Tiap Hari Panen, Purwakarta Selalu Surplus Beras

Tiap Hari Panen, Purwakarta Selalu Surplus Beras

INILAH, Purwakarta – Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, mengklaim hasil produksi padi setiap tahunnya kerap melebihi target yang ditentukan. Dengan begitu, ketahanan pangan di wilayah ini masih tetap terjaga.

Surplusnya hasil produksi pertanian ini bukan tanpa perjuangan. Salah satu yang menjadi indikatornya, karena sejak beberapa tahun ini petani di wilayah tersebut tak kenal lagi dengan yang namanya musim tanam.

Jadi, para petani di Purwakarta terus digenjot dalam hal peningkatan indeks pertanaman (IP). Dengan kata lain, jika biasanya dalam satu tahun hanya satu dan dua kali tanam, sekarang menjadi dua sampai tiga kali tanam dalam setahun.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan mengaku, pihaknya cukup berbangga hati dengan kondisi tersebut. Apalagi, dari tahun ke tahun produktivitas pertanian mengalami peningkatan. Sehingga, mampu memenuhi kebutuhan bahan pokok penduduk. Bahkan, ada sisa dan dipasok untuk kebutuhan pangan warga di Jabodetabek.

“Areal sawah kita memang tak seluas daerah tetangganya seperti Karawang dan Subang. Luas lahan baku pertanian di kita hanya sekitar 18.075 hektare. Meski demikian, hasil produksi petani ini selalu surplus,” ujar Agus saat berbincang dengan INILAH, Rabu (2/8/2020).

Selama ini, lanjut Agus, petani yang ada di wilayahnya terus didorong untuk segera tanam. Jadi, selama masih tersedia air untuk mengairi sawah, mereka harus terus produksi. Agus pun mengklaim, sejak tahun kemarin di Purwakarta tidak ada istilah tidak panen. Hampir tiap hari, petani di wilayah ini panen.

Agus menjelaskan, dari luas lahan baku sawah di Kabupaten Purwakarta, mampu menghasilkan padi 248 ribu ton gabah kering pungut (GKP). Dengan asumsi, rata-rata produksinya mencapai 6,2 ton GKP per hektare. Jadi, lahan yang panen itu mencapai 40 ribu hectare. Karena, setahun ada yang dua kali juga tiga kali.

Kemudian, dari padi panen itu dikonversikan ke padi giling (GKG), yakni 248 ribu ton dikalikan 0,85 (hitungan standar BPS) hasilnya jadi 210.800 ton gabah giling. Lalu, dari gabah giling (GKG) itu yang sebesar 210.800 ton dikalikan 0,65 (hitungan BPS) hasilnya jadi 137.020 ton beras. Sedangkan, jumlah penduduk Kabupaten Purwakarta mencapai 950.066 jiwa. Dari jumlah penduduk itu, kebutuhan beras selama setahun mencapai 109.257 ton. Dengan asumsi, kebutuhannya (hitungan maksimal) mencapai 115 kilogram per kapita per tahunnya.

“Sehingga, jumlah produksi yang mencapai 137.020 ton beras per tahun, dikurangi jumlah kebutuhan beras sebesar 109.257 ton per tahun. Sehingga ada sisa (surplus) mencapai 27.763 ton beras dalam setahun,” ujar Agus.

Tahun ini saja, sambungnya, dari Januari hingga Agustus yang sudah panen 32.088 hektare. Luasan yang sudah panen itu, dikalikan dengan rata-rata produksi 6,2 ton sama dengan 198.945 ton GKP. Kemudian, dikalikan lagi 0,85 (konversi GKP ke GKG) menjadi169.103 ton GKG.

Lalu, dikalikan lagi dengan 0,65 hasilnya 109.917 ton beras. Sehingga, jika sampai akhir Desember nanti tidak ada yang panen, sebenarnya produksi petani lokal ini sudah mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

Tapi kalau di sektor pertanian tidak demikian. Karena, pertanian kita terus di push, untuk memenuhi targetan swasembada beras serta penyediakan kecukupan beras. Dengan begitu, setiap lahan sawah dituntut untuk tetap produktif sepanjang masa. (Asep Mulyana)