FST UIN Bandung Gelar Workshop Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan

FST UIN Bandung Gelar Workshop Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan
Workshop Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SGD Bandung. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Sebanyak 59 peserta mengikuti Workshop Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, di Aula FST, Selasa (25/8/2020).

Dosen Akademi Sekretaris dan Manajemen Ariyanti, Rahmayanti mengatakan sebagai pemimpin fakultas sangat menyadari bahwa sumber daya manusia (SDM) merupakan sumber daya terpenting yang membentuk kualitas lembaga ini.

Tanpa dukungan dari SDM dosen dan tenaga kependidikan serta supporting team lainnya, maka visi misi Fakultas dan universitas untuk unggul, kompetitif akan sangat sulit terwujud. Untuk itu pada akhir Juli yang lalu telah menyelenggarakan workshop peningkatan kompetensi pedagogik untuk dosen.

"Maka saat ini dalam seminggu ke depan teman-teman tenaga kependidikan pendidikan termasuk supporting team lainnya, akan mendapatkan materi-materi workshop terkait peningkatan kompetensi sebagai tenaga kependidikan. Diharapkan dengan kegiatan ini bisa me-refresh (menyegarkan) kembali tupoksi masing-masing melalui materi yang akan disampaikan oleh para karo dan kabag di lingkungan universitas," tegasnya.

Dia menambahkan komitmen bersama dalam memberikan pelayanan prima di lingkungan FST sangat dibutuhkan untuk peningkatan SDM. Para pengelola di fakultas bersama dengan tenaga kependidikan dan supporting sistem lainnya mempunyai peranan sebagai pelayan publik di lingkungan kampus UIN SGD.

"Untuk itulah maka materi pelayanan prima menjadi materi pertama dan utama dalam workshop ini. Semoga dengan ilmu pelayanan prima dapat menjadi bekal bagi kita dalam menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya," jelasnya.

Bagi Rahmayanti, service atau pelayanan adalah kegiatan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, yang bersifat tidak berwujud, tidak dapat dimiliki tetapi dapat dirasakan dan terukur kualitasnya.

“Excellence atau prima adalah unggul, mutu yang baik, baik sekali. Untuk itu, excellence service adalah harga mati. Pelayanan prima menjadi keyakinan dalam organisasi,” jelasnya.

Setiap pelayan wajib memiliki kemampuan soft skills dan hard skill. Soft skill dalam pelayanan harus memuat, pertama, memiliki kecerdasan emosi, kedua, bersikaplah baik kepada masyarakat dengan melakukan senyum, salam, ramah, sebut namanya, ketiga, memiliki empati, kesabaran, tidak reaktif, keempat, berpenampilan rapih dan bersih

"Untuk soft skills dalam pelayanan ini dibutuhkan kecerdasan emosional dalam pelayanan,” paparnya.

Kemampuan mengendalikan perasaan sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri maupun ketika berhubungan dengan orang lain.

“Membudayakan pelayanan prima harus menjadi bagian dari komitmen civitas akademika untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi. Caranya harus dibawa happy, selalu mengupgrade kompetensi diri, pentingnya melakukan keterampilan komunikasi dalam pelayanan. SDM jangan sampai mau digantikan oleh teknologi. Semuanya harus kita tingkatkan, keterikatan kita dengan mahasiswa, dosen dalam memberikan pelayanan prima,” pungkasnya. (okky adiana)