Adik Ipar Beberkan Modus Penipuan sang Kakak Ipar di Pengadilan

Adik Ipar Beberkan Modus Penipuan sang Kakak Ipar di Pengadilan
Sidang kasus dugaan penipuan dan penggelapan di Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (25/8/2020).  (Ahmad Sayuti)

INILAH, Bandung- Korban penipuan dan penggelapan yang dilakukan Kakak iparnya sendiri menegaskan hingga kini belum ada itikad baik dari terdakwa untuk kembalikan uangnya. 

Hal itu terungkap dalam sidang kasus dugaan penipuan dan penggelapan di Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (25/8/2020). 

Sidang dengan agenda kesaksian, JPU Kejari Bandung Muljoko menghadirkan tiga orang saksi, di antaranya korban pelapor Haryono. 

Dalam keterangannya Haryono mengaku ditemui Freddy Regawa (kakak iparnya) pada 2015 dan mengaku memiliki project pembuatan hotel di Bali dan membutuhkan bantuan modal, dan berjanji memberikan keuntungan. 

"Saya berikan pinjaman sesuai permintaan, sebanyak 16 kali dengan total Rp 15 miliar," ujarnya. 

Namun setelah pekerjaan beres, dia hanya baru membayar Rp 7,6 miliar. Namun, Rp 2 miliarnya merupakan hutang terdakwa kepadanya. Jadi, lanjutnya yang sudah dibayar baru Rp 5,6 miliar.

Hal itu diungkapkan Haryono W saat ditanya kuasa hukum terdakwa soal adanya pengembalian dari terdakwa. 

"Saudara saksi tahu kalau kerjasamanya dengan PT Seres sedang ada masalah, dan keuntungannya belum dibayar," katanya.

Haryono mengaku tidak begitu mengetahuinya, namun saat terdakwa mengatakan jika proyeknya rugi, dia tidak percaya. Makanya mengirimkan akuntan publik untuk melakukan audit. 

"Hasil auditnya, ternyata proyek tersebut tidak rugi. Yang bayar akuntan publiknya saya, dan dia tahu," ujarnya. 
"
Dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum Kejati Jabar,Agus Mujoko nomor reg. Perk.PDM-558/BDUNG/6/2020,  ‎jaksa mendakwa Freddy dengan Pasal 378 dan Pasal 372 KUH Pidana. 

Dalam dakwaannya, jaksa mengungkap peristiwa tipu gelap miliaran itu bermula saat korban bertemu dengan terdakwa pada 2015 kemudian menceritakan memenangkan tender proyek membangun hotel di Gianyar, Bali senilai Rp 53 miliar lebih. 

"Terdakwa meminta bantuan modal dan menjanjikan proyek itu akan menguntungkan. Korban kemudian menyetujuinya," kata Mujoko.

Korban juga dijanjikan akan mendapat bagi hasil keuntungan‎ dari proyek Rp 53 miliar itu. Kemudian, korban secara bertahap menyetorkan dana ke terdakwa sebanyak 16 kali dari September 2015 hingga Januari 2017 dengan total Rp 15 miliar.

"Setelah proyek selesai, terdakwa tidak mengembalikan uang korban beserta keuntungannya sebagaimana dijanjikan‎ terdakwa. Terdakwa berdalih proyek itu tidak menguntungkan," ucap jaksa. 

Tidak percaya dengan dalih dari terdakwa yang menyebut proyek itu belum menguntungkan, korban kemudian menghubungi akuntan publik meminta audit keuangan hotel tersebut. 

"Tapi ternyata hasil audit, keuangan hotel itu menguntungkan namun terdakwa berbohong pada korban," ucapnya. (Ahmad Sayuti)