Pelaku Usaha Wisata di Bandung Selatan Optimistis Bangkit dari Keterpurukan

Pelaku Usaha Wisata di Bandung Selatan Optimistis Bangkit dari Keterpurukan
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Meski masih dalam masa pandemi Covid-19, animo masyarakat untuk berwisata ke objek wisata alam Bandung Selatan tetap tinggi. Kunjungan wisatawan pasca diberlakukannya masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ke kawasan Bandung Selatan, membuat para pelaku usaha jasa wisata optimistis menatap masa depan.

"Memang saat awal pandemi, kami tutup sama sekali tidak boleh ada pengunjung. Kami setelah ada arahan dari Dinas Pariwisata Kab Bandung, kami mulai buka kembali pada 20 Juni lalu, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Ternyata minat masyarakat sangat tinggi. Ini terlihat dari membludaknya kunjungan wisatawan, terutama saat akhir pekan. Bahkan penginapan kami sudah full booking sampai akhir tahun dan tahun depannya," kata Penanggung Jawab Unit Agrowisata PTPN VIII Sergius Windhia di Rancabali Tea Resort, Kamis (10/9/2020).

Pria yang akrab disapa Sergi ini mengatakan, pada 2020 ini pihaknya mempunyai target pendapatan sebesar Rp23 miliar. Namun, adanya pandemi virus corona yang terjadi sejak awal tahun ini, memaksa mereka untuk menutup tempat wisata yang berada di tengah-tengah perkebunan teh tersebut. Karena tak beroperasi sekitar lima bulan lamanya, nyaris membuat perusahaan yang berada dibawah BUMN PTPN VIII itu tak dapat memenuhi targetnya.

"Tapi masih untung selama kami tutup, semua karyawan masih bekerja tidak ada yang dirumahkan. Memang kami sempat khawatir target tidak tercapai, kemudian kami membuat target selama pandemi. Nah setelah dibuka kembali 20 Juni geliatnya mulai terlihat lagi, dan ternyata antusias masyarakat tetap tinggi. Sekarang ini bukan cuma target pandemi yang sudah tercapai, target yang semula pun hampir sama dengan target normal sekitar 80 persennya," ujarnya.

Sergi melanjutkan, objek wisata Rancabali Tea Resort ini menawarkan keasrian dan kesejukan suasana perkebunan teh Rancabali. Pegunungan yang hijau mengelilingi kawasan perkebunan teh sejauh mata memandang menjadi daya tarik bagi siapa saja yang datang ketempat ini. Pemandian air panas yang ada disetiap villa dan kolam renang, menjadi daya tarik objek wisata yang memiliki luas sekitar 3 hektar tersebut.

"Konsep wisata yang kami tawarkan adalah resort atau villa yang berada di tengah perkebunan teh milik kita sendiri. Kami juga menawarkan wisata edukasi proses produksi teh, mulai dari kebun hingga ke pabrik teh Rancabali," katanya.

Sergi menjelaskan, mempunyai konsep vila resort ini dilengkapi 15 bangunan berkapasitas total 78 orang. Dikarenakan tingginya okupansi hunian, pihaknya berencana melakukan pengembangan dengan menambah jumlah resort pada 2021 mendatang.

"Di sini kan semua resort rata-rata dua ruangan kamar. Ke depan kami ada pengembangan bikin penginapan dengan satu kamar, seperti kamar kamar hotel. Ini salah satu pengembangan usaha yang kami lakukan untuk memenuhi tingginya okupansi," ujarnya. (Dani R Nugraha)