Permintaan Kerajinan Bambu Meningkat di Tengah Pandemi

Permintaan Kerajinan Bambu Meningkat di Tengah Pandemi
Ilustrasi (antara)

INILAH, Bandung - Permintaan terhadap produk kerajinan bambu di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten cenderung meningkat di tengah pandemi Covid-19 sehingga dinilai mampu menyumbang pendapatan ekonomi keluarga.

"Kami hari ini tengah memproduksi kursi dan meja pesanan dari luar daerah," kata Madi (50), seorang perajin bambu warga Margajaya Cimarga Kabupaten Lebak, Jumat.

Mardi memproduksi kursi dan meja dari bambu karena didukung bahan baku melimpah dari perkebunan bambu di daerahnya,sedangkan sejak pandemi Covid-19 banyak permintaan dari Rangkasbitung dan sekitarnya.

"Biasanya sepekan melayani pesanan lima unit, namun sekarang mencapai 10 unit kursi dan meja," ujarnya.

Selama ini, masyarakat masih menyukai perabotan rumah tangga dari kerajinan bambu, karena harganya relatif murah juga kualitas cukup bagus dan bertahan lama. "Kami memproduksi kerajinan bambu itu sudah menjadikan andalan ekonomi keluarga," katanya .

Menurut dia, pengerjaan produksi mebel hanya diperlukan waktu tiga hari untuk satu unit kursi dan meja dengan melibatkan dua tenaga kerja. Adapun, harga mebel dari kerajinan bambu itu tergantung kualitas mulai Rp350.000 sampai Rp500.000 per unit.

Saat ini, kata dia, perajin bambu di wilayahnya mencapai puluhan unit usaha dan mereka kebanyakan melayani pelanggan konsumen dari luar daerah. "Kami memproduksi mebel dari bambu itu jika sudah ada pesanan dari konsumen," katanya.

Perajin bambu lainnya, Udin (55) warga Bojongmanik Kabupaten Lebak mengatakan memproduksi piring lidi, lampion, kipas angin, tampan untuk menyimpan makanan, gelas, tempat nasi (boboko), tempat ikan (sair), tas hingga tempat beras (nyiru).

Produk aneka kerajinan bambu itu dijual Rp25.000 sampai Rp100.000 dengan tujuan pemasaran ke wilayah Banten dan sekitarnya.

Selama ini, kata dia, permintaan pasar relatif tinggi di tengah pandemi Covid-19 hingga bisa menghasilkan omzet antara Rp8 juta sampai Rp10 juta/minggu.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak Dedi Rahmat mengatakan pemerintah daerah terus mengembangkan aneka kerajinan bambu karena menyumbang pendapatan ekonomi dan penyerapan lapangan pekerjaan.

Perajin bambu di Kabupaten Lebak tersebar di 28 kecamatan karena terdapat perkebunan bambu.

"Kami setiap tahun melakukan pembinaan dan bimbingan teknis kepada pelaku kerajinan aneka produk bambu agar memiliki kualitas dan bisa bersaing pasar," katanya. (antara)