemah. (Inilahcom)

[baca lanjutan: Amalan 10 Muharram: Meluaskan Belanja dan Bersedekah]