Jalani Tes Vaksin, Ridwan Kamil: Inilah Jalan yang Allah Berikan

Jalani Tes Vaksin, Ridwan Kamil: Inilah Jalan yang Allah Berikan
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Istimewa)

INILAH, Bandung- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah menuntaskan tahap pertama uji klinis calon vaksin Covid-19 dari Sinovac dan Biofarma di Puskesmas Garuda, Kota Bandung, Selasa (25/8/2020). Selanjutnya, masih ada empat rangkaian tes yang harus dijalani selama enam bulan ke depan. 

Ridwan Kamil berharap, dengan langkahnya turut serta menjadi relawan vaksi ini dapat membawa ketenangan kepada masyarakat, bahwa vaksin dari virus Covid-19 ini akan hadir di tengah situasi pandemi. 

"Dan ending dari Pandemi sudah mulai terlihat mohon doanya kami juga sudah kelelahan terhadap isu ini. Mohon doanya mudah-mudahan inilah jalan yang Allah berikan di ujung Pandemi dan kita bisa hidup normal lebih baik dan produktif lagi di 2021," ujar Ridwan Kamil, setelah menjalani tes calon vaksin Covid-19, Selasa (25/8/2020).

Ridwan Kamil menyampaikan, pada tes tahap pertama ini lebih pada pemeriksaan kesehatan guna memastikan bisa lolos masuk ke tahap kedua yang akan dilaksanakan tiga hari ke depan atau Jumat (28/8/2020) ini. 

"Kunjungan pertama ini kami dicek kondisi kesehatan dari mulai tinggi badan , berat badan, wawancara riwayat kesehatan, kemudian pengecekan oleh stetoskop tubuh kami khususnya di bagian dada untuk memastikan kondisi awal memungkinkan," kata dia. 

Pada kesempatan ini, dia menyampaikan, telah menandatangani perjanjian kesukarelaan untuk menjadi relawan dan mengikuti sejumlah tes yang harus dilalui. Ridwan Kamil pun kembali menjalani  prosedur pengetesan swab.

"Jadi hidung kami diucek-ucek lagi untuk dilihat apakah kami aman untuk melaksanakan tes kedua di hari Jumat," katanya.

Nantinya, dia melanjutkan, selama menjalani proses ini akan diberikan dua dosis vaksin, di mana dosis pertama diberikan pada tahap kedua dan berikutnya di tahap ke tiga. "Memang ada dua tahap ya, satu vaksin betulan satu yang plasebo nanti akan diperbandingkan," ungkap dia. 

Emil -sapaan Ridwan Kamil- pun menjelaskan alasan menjalani testing di Puskesmas Garuda. Hal ini dilakukan agar dapat berbaur dengan masyarakat lainnya, khususnya yang hendak menjadi relawan. Sebab, dia melanjutkan, Kebersamaan dan kekompakan adalah kunci kemenangan melawan Pandemi Covid-19. 

"Kami sepakat kalau di Jabar kami harus kompak, kami ingin menunjukan bahwa menanganinya demi ini butuh kebersamaan," katanya.

Karena itu, dia bersyukur sejauh ini tercatat sekitar 2000 masyarkat Jabar yang sukarela mendaftarkan diri menjadi relawan. Kendati demikian, nantinya hanya dipilih 1.620 relawan berdasarkan kriteria. 

"Karena dalam perjalanan nanti mungkin ada 1-2 yang tidak lanjut karena ada lain hal," ucap dia. 

Emil berharap, proses uji klinis calon vaksin Covid-19 dari Sinovac dan Biofarma ini bisa berjalan lancar. Terlebih bilamana sudah dipatenkan bakal memiliki keunggulan dari segi harga dibandingkan vaksin yang diproduksi di luar negeri. 

"Doakan agar setelah ini lancar selama lima kali kunjungan maka bulan Januari produksi di biofarma bisa dilakukan. Sehingga secepatnya diberikan kepada masyarkat Indonesia sesuai dengan kriteria yang menjadi prioritas," katanya. 


Tetap Melakukan Rutinitas Seperti Biasa 

Emil memastikan, setelah menjalani testing tahap satu calon vaksin Covid-19 ini tetap akan menjalani kegiatan seperti biasa sebagai seorang Gubernur. Di mana tidak ada pantangan untuk mengunjungi sejumlah daerah atau menjalani tugasnya sebagai kepala daerah.  

"Tidak ada perubahan, tetap jaga jarak, tetap pakai masker, tetap mengimbau dan lain sebagainya , hanya nanti dalam proses prosesnya kalau ada gejala gejala harap segera dilaporkan," katanya. 

Dia memastikan, ketika menjalani uji klinis ini tidak mengubah gaya hidup sehari-hari. Namun, bilamana dalam di massa proses serangkaian testing mengalami gejala pada kesehatan maka harus segera melaporkan kepada pihak dokter untuk  memilah apakah gejala tersebut efek dari vaksin yang masuk ke tubuh atau gara-gara urusan lain.

"Penelitian ini harus dilakukan secara ketat untuk menunjukan betul-betul dampaknya seperti apa. Jadi saya tidak akan merubah apapun kecuali lebih introspeksi saja , menghindari pola pola yang membuat saya sakit yang sebenarnya bukan karena vaksin tapi nanti malah tertuding pada vaksin. Jadi kitanya mawas diri saja," papar dia. (Riantonurdiansyah)