Messi Minta Cerai, Akhir Sebuah Era di Barcelona?

Messi Minta Cerai, Akhir Sebuah Era di Barcelona?
Lionel Messi. (Net)

INILAH, Bandung- Peraih Ballon d'Or enam kali Lionel Messi mengatakan kepada Barcelona bahwa dia ingin pergi -dengan bebas transfer- lewat faksimili " yang diperkirakan bakal memicu pertarungan hukum atas klausul jual atau buy-out senilai ratusan juta dolar AS atau belasan triliun rupiah.

Menandakan akhir sebuah era di Barcelona ​​di mana Messi adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa dan telah memenangi empat gelar Liga Champions, pemain Argentina yang tidak puas itu ingin mengakhiri kontraknya "secara sepihak" dengan memicu klausul lepas, kata seorang sumber kepada AFP.

Hubungan antara Messi dan manajemen anjlok tahun ini dan spekulasi berseliweran mengenai kepergian Messi setelah kekalahan memalukan 2-8 dalam perempat final Liga Champions bulan ini melawan Bayern Muenchen, yang untuk pertama kali sejak 2007 Barca menuntaskan sebuah musim tanpa satu trofi pun.

Tuntutan pemain berusia 33 tahun yang dikirim melalui faks oleh pengacaranya itu memicu protes terhadap presiden Barcelona yang sedang dirundung masalah, Maria Bartomeu, di luar Camp Nou tempat Messi yang identik dengan periode paling sukses klub itu dipuja oleh para penggemar tim Catalan ini.

"Saya tak mau melihat dia ada di tempat lain. Saya tak percaya," kata Ruben Tejero (28) salah satu dari sekitar 100 penggemar Barca di stadion yang menyeru Bartomeu agar mengundurkan diri.

"Saya lebih suka menganggap itu (tuntutan keluar Messi) sebagai ultimatum yang diberikan kepada manajemen agar Bartomeu pergi."

Manchester City, Paris Saint-Germain dan Inter Milan termasuk di antara klub-klub yang dikaitkan dengan Messi yang merupakan salah satu pemain terhebat sepanjang masa dan memiliki gaji yang kabarnya satu juta euro (Rp17 miliar) per pekan.

ESPN melaporkan bahwa pekan lalu Messi sudah berbicara dengan manajer Manchester City Pep Guardiola tentang kemungkinan pindah. Seorang jurnalis Brazil yang berbasis di Barcelona juga mengatakan Messi ingin bermain di bawah asuhan mantan pelatih Barcelona tersebut.

Perubahan drastis

Barcelona belum menyampaikan reaksi resmi namun diyakini yakin klausul jual Messi telah berakhir Juni, dan bahwa ia tetap terikat kontrak hingga akhir musim 2021.

"Prinsipnya, klausul ini habis pada 10 Juni, tetapi sifat tidak biasa musim ini yang diganggu oleh virus corona membuka jalan bagi Messi untuk meminta dilepaskan dari kontraknya saat ini," tulis harian olahraga Spanyol Marca.

"Ini adalah langkah pertama untuk membuka negosiasi atas kepergiannya, yang berdasarkan klausul pembebasannya berjumlah 700 juta euro (Rp12,1 triliun)."

Messi bergabung dengan akademi muda Barcelona sejak usia 13 tahun dan melakukan debut senior pada 2004 saat berusia 17 tahun sebelum mencetak rekor gol terbanyak sepanjang masa klub ini dengan 634 gol.

Namun masa depannya di Barca sangat diragukan menyusul kekalahan 2-8 dari Bayern. Ini pertama kalinya Barca kebobolan delapan gol dalam satu pertandingan sejak kalah 0-8 melawan Sevilla pada Piala Spanyol 1946.

Kekalahan itu memicu perubahan drastis. Pelatih Quique Setien dipecat setelah hampir enam bulan bertugas, sedangkan direktur olahraga Eric Abidal juga dilengserkan.

Menurut media Spanyol, Messi pekan lalu sudah menemui manajer baru Ronald Koeman dan mengatakan kepada pelatih asal Belanda itu bahwa dia melihat dirinya "lebih ingin keluar daripada masuk" klub itu.

Koeman sudah berjanji untuk "berjuang mengembalikan Barca ke puncak" dan mengatakan pada awal dia direkrut sebagai pelatih bahwa dia berharap Messi tetap di klub sampai beberapa tahun ke depan.

Namun Koeman kabarnya telah memberi tahu Luis Suarez bahwa dia tidak lagi menjadi bagian dari rencana Barca. Dia menyampaikan pesan serupa kepada Arturo Vidal, Ivan Rakitic dan Samuel Umtiti.

Titik terendah​

Klub membutuhkan perubahan, kata bek Gerard Pique setelah diganyang Bayern. "Tidak ada yang tak tersentuh, apalagi saya. Darah segar dibutuhkan untuk mengubah tim ini. Kita sudah mencapai titik terendah."

Harian olahraga Argentina, Ole, menggambarkan keinginan Messi untuk pergi sebagai "sangat menghebohkan". Messi belakangan ini sering berselisih paham dengan direksi Barcelona.

Kekalahan di Lisbon yang merupakan kekalahan yang paling parah dialami Barca di kancah Eropa, mengekspos tim renta yang berulang kali dikatakan Messi tidak cukup baik.

Dia mengatakannya pada Februari dan diulanginya lagi Juli, ketika kata-kata muluk setelah gelar diserahkan kepada Real Madrid berubah menjadi penilaian brutal namun jujur, tentang musim mereka.

Ketika hubungannya dengan hierarki klub semakin tegang, Messi secara terbuka bersikap ketika Abidal sepertinya menyalahkan pemain atas pemecatan Ernesto Valverde pada Januari.

Dia juga memimpin perlawanan para pemain Barcelona atas perselisihan dengan direksi Maret lalu dalam soal pemotongan gaji selama pandemi virus corona.

"Hormat dan kagum, Leo. Saya mendukungmu kawan," cuit legenda Barca Carles Puyol, mantan rekan setim Messi. Suarez membalas pesan itu dengan dua emoji tepuk tangan.

Sedangkan Vidal mencuit, "Ketika Anda mengurung harimau di kandang, dia tidak takluk, dia melawan."