Circular Economy Tingkatkan Derajat Limbah

Circular Economy Tingkatkan Derajat Limbah
net

INILAH, Bandung - Antara bertani dan berternak memiliki keterkaitan satu dengan lainnya secara sirkular. Dari limbah kotoran ternak bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos lahan pertanian. Sementara, hasil produksi pertanian yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak.

Sebenarnya, bertani sekaligus berternak lazim dilakukan masyarakat di pedesaan sejak dulu. Disadari atau tidak, hal itu merupakan cara sederhana mengoptimalkan limbah agar lebih bermanfaat. Pada akhirnya, limbah pun tidak lagi jadi masalah lingkungan.

Cara sederhana ala masyarakat pedesaan yang sejak dulu telah diterapkan, kini diadopsi masyarakat modern. Tak sedikit perusahaan global yang menggunakan konsep circular economy dalam pengelolaan sampah atau limbah yang dihasilkan hingga tetap bernilai bernilai yang dimanfaatkan pada mata rantai produksi yang dilakukan.

Tak ketinggalan, perusahaan di Indonesia mulai menerapkan konsep circulary economy ini. Adalah PT Great Giant Foods (GGF) sebagai salah satu perusahaan yang terbilang sukses menerapkan konsep circular economy di Indonesia.

“Produk yang baik adalah produk harus dihasilkan secara  ramah lingkungan. Kami berkomitmen untuk ramah lingkungan dengan mengedepankan prinsip sustainability dan inovasi berkelanjutan,” papar Senior Manager Sustainability GGF Arief Fatullah, ketika menjadi pembicara webinar bertajuk Pemanfaatan Limbah Produksi GGF dengan Konsep Circular Economy yang Berkelanjutan, belum lama ini. 

Berbagai perusahaan di bawah payung GGF bergerak di perkebunan, peternakan sapi berikut beragam produk olahannya. Komoditas buah-buahan seperti nanas, jambu, pisang, jambu serta melon merupakan buah hasil perkebunan yang tersebar di sejumlah daerah seperti Lampung, Blitar Jawa Timur serta di Bali.

Di perkebunan seluas 32.000 ha di Lampung, GGF setiap tahun  menghasilkan nanas lebih dari 500.000 ton. Itu merupakan produksi nanas terbesar ketiga di dunia. Sementara 11.000 kontainer nanas kaleng diekspor ke lebih dari 60 negara.

Untuk peternakan sapi di antaranya ada Lampung Tengah dengan melibatkan peternak setempat sebagai mitra. Produksi sapi setiap tahunnya mampu menghasilkan susu maupun daging sapi yang dipasok memenuhi kebutuhan di Sumatera serta Jabodetabek.

Melalui konsep circular economy, limbah yang dihasilkan diolah untuk dimanfaatkan kembali dalam rantai produksi yang terintegrasi. Dari hasil perkebunan seperti nanas, misalnya. Semuanya diolah sebagai opportunity bisnis.

Mahkota tanaman nanas dipakai lagi sebagai bibit. Kemudian buahnya dikemas menjadi nanas kaleng. Sementara batang dan daunnya dijadikan sebagai biogas. Untuk kulit nanas tidak dibuang sebagai limbah, melainkan diolah untuk pakan ternak sapi.

Di peternakan sapi pun sama. Tidak ada limbah yang dibuang begitu saja. 

“Kotoran sapinya diproses jadi pupuk organik yang kemudian dimanfaatkan di perkebunan,” sebut Arief seraya menyebutkan tak kurang dari 209.402 ton kompos mampu dihasilkan secara keseluruhan.

Adapun limbah cairnya diolah menjadi biogas yang dipergunakan sebagai sumber energi listrik. Pemanfaatan biogas di pembangkit listrik di pabrik nyatanya mampu menghemat cost. Terutama sekali berhemat batubara yang selama ini masih dipergunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Mengenai buah yang tidak terpakai pun tetap dimanfaatkan. Di antaranya dijadikan sebagai pakan ternak serta diolah sebagai produk turunan. Seperti pisang cavendis yang diolah menjadi keripik pisang sebagai ikon oleh-oleh khas lampung.

Pengolahan keripik pisang ini melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar perkebunan. Dengan demikian, warga sekitar perkebunan tetap memperoleh nilai tambah ekonomi.

“Pendampingan tetap kami lakukan sebagai transfer knowledge. Jadi masyarakat sekitar tetap memperoleh manfaat dari konsep circular economy yang kami terapkan,” tandas Arief.

Komitmen tak hanya terbatas kepada pengelolaan limbah. GGF juga memperhatikan konservasi sumber daya air di lingkungan perkebunan. Caranya melalui pembudidayaan bambu di sekitar perkebunan.

Menurut Arief, budidaya bambu ini bertujuan sebagai resapan air di musim hujan. Air resapan itu kemudian dipergunakan sebagai water reservoir menyiram tanaman di perkebunan di musim kemarau. Dengan cara ini perkebunan tidak kekurangan air serta tidak perlu mengambil air dalam sebagai sumber menyiram tanaman. 

“Bambu yang tua tidak dibuang, tapi dipakai sebagai penyangga pisang di perkebunan atau bahan kompos,” kata Arief.

Konsep circular economy yang dijalankan tidak hanya bermuara kepada kepentingan perusahaan semata. Petani, peternak serta masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan pun memiliki usaha ikut diberdayakan perekonomiannya.

“Tujuan bisnis yang berkelanjutan mengoptimalkan manfaat semua pemangku kepentingan, yaitu kesejahteraan bersama. Perusahaan memiliki tanggung jawab sosial terhadap dampak lingkungan dan masyarakat atas usahanya,” jelas Co- Founder A+CSR Indonesia, Jalal.

Jalal menyebutkan, generasi milenial yang memulai usaha telah banyak yang menggunakan konsep circular economy ini. Benefit terbesar dirasakan baik oleh perusahaan dan masyarakat bila konsep Circular Economy ini diberlakukan, yakni semakin berkurangnya sampai yang memberikan efek positif bagi kebersihan lingkungan serta kesehatan masyarakat. (dnr)