Sikap Kami: Masih Mau Pilkada?

Sikap Kami: Masih Mau Pilkada?

TUAN dan puan, apakah pilkada serentak ini akan tetap dilanjutkan? Tidakkah tuan dan puan risau, khawatir, melihat fenomena yang terjadi pada penyelenggaraan kontestasi demokrasi kali ini?

Jika tuan dan puan tak juga khawatir, tengoklah data ini: ada 37 calon kepala daerah yang positif Covid-19. Itu data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Catat juga, itu baru dari 21 provinsi. Belum semuanya.

Darimana mereka tertular? Tentu banyak kemungkinannya. Tapi, jangan tuan dan puan coret salah satu kemungkinan ini: dari aktifitas politiknya. Mereka, terutama dari daerah, bolak-balik ke Jakarta untuk urusan rekomendasi partai. Bertemu banyak pihak. Tak paham, apakah orang yang ditemui, atau orang yang berpapasan di jalan, di penerbangan, sedang mengidap Covid-19. Sebab, saat ini kebanyakan yang muncul adalah pasien tanpa gejala.

Ketika pendaftaran pasangan bakal calon ke KPU, tuan dan puan lihat betapa banyak massa yang datang. Tuan dan puan hanya memberi peringatan sambil saling lempar tanggung jawab. Saling ngeles bahwa tuan dan puan tak bisa bertindak karena tak ada regulasinya. Kami melihat tuan dan puan betul-betul tak siap menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi ini.

Kami hanya ingin mengingatkan tuan dan puan: ini baru tahap awal. Baru pendaftaran. Kami melihat tuan dan puan pun sudah khawatir (tepatnya gagap). Karena tuan dan puan berpikir bahwa seluruh masyarakat negeri ini patuh dengan protokol yang kadang-kadang tuan dan puan pun kerap tak mematuhinya.

Tuan dan puan bayangkan, apa yang akan terjadi pada masa kampanye. Pada masa pencoblosan. Pada masa pengumuman pemenang pilkada. Kalau tuan dan puan tak siap dengan regulasi yang ketat, kami sarankan tuan dan puan berbesar hati saja: menunda pilkada ini. Dalam kondisi sekarang, itulah risiko terkecil yang harus kita hadapi.

Tidakkah tuan dan puan melihat juga kegalauan di wajah Presiden kita? Sampai kemarin, dalam cuitannya di akun Twitter-nya, Presiden menegaskan bahwa urusan kesehatan dan keselamatan rakyat ada di atas segala-galanya. Kami membaca, itu tingkat kekhawatiran yang tinggi mengingat Presiden pada masa sebelumnya pernah menyampaikan urusan kesehatan harus disetarakan (kira-kira begitu) dengan urusan ekonomi. Kini Presiden sudah mendulukan urusan kesehatan.

Tuan dan puan tak perlu malu, apalagi gengsi, menarik kembali keputusan menyelenggarakan pilkada 9 Desember 2020 ini. Kami, rakyat biasa, memakluminya. Sebagai rakyat, kami sangat pemaaf. Tentu bagi siapapun yang meminta maaf.

Pikirkanlah sekali lagi, tuan dan puan. Kecuali tuan dan puan bisa memastikan, pilkada akan berlangsung dengan protokol kesehatan yang ketat. Sesuatu yang tuan dan puan gagal wujudkan pada masa pendaftaran pasangan bakal calon. (*)