Begini Kesaksian Sri Mulyani dalam Kasus RTH Kota Bandung

Begini Kesaksian Sri Mulyani dalam Kasus RTH Kota Bandung

INILAH, Bandung - Para pemilik tanah yang lahannya dibeli Pemkot Bandung melalui makelar atau calo tanah tidak pernah tahu akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan harganya melambung. Seperti yang dialami kakak beradik Sri Mulyani dan Sri Mulyati.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus dugaan  korupsi pengadaan lahan RTH Kota Bandung TA 2012-2013, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (26/8/2020).

Sidang beragenda kesaksian berlangsung di ruang utama. JPU KPK menghadirkan lima orang saksi yang semuanya pemilik tanah. Di antaranya kakak beradik Sri Mulyani dan Sri Mulyati warga Cisurupan, Mandalajati Kota Bandung. 

Di persidangan Sri Mulyani mengaku kedatangan seseorang yang menawar tanahnya, Tatang, dengan harga sesuai Nilai jual Objek Pertanahan (NJOP) waktu itu sekitar Rp 150 ribu per meter. 

"Setelah negosiasi akhirnya disepakati sekitar Rp 160 ribu per meternya," kata Sri di persidangan.

Sri pun mengaku menjual tanahnya sebanyak empat bidang dengan luas kurang lebih 2.000 meter dengan total hasil penjualan tanah yang diterimanya sebesar Rp 1,3 miliar. 

Saat ditanya JPU saksi menjual ke siapa saja, dan tahukah hendak digunakan untuk RTH? Dia mengaku hanya menjual ke Tatang, dan tidak pernah tahu jika tanahnya itu dibeli untuk kepentingan RTH Pemkot Bandung. 

"Ibu tahu nggak, kalau harga jualnya NJOP plus 75 persen. Seharunya ibu menerima Rp 2 miliar lebih," kata JPU Budi Nugraha.

Sri Mulyani pun sama sekali tidak mengetahuinya. Dia hanya pernah diajak ke notaris untuk menandatangani akta kuasa jual. Soal deal harga dengan Pemkot berapa sama sekali tidak tahu. 

"Saya menerima pembayaran di tahun 2011 untuk keempat bidang tanah itu," katanya.

Namun dalam bukti yang diperlihatkan JPU pembayaran untuk lahan milik Sri Mulyani dibebaskan sebanyak dua kali, yakni di 2011 dan 2012.

Hal yang sama dikatakan Sri Mulyati yang tak lain kakak kandung Sri Mulyani. Dia menjual tanahnya lantaran dikasih tahu sang adik, terlebih tanah miliknya satu lokasi dengan sang adik. 

"Saya menjual karena ditawari adik yang tanahnya sudah terjual," ujarnya.

Usai persidangan, JPU KPK Budi Nugraha mengatakan, para saksi yang dihadirkan keterangannya untuk menyingkronkan dengan saksi sebelumnya. 

"Saksi sebelumnya menyebut menerima dari Pemkot sebesar Rp 2 miliar, tapi yang diterima pemilik tanah Rp 1 miliar," singkatnya. (ahmad sayuti)