Kisah Roti dan Jalan Bahagia

Kisah Roti dan Jalan Bahagia
ilustrasi

ADA yang bertanya kepada saya tentang kenapa ada orang berpendidikan tinggi namun menderita dan mengapa ada orang tak berpendidikan tinggi tapi bahagia. Bukankah harusnya adanya ilmu itu menjadikan manusia semakin mulia bahagia?

Pertanyaan ini wajar dan bukan sebagai bantahan akan fadilah atau keutamaan ilmu. Dalil-dalil bertebaran tentang ini dan tak mungkin dibantah kecuali oleh orang bodoh. Namun, perlu pula menjawab pertanyaan tadi karena bagi sebagian orang bisa membingungkan dan salah paham. Jawaban saya terinspirasi oleh pandangan Jalaluddin Rumi yang menurut saya sangat mengena. Berikut adalah jawaban saya:

Walaupun punya sekarung roti, kalau tidak dimakan maka pemiliknya akan tetap lapar. Demikian juga ketika hanya dikunyah di dalam mulut untuk kemudian dimuntahkan, bukan ditelan.

Walaupun hanya memiliki sepotong roti, kalau dimakan dan dikunyah dengan baik untuk kemudian ditelan masuk dalam perut, maka kenyanglah dia.

Seseorang, walau ilmu pengetahuannya banyak, titel akademiknya panjang, koleksi kitabnya bertumpuk, kalaulah semua itu tidak dijadikan pegangan hidup untuk menggapai bahagia maka hidupnya akan tetap kering kerontang, jiwanya akan terus menangis dan batinnya berlanjut untuk menderita.

Sementara seseorang yang memiliki ilmu tak begitu banyak dari kelas pendidikan yang tak begitu tinggi, ketika diamalkan sepenuh hati maka ia akan temukan bahagia dan Allahpun akan anugerahkan ilmu yang belum diketahuinya.

Tak usah sombong dengan banyaknya ilmu jika tak mampu mengantarkan pada perubahan perilaku yang lebih baik, bersyukurlah jika Allah berikan kemampuan mengamalkan ilmu yang kita miliki walau jumlahnya tak begitu banyak. Salam, AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]