Dina Lorenza Dipasangankan dengan Gun Gun, Manuver Politik PKS?

Dina Lorenza Dipasangankan dengan Gun Gun, Manuver Politik PKS?
Dina Lorenza. (net)

INILAH, Bandung - Teka-teki pengusungan artis Dina Lorenza dalam kontestasi pada Pilkada Serentak Kabupaten Bandung cukup membuat publik bertanya-tanya. Pasalnya, pencalonannya tidak mendapatkan restu dari DPC Demokrat Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, dikabarkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumumkan pasangan bagi Gun Gun Gunawan yang akan maju di kontestasi Pilbup Bandung, yaitu artis sinetron di era 90-an, yakni Dina Lorenza Audria.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Juru Bicara Pemenangan PKS Kabupaten Bandung Maulana Fahmi yang mengatakan, pihaknya telah mengumumkan pasangan yang akan diusung oleh PKS, yakni Gun Gun Gunawan dan Dina Lorenza.

"Untuk itu pasangan yang kami usung yaitu kami tetap mengusung atau mencalonkan Gun Gun Gunawan sebagai calon bupati dan Dina Lorenza dari Partai Demokrat sebagai wakil bupati," ujar Fahmi via pesan singkat, Selasa (18/8/2020).

Namun, kabar tersebut langsung ditampik oleh Ketua DPC Demokrat Endang. Dia mengatakan, pihaknya tidak mengubah koalisi yang secara resmi telah dibangun bersama PKB dan Nasdem. Dia pun dibingungkan dengan adanya pernyataan sepihak yang dikeluarkan oleh PKS terkait dengan pengusungan Dina Lorenza, meskipun diketahui Dina merupakan kader DPP Demokrat.

"Kita sudah putus koalisi sejak lama dengan PKS. Mulai 20 Juli, kami berkoalisi dengan PKB dan Nasdem, mendukung Dadang Supriatna dan Sahrul Gunawan," ucap Endang saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2020).

Menanggapi hal tersebut, Direktur Lingkar Kajian Komunikasi Politik (LKKP) Adiyana Slamet menyebutkan, terdapat dua kemungkinan manuver politik dalam polemik pencalonan Dina Lorenza.

Pertama, komunikasi politik yang dibangun Dina Lorenza langsung ke DPP Partai Demokrat tanpa melalui DPC Demokrat Kabupaten Bandung. Namun, jika ini benar dilakukan, dikatakan Adiyana, Dina telah menciderai fatsun (sopan santun) politik dalam pencalonannya.

"Secara fatsun politik memang ini adalah hajatnya DPC Partai Demokrat Kabupaten Bandung. Kalau hal itu terjadi (komunikasi langsung ke DPP), maka secara fatsun politik Dina Lorenza sudah mencederai kewenangan Partai Demokrat di tingkat DPC Kabupaten Bandung," ucap Adiyana saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (20/8/2020).

Walaupun, Adiyana menjelaskan, secara aturan Dina tidak melanggar dalam manuver politiknya. Pasalnya, DPP memiliki kewenangan untuk mengeluarkan rekomendasi nama yang akan dicalonkan dalam pilkada serentak.

"Karena yang menentukan rekomendasi itu DPP. Jadi, kemungkinan besar Dina Lorenza berkomunikasi politik langsung dengan DPP. Kemudian, DPP Demokrat memberikan sinyal pada Dina Lorenza untuk dipasangkan menjadi wakil bupati," ungkapnya.

Meski begitu, lanjut Adiyana, jika memang benar manuver politik Dina Lorenza langsung ke DPP Partai Demokrat, hal itu dinilainya sebagai preseden buruk bagi Partai Demokrat. Paling ekstrem, hal tersebut dapat memecah suara Demokrat di Kabupaten Bandung.

"Komunikasi politik Dina Lorenza ini tidak bagus, apalagi datang pun tidak ke DPC Demokrat Kabupaten Bandung. Ini menjadi preseden buruk kalau iya, untuk Partai Demokrat. Preseden buruknya, tidak melihat aspirasi partai di tingkatan DPC," ujar Adiyana.

Selain itu, Adiyana menuturkan, bisa saja hal tersebut bukanlah manuver politik dari Dina Lorenza, melainkan manuver politik yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Pilkada di Kabupaten Bandung.

"Kalau toh memang apa yang saya katakan di atas tidak betul (manuver politik Dina Lorenza ke DPP), maka ini adalah manuver yang dilakukan oleh PKS dan memang klik (cocok) sama Dina Lorenza untuk menggoyang Partai Demokrat di tingkatan basis pemilih. Karena gonjang-ganjing dukungan Partai Demokrat setelah bergabung koalisi DS-Sahrul meninggalkan PKS sangat cepat," ujarnya.

Pasalnya, sambung Adiyana, jika menarik mundur pada Pilgub Jabar lalu, PKS juga sempat melakukan manuver politik tiba-tiba yang membuat publik bingung. Kala itu, PKS menarik dukungan dari Dedi Mizwar.

"Saya teringat ketika Pilgub Jabar kemarin, ketika PKS tiba-tiba menarik dukuSngan dari Dedi Mizwar, walaupun waktu itu sudah melakukan MoU di Rumah Dinas Wagub, antara Pak Dedi dengan Pak Syaikhu. Seolah situasi Pilgub kemairn dibawa pada Pilkada Kabupaten Bandung ini," pungkas Adiyana.

Untuk diketahui, Juru Bicara Pemenangan PKS Kabupaten Bandung Maulana Fahmi mengklaim, koalisi PKS dan Demokrat telah terjalin kembali pada Januari 2020.

Lebih lanjut, pengusungan Gun Gun Gunawan dan Dina Lorenza, sepengetahuan Fahmi, telah melalui proses yang cukup panjang. Dalam proses panjang itu, akhirnya diputuskan jika Dina Lorenza lah, yang diputuskan untuk mendampingi Gun Gun. (ridwan abdul malik)