Sikap Kami: Tablet Melawan Corona

Sikap Kami: Tablet Melawan Corona

MEMINJAMKAN tablet itu jauh lebih baik ketimbang membuka ruang sekolah. Kalau belum mencukupi, sesungguhnya tidakkah bisa sekolah-sekolah merelokasi anggaran untuk pengadaaan alat komunikasi itu?

Ini tentu saat-saat yang cukup melegakan bagi pelajar yang selama ini kesulitan belajar jarak jauh. Kecuali teknis pengajaran, maka rintangan dalam belajar jarak jauh selama ini ada tiga: perangkat telepon pintar, kuota alias pulsa, dan sinyal. Yang terakhir ini bisa terjadi di daerah-daerah pelosok.

Persoalan sinyal mungkin tak terlalu soal di Jawa Barat. Beda dengan pelosok-pelosok provinsi lain. Sejumlah pelajar bahkan terpaksa jalan kaki berkilometer untuk mendapatkan sinyal. Maka, kondisi ini tentu patut kita syukuri.

Rasa syukur lainnya adalah atas teratasinya masalah pulsa/kuota dan telepon genggam, telepon pintar, atau tablet. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengalihkan anggaran Program Organisasi Penggerak (POP) menjadi bantuan pulsa untuk pelajar. Ada bantuan Rp150 ribu perbulan.

Selalu ada jalan keluar di tengah kesulitan. Di Jawa Barat, ketika siswa mengeluh kesulitan gawai, pada akhirnya ternyata ketemu jalan keluar: meminjamkan tablet-tablet milik sekolah kepada pelajar. Mereka adalah yang berasal dari keluarga prasejahtera. Jumlahnya cukup banyak. Di tingkat SMA yang menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Jawa Barat, jumlahnya 38 ribu.

Tentu saja belum cukup. Itu baru untuk level SMA. Kita belum mendengar jalan keluar dinas-dinas kabupaten/kota untuk pelajar SD sampai SMP. Kita pahami, keluhannya hampir serupa. Tiga titik itu.

Maka, kita sarankan agar Dinas Pendidikan kabupaten/kota mendorong sekolah-sekolah, mungkin bisa memanfaatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mengadakan telepon pintar. Itu yang mendesak saat ini. Ketimbang dana tak terpakai, atau digunakan untuk aktivitas tak bermanfaat, langkah membantu pelajar dari keluarga prasejahtera ini jauh lebih masuk akal.

Langkah ini kita dukung, jauh lebih kita support, ketimbang rencana semula menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka. Sejak awal, kita tak setuju KBM tatap muka dalam kondisi dan situasi seperti sekarang.

Sekadar gambaran, banyak daerah-daerah yang sudah melakukan KBM tatap muka, kini membatalkan kembali. Sebab, virus corona sudah mulai menjalar ke sekolah, menginfeksi guru dan siswa. Ini yang kita khawatirkan jauh-jauh hari, bahkan termasuk sekolah di zona hijau sekalipun.

Maka, langkah yang diambil Disdik Jabar, adalah jalan keluar terbaik. Siswa bisa belajar lebih tenang di rumah, sekolah-sekolah terhindar dari klaster-klaster baru penyebaran virus corona. (*)